
Dunia memang selalu berputar, begitu juga dengan roda
kehidupan. Kadang di atas kadang juga di bawah. Selama kita mau berusaha dan
berdoa, pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik. Entah kapan, dimana dan
bagaimana prosesnya kita harus percaya. Begitu juga pemikiran Raina selama ini,
berusaha menggapai impiannya tanpa membebani orangtuanya.
Dalam hal percintaan dia belum terlalu memikirkan. Masih
teringat jelas cinta monyetnya dikala kelas 2 SMA yang cukup menyita perhatian
hingga prestasi di kelas menurun. Membuat Raina menyesalinya hingga sekarang.
“Nanti sore kita jalan yuk, sepertinya sedang ada diskon
besar di gerai buku Mal AA,” ajak Gita pada dua sahabatnya yang sedang asyik
menghabiskan makanannya di kantin kampus.
“Sepertinya kalau nanti gue belum bisa, Git. Pulang kampus mau berkunjung ke rumah calon murid privat gue,” jawab Raina. “Eh bantu doa
ya, mudah-mudahan anaknya suka dan menyetujui gue ngajari dia,” pinta Raina
pada kedua sahabatnya.
“Oh hari ini jadi kesana, semoga lancar ya. Ya udah
ke Malnya besuk aja Git, gak enak kan kalau kita jalan tanpa Raina,” balas
Veris memahami keadaan.
“OK, kenapa gue bisa lupa ya. Hari ini kan Lo akan
melanjutkan perjuangan Lo, denger-denger upahnya lumayan. Siapa tau rejeki Lo, Rai.” Menepuk bahu Raina memberi semangat sahabatnya itu. “Tapi sepertinya
kali ini Lo harus ekstra, Rai. Kabarnya ni anak sedikit bandel. Pasang jurus
andalan ya!” lanjut Gita sambil tertawa.
Seperti itulah mereka, saling mendukung satu sama lain. Mereka
bertiga memang satu kelas dan sudah saling dekat selama ini, Gita dan Raina sudah bersahabat
sejak SMA. Bahkan mereka masuk ke universitas ini dengan berjuang bersama. Sama
sama mengandalkan jalur beasiswa prestasi.
Lain dengan Veris, mereka mengenal sahabatnya ini di awal
semester pertama. Veris termasuk salah satu mahasiswa dari keluarga
terpandang.Tapi sifatnya yang baik, tidak pernah memilih-milih teman membuat
mereka bertiga mudah akrab dan persahabatan mereka terjalin, bahkan semakin
erat sampai saat ini.
“Tapi Lo cantik Rai, biasanya remaja bandel kan sedikit
luluh kalau dengan guru yang cantik.” Veris menambahkan dengan penuh semangat.
“Lo ini.... “ Raina menyahut, mengerutkan dahinya.
Raina aslinya memang lebih cantik dibanding dengan dua sahabatnya, Tapi dalam segi penampilan jelas Veris yang terlihat lebih menarik, lebih modis.
Bener juga sih kata
mereka, aku harus hati-hati untuk kali ini. Dengan tawaran seperti itu
kelihatannya ni anak bukan anak sembarangan. Hufh.. Pokoknya jangan sampai
gagal. Raina mulai merencanakan apa yang harus diperbuat nanti.
__ADS_1
Akhirnya iseng membuka google untuk mencari info bagaimana
menakhlukkan remaja laki-laki usia SMA yang bandel. Selama ini murid les
privatnya memang hanya perempuan dan dengan mudah dia bisa mengatasinya.
Setelah jam kuliah habis, mereka pulang ke rumah
masing-masing. Menuju parkiran, setelah saling berpamitan mereka menuju
kendaraannya. Raina dan Gita dengan motor maticnya masing- masing dan Veris
dengan mobil merahnya.
Dua jam lagi Raina harus sampai di rumah calon murid lesnya,
padahal dia harus pulang dulu ke rumah, ada yang perlu diambil. Mengingat
jalanan kota yang sering macet, dengan sedikit terburu-buru Raina mengendarai
motornya menuju pintu keluar parkiran. Membenarkan posisi tasnya dengan tangan
kirinya. Sementara tangan kanannya masih memegang kemudi.
Bruukk..
Terdengar suara tabrakan, tidak terlalu keras sih tapi
membuat Raina terlonjak kaget sehingga dia terjatuh dari motornya. Masih
bersyukur, untung hanya lecet kecil dibagian sikunya. Melirik motornya juga
aman. Tapi dia melongo kaget setelah melihat bagian samping belakang mobil
yang dia tabrak. Terlihat jelas bekas tubrukan pada mobil keren itu. Raina
panik.
Ahhh, bagaimana ini..
Mobil super mahal.. Bagaimana ini, bagaimana kalau pemiliknya marah besar.. Ah pasti aku harus ganti rugi
***
Saat Raina sedikit menunduk melihat tasnya tanpa sadar
di depannya ada mobil mundur dari arah kanan, motor Raina sudah terlambat
menghindar, spontan menabrak bagian belakang mobil itu.
***
Pintu mobil itu terbuka, pemiliknya keluar, langsung melirik
ke bagian mobilnya yang tertabrak. Terlihat jelas raut muka marah di balik
ketampanannya. Perasaan Raina sudah tidak karuan. Mencoba berdiri, tangannya
mulai gemetar.
Dengan penampilan pemuda di depannya yang memakai stelan jas
rapi membuat Raina semakin percaya bahwa pemilik mobil ini memang bukan orang
sembarangan. Raina semakin lemas.
"Lo lihat! Punya mata gak sih?” Pemilik mobil
mengeluarkan nada kesalnya seraya menunjuk pada bagian mobil yang tertabrak tadi.
“Ma... Maaf Pak, maaf maaf, tidak sengaja.” Mengatupkan kedua
tangannya Raina menjawab dengan gemetar namun masih berusaha menunjukkan senyum
keramahannya. Sejenak pikirannya kacau, menyadari bahwa dirinya pada posisi
__ADS_1
yang salah. Bingung apa yang harus dia katakan.
“Sudah salah, tidak sopan lagi, Lo ingin menyembunyikan
wajah Lo di balik helm itu?” Nadanya terdengar semakin kesal.
Spontan Raina melepas helmnya, membiarkan rambut panjangnya
terurai indah. Masih dengan wajah menyesalnya. “Maaf Pak, saya akan mengganti kerusakan mobil Bapak nanti.. Janji!” Sambil mengangkat kedua jarinya, tersenyum
manis meyakinkan. Rasa percaya diri Raina terlihat mulai tumbuh.
Pemilik mobil diam, sesaat melirik penampilan sederhana
gadis di depannya itu. Terlihat siku tangan kiri Raina lecet berdarah. Darah terlihat mulai mengalir di lengan putihnya.
Mana mungkin Lo bisa
mengganti, sepertinya Lo bukan dari keluarga mampu. Lihat diri Lo! Darah sudah seperti itu masih sibuk dengan mobil orang. Apa dia mati rasa?? Jangan jangan dia bukan
perempuan normal. Bergumam dalam hati.
“Ya sudah, mungkin 3 juta cukup. Kalaupun kurang biar nanti gue tambah sendiri, sepertinya Lo tidak memiliki cukup uang,” ucap laki-laki
itu ketus membuat Raina terkejut juga kesal.
Ishh... Tampan sih,
tapi sayang sombong amat. Eh dia bilang berapa? 3 juta? Hanya lecet sedikit
masak habis 3 juta. Aaaa... Tabungankuu. Raina menangis dalam hati, Dia
merasa tidak ikhlas kalau harus mengeluarkan tabungannya sebanyak itu untuk hal
yang tidak sebanding dengan kerugian laki laki di hadapannya. Bukan kebiasaan
juga Raina meminta uang kepada orangtuanya, apalagi dalam situasi seperti ini.
Ya, jurus terakhir, mengandalkan uang tabungan.
“Uang tunai ya, lebih baik cas dan sekarang!” lanjut laki laki itu dengan santainya.
“Ah Pak, masak seperti ini harus 3 juta,“ merengek siapa
tahu dapat keringanan.
“Lo menawar?” liriknya dengan sorot mata yang semakin
menjengkelkan. Raina akhirnya memutuskan mengalah daripada situasi semakin
tidak nyaman.
“Tapi kalau untuk cas sekarang saya belum bawa Pak, dan
mohon maaf ini saya sedang terburu-buru, bisakah Bapak kasih kesempatan tidak hari ini?” Raina memohon karena tiba-tiba teringat dengan les privatnya. “Saya mohon Pak, hari ini saya betul-betul ada kepentingan mendesak dan harus segera
pergi."
Mengeluarkan KTP dari dompetnya dan memberikan kepada laki
laki pemilik mobil tersebut. “Ini sebagai jaminan Pak, dan mohon maaf minta
nomer HP Bapak ya. Nanti saya akan menghubungi Bapak,” ucap Raina tulus sambil
terlihat beberapa kali melirik jam di pergelangan tangannya.
Entah ada angin apa, Laki-laki dingin itu menerima KTP dan
memberikan kartu namanya pada Raina. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Raina
senang sekali, memasukkan kartu nama itu ke dalam tas. Tersenyum penuh syukur
dan mengucapkan banyak terima kasih lalu dia mendirikan motornya yang tadi
terguling kemudian berlalu dengan salam sopannya.
__ADS_1
Menatap Raina pergi, senyum tipis terlihat di bibir laki laki itu.
Gadis aneh, berani sekali dia.