
Rama beranjak lalu mengambil hp dalam saku celananya yang belum berhenti berdering. Raina kemudian duduk tersipu sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Andi? Sial, ngapain sih ni anak. Ganggu aja. Rama enggan mengangkat telepon adiknya yang mengganggu itu.
"Siapa, Kak?" tanya Raina karena suaminya tidak segera mengangkat telepon.
"Andi." Tampak jelas raut kesal pada ekspresi dan nada bicara Rama.
"Angkat dong, Kak! Siapa tahu penting."
"Halo, Assalamu'alaikum," salam Rama dengan nada malas saat mengangkat telepon dari adiknya.
"Wa'alaikum salam, eh pengantin baru lemes amat," kata Andi dari seberang, seperti biasa iseng pada kakaknya. Sayangnya saat ini bukan waktu yang tepat.
"Gak usah basa basi, cepet ngomong ada apa?!" Rama sudah tidak sabar.
"Kakak kenapa sih, galak amat. Ini mama yang suruh nanyain, Kak Rama pulang ke rumah atau ke rumah kak Raina nanti?"
"Belum tahu, nanti gue kabarin. Masih ngantuk, mau tidur."
"Gila, ni sudah siang tau. Mentang-mentang pengantin baru."
"Kenapa? Suka-suka gue lhah." Rama langsung menutup teleponnya.
Dasar pengganggu. Gue jadi canggung lagi kan. Kata Rama seraya menatap istrinya yang duduk di sofa.
Rama mulai mendekat, duduk di samping istrinya. Mengusap-usap telapak tangannya, bingung mau berkata apa.
"E ... Kita gak pulang sekarang?" tanya Raina pada Rama.
"Masih terlalu pagi." Padahal sinar matahari sudah mulai menyinari bumi. Jam-jam mulai persiapan aktifitas untuk seluruh penduduk bumi pada umumnya.
__ADS_1
"Bukankah Kak Rama harus ke kantor?" Basa-basi mencairkan suasana, pertanyaan yang sebenarnya sudah diketahui jawabannya.
"Papa memberiku ijin untuk istirahat hari ini, supaya bisa nemenin Lo." Rama terseyum kemudian mengusap puncak kepala Raina.
"Kita disini dulu gak pa pa kan?" tanya Rama seraya menatap Raina, tak sedetik pun mengalihkan pandangannya.
"Terserah Kak Rama," Jawab Raina kemudian menunduk tak sanggup bersitatap dengan suaminya. Pipinya sudah mulai memerah. Rama justru tersenyum senang melihat ekspresi muka merona istrinya.
Pelan Rama meraih dagu Raina, mengangkatnya membimbing Raina untuk saling pandang dengan dirinya. Suasana begitu hening, hanya detak jam dinding yang terdengar beraturan. Rama menatap lekat wajah cantik istrinya itu. Lama kelamaan sorot matanya mulai berubah, seperti menemukan mangsa yang sudah di depan mata, siap menerkamnya. Tatapan Rama fokus pada bibir ranum yang kini sudah menjadi miliknya. Raina hanya terdiam, rasa gugup membuat tubuhnya membeku.
Seperti tidak mau kehilangan kesempatan, pelan Rama mendekatkan wajahnya pada Raina. Raina menutup mata, membiarkan apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Degup jantung Raina semakin menjadi, pelan bibir Rama hangat menyentuh bibir indahnya.
Perpaduan itu berlangsung beberapa detik saja. Seperti menyadari sesuatu, Raina membuka mata kemudian pelan melepas ciuman itu. Tiba-tiba dia beranjak dari duduknya. Rama meraih tangan mulus istrinya seperti berkata jangan pergi. Namun Raina tetap melepasnya.
"Ma ... Maaf, Kak. Raina ke toilet dulu." Dengan kepala tertunduk setengah berlari Raina menuju kamar mandi.
Rama terdiam, disaat rasa inginnya sudah mulai memuncak ternyata situasi harus membuatnya ekstra bersabar untuk kali ini. Bahkan untuk sesuatu yang sudah menjadi haknya. Dia memukul keras pinggiran sofa menunjukkan betapa besar rasa kecewanya. Tapi bisa apa, Rama tetap mencoba memahami keadaan. Bagaimana pun dia harus belajar memahami istrinya.
Tak berapa lama Raina keluar dari kamar mandi. Ternyata suaminya sudah mengganti pakaiannya. Terlihat siap untuk keluar kamar.
"Kita pulang sekarang aja," kata Rama begitu pintu kamar mandi terbuka dan Raina keluar.
"Sekarang?" Raina memastikan, sedikit kaget karena Rama sebelumnya bilang bahwa bisa istirahat dulu di hotel ini dan tiba-tiba sekarang mengajak pulang.
"Iya, nanti istirahat di rumah lagi juga bisa," jawab Rama datar tanpa memandang Raina.
"Baiklah." Raina kemudian kembali lagi ke kamar mandi untuk ganti baju. Setelah itu dia berkemas, memasukkan barang miliknya dan milik suaminya ke dalam koper seperti sebelumnya. Rama menunggu sambil duduk di sofa, sibuk dengan ponselnya. Raina berkali-kali melirik ke arah suaminya, namun Rama ternyata hanya fokus dengan smartphone yang ada pada genggamannya.
"Kita nanti pulang kemana, Kak?" tanya Raina karena melihat Rama hanya diam saja dari tadi.
"Ke rumah mama aja dulu, ni gue baru kasih kabar pada Andi."
__ADS_1
Setelah semua beres akhirnya Rama dan Raina pulang. Dalam perjalanan Rama lebih banyak diam, ada rasa kecewa pada dirinya terhadap Raina yang ternyata mampu merusak suasana hatinya.
"Kak Rama sakit?" tanya Raina pelan, melihat Rama yang tidak seperti biasanya tentu membuat Raina bertanya-tanya.
"Enggak," jawab Rama singkat seraya tetap fokus dengan kemudinya.
Sesampainya di rumah, Rama masih banyak diam. Mobil langsung masuk ke dalam garasi. Rama mengambil koper dalam bagasi kemudian membawanya langsung ke kamar, Raina mengikuti di belakang. Rumah terlihat sepi, papa Budi tentu sudah berangkat ke kantor, Andi juga baru saja berangkat ke kampus, sedangkan mama Sari kata salah satu asisten rumah tangga juga baru saja keluar.
"Mama sudah menyiapkan beberapa keperluan Lo, coba cek di lemari itu!" kata Rama menunjuk salah satu lemari yang ada di dalam kamarnya. Raina kemudian membuka lemari itu. Benar saja, beberapa baju, keperluan make up dan beberapa keperluan lain sudah ditata rapi dalam lemari itu. Raina bersyukur memiliki mertua sebaik dan seperhatian mama Sari.
Tiba-tiba perut Raina bunyi. Muka Raina sudah memerah malu karena cacing dalam perutnya tidak bisa diajak kompromi. Mereka sengaja tidak makan di luar tadi karena mama Sari sudah memberi kabar bahwa pagi ini beliau masak cukup banyak.
"Sorry, Kak. Raina semalem gak bisa makan dengan baik saat di pesta."
"Ayo kita turun, bibi sudah nyiapin semuanya." Rama menggandeng Raina keluar kamar.
Meja makan besar dengan beberapa kursi yang melingkari, kali ini hanya ada dua insan yang akan makan bersama disini.
"Kak Rama mau pakek apa?" tanya Raina setelah menaruh nasi pada piring Rama, belajar melayani suaminya itu.
"Terserah Lo aja," jawab Rama pelan.
Seandainya kita menikah layaknya pasangan suami istri diluar sana, pasti sekarang kita masih sibuk di kamar, Rai. Rama menatap Raina, pikirannya masih kacau seputar rasa kecewanya tadi. Kalau bukan karena kasihan Raina sudah lapar, mungkin dia tidak akan makan pagi ini. Rasa kecewanya bahkan menghilangkan nafsu makannya.
Masih seperti mimpi, dulu Raina duduk di meja makan ini sebagai pacar pura-pura Rama. Sekarang duduk disini bersebelahan dengan Rama sebagai istri sahnya. Menantu keluarga Hartawijaya. Rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu, manusia diwajibkan berusaha dan berdoa, selebihnya pasrahkan semuanya pada sang maha pencipta.
***
Mohon maaf ya Kak, up nya belum bisa beraturan. Situasi di dunia nyata belum mendukung.
Selamat membaca (^_^)..
__ADS_1