
"Kami tidak menyangka kamu mengambil keputusan ini, Ram. Papa dan mama bangga dengan jalan pikiranmu yang sudah begitu dewasa dalam menyikapi keadaan." Mama Sari mengusap-usap bahu putranya bangga.
"Kak Rama yakin?" Andi yang terlihat tidak setuju dengan keputusan ini. Dia paham prinsip kakaknya yang anti dengan perjodohan.
"Andi!" Lagi-lagi mama Sari memberi penekanan pada putra bungsunya supaya tidak iku berbicara dulu. Andi pun menunduk kesal. Dia hanya tidak ingin kalau keputusan yang terbilang terpaksa ini membuat kakaknya menyesal di kemudian hari.
"Kamu sudah memikirkan ini dengan matang, Ram?" Papa Budi mengulangi pertanyaannya.
"Iya, Pa."
"Kamu tidak akan berubah pikiran bila nanti keluarga kita sudah mulai mengurusnya?"
"InsyaAllah, Pa." Rama sudah yakin.
Keputusan sudah diambil oleh Rama, keluarga dengan senang hati menerima itu. Andi yang merasa tidak yakin hanya bisa diam dan mengikuti apa yang dilakukan keluarganya.
Apapun yang terjadi Rama sudah memutuskan akan menikahi gadis yang bernama Nana itu. Hanya satu kemungkinan yang bisa mencegahnya. Pernikahan Rama ini tidak akan terjadi bila ternyata Nana itu sudah menikah lebih dulu.
Hari kapan berkunjung ke rumah Nana telah ditentutan. Yakni tepat enam hari setelah keputusan Rama kemarin. Mama Sari dan papa Budi sengaja memberi waktu agak lama agar Rama benar-benar memikirkan keputusannya ini. Walau bagaimana pun, mereka juga tidak ingin kalau putranya nanti menyesal.
Malam ini, setelah selesai shalat maghrib keluarga Hartawijaya berencana untuk berkunjung ke rumah keluarga Nana. Sudah lama sekali, mama Sari dan Papa Budi hanya memanfaatkan alamat sesuai dengan keterangan dari Pak Gatot, sopir pribadi mereka. Mereka memang belum pernah berkunjung ke rumah pasangan suami istri penolong omanya itu. Waktu itu oma mendadak kritis hingga akhirnya meninggal dunia sehingga mereka belum sempat berkunjung.
Diantar oleh sopir pribadi, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Mama Sari dan papa Budi duduk di kursi tengah, tangan mereka saling bertaut, seperti masih belum percaya dengan apa yang mereka lakukan ini. Andi dan Rama yang duduk di kursi belakang hanya diam membisu. Rama tengah mengatur hatinya. Sepanjang perjalanan Rama hanya menunduk.
Setelah beberapa saat tiba-tiba mobil berhenti. Ternyata mobil sudah sampai di halaman rumah Nana, yang tak lain adalah rumah Raina yang beberapa kali Rama kunjungi. Rama menegakkan kepalanya dan melihat sekeliling.
"Ma ...," suara Rama terdengar begitu bergetar.
"Ada apa, Sayang? kita sudah sampai. Jangan bilang kalau kamu ingin membatalkan ini semua," kata mama Sari tegas.
"Tapi, Ma. Ini ...."Rama masih berputar pada kursinya. Mengamati dengan saksama keadaan di sekitarnya. Andi heran dengan tingkah kakaknya sekarang.
__ADS_1
"Kamu harus bertanggung jawab, Ram! Bukan saatnya main-main. Ayo turun!" kata papa Budi seraya membuka pintu mobilnya. Turun dari mobil diikuti istrinya.
" Ayo, Kak. Jangan buat mama dan papa marah lagi!" Andi menarik kakaknya untuk ikut turun.
Turun dari mobil Rama masih mematung. Bahkan dia memukul-mukul kepalanya sendiri. Memastikan bahwa apa yang ada di depannya ini bukan mimpi.
"Sudah tidak ada pilihan lain, ayo!" Papa Budi dengan sigap menggandeng tangan istrinya tidak mau membuang-buang waktu. Mereka mendekat pada pintu rumah Nana kemudian mengetok dan mengucap salam. Andi lagi-lagi menarik kakaknya untuk mengikuti.
"Wa'alaikum salam," sahut perempuan dari dalam rumah menjawab salam.
Tak lama kemudian perempuan paruh baya itu membukakan pintu. Dia kaget begitu mengetahui siapa yang tengah bertamu ke rumahnya malam-malam begini.
"Ya Allah.. Pak Budi, Bu Sari. Mari silahkan masuk!" Perempuan itu melirik dan tersenyum hangat pasa Rama dan Andi juga. Mempersilahkan tamunya untuk masuk rumah dengan sopan. Rama kikuk sendiri, mengusap-usap tengkuknya. Mukanya juga pucat pasi menanggapi keadaan.
"Terima kasih, Bu." Mama Sari beserta keluarganya masuk rumah dan duduk di kursi ruang tamu.
"Sebentar saya panggilkan suami saya." Bunda Suci masuk ke dalam. Tak lama kemudian kembali ke ruang tamu bersama ayah Tono.
"Kami yang sangat berterima kasih pada Bapak dan Ibu karena menerima kami dengan sangat baik," kata papa Budi tersenyum.
"Ya Allah,, jadi kamu anaknya Pak Budi to? om baru tahu," kata Ayah Tono ketika melihat Rama yang sudah lama beliau kenal.
"Jadi Bapak sudah mengenal putra sulung saya?" tanya mama Sari.
"Ayah sudah mengenal Rama? bukankah selama ini ayah selalu tidak di rumah ketika Nak Rama kesini?" ucap bunda Suci membuat semuanya terkejut.
"Maksud Bunda bagaimana?" Ayah Tono mulai bingung.
"Tunggu! ini maksudnya bagaimana, tolong dijelaskan, kami benar-benar tidak paham dengan ini semua." Papa Budi meminta penjelasan.
"Jadi gini, selama ini putra Bapak ini selalu meminta tolong pada toko kami untuk menyalurkan bantuan sosialnya pada beberapa panti asuhan di kota. Dan itu Nak Rama lakukan setiap awal bulan. Saya bangga dengan putra Bapak ini," Ayah Tono menjelaskan dengan antusias. Selama ini beliau sangat kagum dengan Rama yang rasa pedulinya dengan sesama sangat tinggi. Ayah Tono kemudian melirik istrinya. "Dan maksud Bunda tadi apa?"
__ADS_1
"Ini Rama, Yah." Bunda Suci sampai bingung mau menjelaskan dari mana.
"Iya. Ayah juga bilang kan kalau ini Rama."
"Rama ... Rama yang kemarin-kemarin selalu berhubungan dengan Na." Ayah Tono mengernyitkan dahinya. Menyadari kalau keasyikan ngobrol hingga belum membuatkan minuman untuk tamunya, bunda Suci permisi ke dapur sebentar. Sedangkan Rama hanya diam membisu.
"Sayang, jadi kamu sudah mengenal putri Pak Tono?" tanya mama Sari pada putranya yang kini duduk di sampingnya.
Rama mengangguk. "Iya, Ma. Rama sangat mengenalnya." Mama Sari melotot mendengar ini.
"Kenapa kamu diam saja? tidak cerita sama papa maupun mama?"
"Rama juga baru tahu ini tadi kalau ternyata Raina itu Nana," suara Rama lirih terdengar.
"APA??"
Sedangkan ayah Tono masih belum mengerti dengan ini semua.
" Jadi ... Ini Rama, Om. Rama yang bukan hanya Om kenal tapi Rama yang juga yang dikenal oleh Raina."
"Maksudnya?"
"Rama yang dengan bodohnya menyeret Raina masuk ke dalam masalah Rama, memaksanya menjadi pacar pura-pura Rama."
"Ya Allah." Ayah Tono menutup mulutnya kaget.
"Maafkan Rama, Om." Rama menunduk kembali.
Bunda Suci datang dari arah dapur membawa satu nampan berisi beberapa gelas minuman dan dua toples kue kering buatannya sendiri. Beliau meletakkan gelas itu di meja tepat di depan tamunya satu persatu.
"Silahkan ... Silahkan diminum dan dimakan kuenya!" ucap beliau sopan kemudian beliau ikut duduk kembali di samping suaminya.
__ADS_1