Cinta Raina

Cinta Raina
Hari Minggu ( Part 1)


__ADS_3

Sudah jam setengah sembilan, hembusan angin malam menerpa kulit putih Raina. Dingin sudah mulai terasa. Sebotol air minum masih tersisa setengahnya, sedangkan camilan cuma berkurang sedikit. Raina beranjak dari duduknya. Memasukkan hp ke dalam kantong celananya karena kedua tangannya masing-masing membawa botol minum dan toples camilan. Kemudian dia kembali masuk rumah.


Ayah Tono dan bunda Suci ternyata masih asyik menikmati acara tv, Raina pamit langsung masuk ke kamarnya. Baru beberapa detik Raina menutup pintu kamarnya, hp dalam saku celananya berbunyi. Dengan sigap Raina langsung mengambil hp itu. Setelah dilihat, ternyata yang ditunggu sejak tadi siang yang menelepon. Dia langsung mengangkat telepon itu.


"Assalamu'alaikum," salam Raina membuka percakapan.


"Wa'alaikum salam. Sedang apa, Rai?"


"Baru aja masuk kamar ini," jawab Raina jujur.


Rama yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur spontan bangun ketika mendengar jawaban Raina.


"Memangnya dari mana? Habis malam mingguan?" sahut Rama cepat seraya melonggarkan dasi yang masih terikat sempurna di kerah kemejanya.


"Iya," jawab Raina asal kemudian duduk di kursi depan meja rias.


"Kemana? Sama siapa?"


"Kak Rama sendiri sedang apa ini?" bukannya menjawab pertanyaan Rama tapi Raina malah balik bertanya. Tentu saja ini membuat Rama kesal.


"Ini juga baru pulang," jawab Rama dengan malas.


"Dari mana?" Raina bertanya lagi.


"Malam mingguan."


"Kemana?" Sama seperti Rama, mendengar jawaban seperti itu ada sedikit rasa kesal pada diri Raina.


Rama diam tidak menjawab, hening seketika. Telepon masih tersambung namun baik Rama maupun Raina hanya diam, semua sibuk dengan asumsi masing-masing.


"Jadi tadi malam mingguan kemana? Sama siapa?" Akhirnya Rama mengalah, dia memang tidak bisa kalau harus kelamaan saling diam seperti itu.


"Kemana lagi, malam mingguan di kursi teras tadi. Ditemenin nyamuk. Memangnya Kak Rama, bisa malam mingguan seenaknya kemana saja dan dengan siapa saja." Terdengar jelas nada kesal Raina. Rama tertawa mendengar itu.


"Tuh kan, Kak Rama pasti puas sekarang. Menertawakan betapa menyedihkannya hidupku malam ini," tambah Raina semakin kesal.


Kak Rama menyebalkan.

__ADS_1


"Bukan begitu, Rai. Jadi Lo pikir tadi gue beneran habis jalan-jalan malam mingguan?"


"Memang begitu kan kenyataannya?" Belum selesai Rama berbicara Raina sudah menimpali, rasa kesalnya semakin memuncak.


"Rai... Nada bicara Lo kok seperti itu, Lo marah? Dengarkan gue dulu!" Rama mulai mengerti situasinya, dia tahu Raina sekarang sedang kesal. "Gue memang baru pulang, tadi papa ngajak lembur. Ada kerjaan penting yang harus diselesaikan hari ini juga," pelan Rama menjelaskan.


"O...," sahut Raina pura-pura cuek seperti biasanya.


Aaa... Gue salah ya. Jadi Kak Rama lembur, Maafin Raina sudah berfikir macem-macem.


"Lo pasti sudah mikir aneh-aneh kan?" tebak Rama.


"Enggak. Sudah makan belum?" Raina sengaja mengalihkan pembicaraan untuk menutupi apa yang sedang dia rasakan.


"Sudah, tadi delevery. Habis maghrib makan bareng-bareng di kantor."


"Ya sudah.. Cepet mandi, shalat terus istirahat!" kata Raina lembut.


"Siap, Bos! Gue mandi dulu ya. Assalamu'alaikum." Raina pun tersenyum geli mendengar kalimat Rama ini.


"Wa'alaikum salam."


Hem? Thanks, buat apa? Kata Raina dalam hati diikuti senyum di bibirnya yang terkembang sempurna.


Raina kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia merasa lega, ternyata Rama baru bisa menghubungi dirinya karena ada kesibukan di kantor. Raina merasa malu karena tadi sempat berfikir yang tidak-tidak.


***


Minggu pagi, meskipun tidak kuliah Raina tidak pernah bangun kesiangan. Selesai melaksanakan kewajibannya dia kemudian keluar dari kamarnya. Ternyata bunda Suci juga baru keluar dari kamarnya. Sedangkan ayah Tono justru belum terlihat.


"Pagi, Sayang," sapa bunda Suci ketika melihat Raina.


"Pagi juga, Bunda. Tumben Bunda baru bangun." Raina heran karena biasanya jam segini bundanya itu sudah sibuk memasak di dapur.


"Iya, Na. Kita sarapan gado-gado aja ya? Ni bunda mau beli ke gang sebelah sekalian belanja sayur."


"Terserah bunda aja, gado-gado juga enak. Raina mau menyiram bunga dulu."

__ADS_1


Matahari mulai terbit di ujung timur, Raina pagi ini menyirami tanaman yang ada di halaman rumahnya sambil bersenandung ria. Menunjukkan perasaannya yang tengah merekah seindah bunga-bunga yang ada di depannya. Semalam setelah menutup telepon dari Rama, dia langsung tidur. Tidurnya pun sangat nyinyak.


Setelah bunda Suci pulang, Raina bersama kedua orangtuanya menikmati sarapan gado-gadonya bersama. Selesai sarapan ayah Tono seperti biasa sudah siap untuk pergi ke tokonya, karena tidak ada acara rencananya nanti Raina setelah mandi juga akan menyusul ayahnya itu.


Belum beranjak dari meja makan, terdengar suara mobil masuk halaman rumah Raina. Siapa yang pagi-pagi sudah bertamu? Ayah Tono langsung bangkit dari duduknya untuk melihat ke depan karena putri dan istrinya masih membereskan meja makan.


"Oh Nak Rama," ucap ayah Tono tersenyum begitu membuka pintu dan melihat ternyata calon menantunya yang datang.


"Assalamu'alaikum. Pagi, Om," salam Rama seraya mendekat dan mencium tangan ayahnya Raina itu.


"Wa'alaikum salam. Ayo Ram, silahkan masuk!"


Ayah Tono segera masuk rumah dan diikuti oleh Rama dibelakangnya. Rama pun dipersilahkan duduk di kursi ruang tamu. Kemudian mereka berbincang dengan akrabnya. Saling menanyakan kabar keluarga setelah itu Rama menyampaikan maksud kedatangannya pagi ini.


"Siapa, Yah?" suara Raina dari dalam dan dia menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Deg, dia kaget setelah tahu ternyata ada Rama dengan penampilan santainya tersenyum begitu manis melihat Raina datang.


"Kak Rama." Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur terlihat, Raina langsung mendekat dan mencium tangan pria tampan itu. Ayah Tono tersenyum melihatnya.


"Ayo duduk sini dulu, Na!" kata ayah Tono seraya menepuk kursi kosong di sebelah beliau. Raina pun menurut. Kemudian beliau menyampaikan maksud kedatangan Rama.


"Tapi, Yah," kata Raina menanggapi.


"Gak pa pa, ayah ngijinin. Yang penting pulangnya gak boleh malam-malam," ucap Ayah Tono seraya melirik Rama. Rama pun mengangguk memahami apa yang disampaikan oleh ayah Tono itu.


"Kamu mandi dan siap-siap sana! Biar bundamu yang bikin minum untuk Nak Rama," tambah beliau.


Mendengar kata-kata ayahnya seperti itu Raina pun akhirnya tidak bisa membantah. Dia bangkit dari duduknya dan masuk ke kamarnya karena pagi ini dia memang belum mandi.


Bisa-bisanya Kak Rama seberani ini, dia malah ijin ke ayah duluan tanpa memberi tahu gue sebelumnya.


Karena sudah waktunya buka toko dan karyawan pasti sudah menunggu, akhirnya ayah Tono pamit berangkat ke toko dan meninggalkan Rama yang sekarang sudah ditemani oleh bunda Suci. Menunggu Raina yang sudah setengah jam belum keluar dari kamarnya.


***


Berikut gambaran visual senyum manis Rama yang melelehkan hati Raina.


Hanya sebagai gambaran ya, Kak (^_^)

__ADS_1



__ADS_2