
***
Di ruang makan
Raina dan orang tuanya kini duduk di kursi meja makan. Memulai diskusi karena keputusan harus diambil malam ini juga.
"Bagaimana menurutmu, Na?" orang pertama yang harus dimintai pendapat memanglah Raina. Dia yang terlibat langsung dengan ini semua.
"Maksud Ayah?" Raina spontan menjawab. Raina tahu selama ini ayah Tono maupun bunda Suci sama sekali belum pernah menyinggung masalah pernikahan. Orangtua Raina paham betul bahwa untuk saat ini yang menjadi prioritas utama Raina adalah pendidikan. Merasa masih muda, Raina memang masih akan fokus dengan kuliahnya.
"Memang semua ini terasa aneh, banyak kejadian-kejadian yang seperti tidak masuk akal. Mulai dari ketidaktahuan keluarga Hartawijaya bahwa Nana itu sebenarnya Raina. Rama juga begitu. Nak Rama malah tidak menyadari telah menunjuk Raina sebagai pacar pura-puranya untuk menghindari perjodohan dengan Nana," ayah Tono tersenyum.
"Ayahmu juga. Ayah juga baru sadar bahwa pengusaha muda tampan yang sering beliau banggakan, yang selalu meminta bantuan pada toko kita untuk menyalurkan bantuan sosialnya pada panti-panti itu ternyata Rama ini," bunda Suci menambahkan. Ada rasa bangga pada beliau terhadap sikap Rama.
"Ha?" Raina kaget.
"Apakah menurutmu semua ini hanya kebetulan?" ayah Tono lagi-lagi membuat Raina bingung.
"Allah secara tidak langsung telah mengirim kamu pada keluarga Hartawijaya. Bukan hanya sebagai guru les privat Andi tapi juga sebagai pacar pura-pura Rama. Dengan itu keluarga mereka jadi tahu sisi baik dari kamu. Dan bukankah selama ini mereka menerimamu dan memperlakukanmu dengan baik. Bahkan saat drama percintaan kalian terungkap, bu Sari dengan bijaksana memaafkan kalian." Bunda Suci hanya bisa mengangguk membenarkan apa yang disampaikan suaminya.
"Dan lagi. Allah telah memilih ayah sebagai perantara sedekah Rama selama ini. Ayah sangat bangga pada dia, meskipun masih muda dia sangat peduli dengan sesama. Ayah mengagumi sisi baik Rama ini."
Ayah Tono menatap mata Raina lekat. "Jawab dengan jujur, Na! apakah tidak ada sedikitpun rasa nyaman yang kamu rasakan saat bersama Rama?"
Raina hanya terdiam. Namun dibalik tatapan Raina, ayah Tono sudah bisa menebak. Mata memang tidak bisa berbohong. Lagi pula ayah Tono sangat mengenal putrinya ini.
"Jawab, Sayang!" ucap bunda Suci yang melihat putrinya masih enggan menjawab.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu tolong sampaikan pada ayah dan bunda, apa yang kamu inginkan?" bunda Suci bertanya kembali.
Setelah berfikir, akhirnya Raina mengambil keputusan. Bagaimana pun dia tidak ingin mempersulit posisi ayah dan bundanya yang harus segera memberi jawaban pada keluarga Hartawijaya.
"Na ... Na akan mencoba menerima apa pun keputusan yang Ayah dan Bunda pilih," jawab Raina lirih.
"Kamu serius? kamu tidak akan menyesal?" ayah Tono meyakinkan.
"InsyaAllah Raina ikhlas. Selama ini apapun yang Ayah dan Bunda berikan selalu yang terbaik buat Raina."
Dag dig dug perasaan Raina ketika ayahnya menggandeng dirinya untuk kembali ke ruang tamu, dia tidak bisa menebak keputusan apa yang nanti akan ayahnya pilih. Menerima atau menolak.
***
Bunda Suci mengambilkan tisu dari ruang makan dan memberikannya pada papa Budi supaya beliau bisa mengusap air mata istrinya yang tengah menangis dalam pelukannya.
Papa Budi mengusap air mata istrinya dengan lembut.
Ayah.. Jadi sebenarnya Ayah mau menerima atau menolak? kenapa berbelit begini. Jantung Raina sudah berdebar tidak karuan menunggu kepastian jawaban, Ayah. Raina.
"Iya Om, saya rasa semua orang seperti itu. Tidak ada yang sempurna. Semua pasti lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Rama pun demikian. Seandainya kami berjodoh ...," kata-kata Rama terpotong kemudian melirik Raina sekilas, Raina yang dari tadi memperhatikan Rama berbicara dengan saksama kini menunduk malu setelah mata keduanya bertemu. "Kami akan berusaha saling melengkapi,Om. InsyaAllah."
Kedua pasang orangtua terlihat tersenyum. Setiap jawaban yang diberikan oleh Rama memang terdengar memuaskan.
"Pertemuan Rama dengan Na yang tidak sengaja, kesempatan Na memberi les pada Andi atau bahkan pertemuan saya sendiri dengan Nak Rama. Apakah ini sebuah kebetulan? menurut saya semuanya sudah direncanakan oleh Allah. Jadi setelah kami berunding tadi dan dilengkapi dengan jawaban Nak Rama, Keluarga kami menerima perjodohan ini."
"Alhamdulillah," ucap syukur dari keluarga Hartawijaya kompak. Hanya Rama yang terlihat malu-malu mengatakan itu. Raina pun tersenyum tipis mendengat itu.
__ADS_1
"Terimakasih, Pak. Kami sangat bersyukur akhirnya perjodohan ini bisa terlaksana. Saya yakin Almarhumah mama saya juga tengah berbahagia saat ini. Semoga keputusan ini yang terbaik buat keluarga kita. Khususnya buat Rama dan Raina."
"Aamiin."
Malam ini suasana yang semula tegang menjadi sangat menyenangkan. Obrolan-obrolan kecil seputar kelanjutan dari keputusan tadi juga tercipta. Mengingat umur Rama yang sudah matang, mama Sari mengusulkan agar pernikahan bisa dilakukan secepatnya. Namun Raina meminta agar pernikahannya dilaksanakan setelah dia lulus nanti.
"Rai, kalau nuggu kamu lulus berarti satu tahun lagi dong, sekarang kamu kan masih mulai semester tujuh?" mama Sari terlihat belum bisa menerima.
"InsyaAllah Raina hanya perlu tujuh semester, Tante. Raina akan berusaha. Mudah-mudahan semua lancar dan bisa lulus akhir semester ini." Raina meyakinkan.
"Tante sampai lupa kalau kamu mahasiswa cerdas. Okelah.. Demi kelancaran kuliahmu, dan semoga targetmu lulus dalam tujuh semester tercapai, Tante mengalah. Setelah lulus langsung menikah,"kata beliau antusias. Rama hanya tersenyum senyum melihat keceriaan mamanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Keluarga Hartawijaya berpamitan. Ayah Tono, bunda Suci dan Raina mengantar sampai depan rumah.
Belum sampai masuk mobil ternyata Rama ijin mau ke toilet sebentar. Bunda Suci menyuruh Raina untuk mengantarnya. Raina terpaksa, berjalan menunduk mengikuti Rama yang lebih dulu masuk rumah. Baru sampai di ruang tengah tiba-tiba Rama berhenti.
"Kenapa Kak Rama berhenti? Kak Rama gak lupa kan toiletnya dimana?" tanya Raina polos.
Rama membalikkan badannya, kini mereka saling berhadapan.
"Bagaimana kabar Lo?" Rama bertanya.
"Ya Sudah, kalau gak jadi ke toilet kita kembali ke depan!" Raina langsung memutar tubuhnya, belum sampai melangkah ternyata tangan Rama meraih tangannya. Raina melotot, kembali menghadap Rama.
"Kak Rama jangan cari-cari kesempatan ya!" Raina mendengus kesal, melepas tangannya dari genggaman tangan Rama.
"Lo gak berubah ya, masih aja judes. Padahal cuma mau tanya bagaimana kabar Lo. Tadi kan kita gak ada waktu ngobrol bersama. Ternyata percuma gue cari-cari kesempatan seperti ini," ucap Rama kemudian berlalu meninggalkan Raina begitu saja.
__ADS_1
Apa?? gue gak salah dengerkan?
Selama menuju ke halaman, Rama hanya tersenyum. Jujur, hanya dengan melihat sikap Raina seperti tadi saja rasa kangennya kini sudah sedikit terobati.