Cinta Raina

Cinta Raina
Dalam Pelukan


__ADS_3

"Andi juga setuju, sepertinya akan sangat menggemaskan kalau di rumah ini ada bayi." Andi kemudian tertawa sendiri membayangkan bila dia memiliki keponakan. Pulang kampus ada bayi lucu yang bisa digoda, digendong dan mungkin akan ngompol saat di dalam gendongannya. Dirinya akan menjadi om tampan kesayangan. Ah pasti hari-harinya akan menyenangkan.


"Ikut ikutan aja ni bocah," celetuk Rama merusak suasana hati adiknya.


"Kakak ini masih saja gitu, gue dah cukup gede ya sekarang. Sudah mahasiswa. Masih aja dikatain bocah! Hufh ... Menyebalkan." Andi mendengus kesal.


"Iya, sekarang sudah besar. Makanya sekarang sering anter jemput cewek kan kalau ke kampus. Dan ceweknya beda-beda terus." Rama mencibir.


"Apaan sih, Kak. Kapan? Fitnah itu." Andi mengunyah makanannya dengan kasar.


"Itu yang kemarin, berambut pendek kan? Dan seminggu yang lalu pas ketemu kakak di kafe rambutnya panjang."


"Apaan sih, itu kan ..." Belum Andi melanjutkan bantahannya namun sudah dipotong oleh mama Sari.


"Sudah-sudah! Kalian ini. Malu sama Bu Suci dan Pak Tono."


Rama kemudian mengusap-usap dahinya sambil tertawa garing, menyadari bahwa situasi makan malam kali ini berbeda dengan biasanya.


Semua yang ada di dalam ruang makan jadi tertawa melihat kedua saudara kandung ini. Mereka memang begitu, masalah sikap atau obrolan memang tidak pernah akur. Sering saling mengolok, namun sebenarnya mereka saling menyayangi dan mendukung satu sama lain.


"Maafkan Rama dan Andi ya Bu, Pak." Papa Budi menatap bunda Suci dan ayah Tono bergantian.


"Tidak apa-apa, Pak. Malah menyenangkan suasana seperti ini. Jadi inget jaman muda dulu." Ayah Tono tersenyum.


"Betul, suasana seperti ini yang membuat rumah terasa hidup. Kalau tidak ada anak-anak rasanya begitu sepi." Bunda Suci berkata selayaknya suasana rumahnya sekarang yang tanpa Raina disana.


"Eh iya, bagaimana tadi? Kalian sudah mengecek rumahnya?" tanya mama Sari pada Rama dan Raina.

__ADS_1


"Sudah, Ma. Alhamdulillah semua sudah beres,sudah siap ditempati. Kata Kak Rama akhir pekan nanti kita bisa mulai pindah kesana."


"Iya, Ma. Semua sudah beres, mungkin sambil berjalan nanti tinggal menambah apa yang dirasa perlu. Sejauh ini sudah bisa ditempati." Rama menambahkan.


"Kok cepet banget, baru kemarin kalian menikah kok sudah mau tinggal di rumah sendiri," ucap mama Sari seperti tidak ikhlas.


"Kalian belum tidur di rumah bunda juga lo." Bunda Suci mengingatkan, beliau juga pengen banget Raina dan Rama bermalam di rumahnya.


"Iya, Bun. Rama juga pengen tidur disana kok. InsyaAllah besuk." Rama tersenyum, memberikan kelegaan pada hati bunda Suci maupun ayah Tono.


"Jadi Kak Rama dan Mbak Raina sudah mau pindahan? Yah ... Nanti gak serumah sama keponakan dong. Padahal tadi sudah kebayang bagaimana lucunya kalau ada bayi di rumah ini." Andi pun juga merasa ada yang kurang kalau harus pisah dengan Rama. Dia sudah terbiasa dengan keadaan sebelumnya.


"Halah Lo ini, jangan melow! Rumah baru kakak kan deket. Tiap hari main kesana juga bisa," jelas Rama.


Makan malam berlangsung begitu harmonis. Canda tawa menambah akrab kedua keluarga tersebut. Raina yang merupakan anak tunggal tentu saja pernikahannya ini membuat bunda dan ayahnya merasa sedikit kehilangan. Rumahnya kini menjadi sepi. Namun bagaimana lagi, beliau berdua harus tetap memahami keadaan. Bagaimana pun Raina sudah dewasa dan semua yang terjadi ini harapannya akan menjadi yang terbaik buat Raina.


"Sayang, ayah dan bunda pamit ya. Kamu baik-baik disini." Bunda Suci berpamitan, tersenyum cerah lalu memeluk putrinya erat. Kontras dengan penampilan luarnya, ada rasa sesak dalam dada beliau, mata sudah hampir menganak sungai namun beliau berhasil menahannya.


"Iya, Bunda. Bunda juga baik-baik ya sama ayah. Maafin Raina."


"Hush, kamu ngomong apa. Gak ada yang perlu dimaafin. Ayah dan bunda bersyukur banget kamu sudah menikah dengan lelaki baik seperti nak Rama." Bunda Suci mengelus-elus kepala Raina yang masih dalam pelukannya.


"Nak Rama, ayah titip Raina ya, jaga istrimu baik-baik. Kami selalu berdoa untuk kebahagiaan hubungan kalian. Ayah dan bunda percaya sama kamu." Ayah Tono menepuk pundak Rama, membangun semacam kepercayaan untuk menantunya itu.


"Iya Ayah. Rama akan berusaha memberikan yang terbaik buat Raina. Terima kasih telah memberikan kepercayaan pada Rama." Rama tersenyum tulus.


Setelah ayah Tono dan bunda Suci berlalu, Rama dan Raina langsung masuk kamar mereka.

__ADS_1


Malam sudah semakin larut. Rama menutup laptopnya kemudian beranjak menuju tempat tidur sedangkan Raina masih duduk di sofa sibuk dengan ponselnya.


"Rai, Lo gak tidur?" tanya Rama setelah beberapa saat istrinya tak kunjung menyusul ke atas tempat tidur.


"Sebentar Kak, ni masih bales chatnya Veris. Katanya besuk dia mau berangkat," jawab Raina tanpa menoleh pada Rama karena matanya masih fokus pada jari yang sedang mengetik.


Melihat Raina masih saja sibuk dengan hpnya, Rama jadi risih. Dia yang semula santai, dan diawal pengen cepet istirahat malah susah memejamkan mata.


"Sambung lagi besuk, Rai. Cepet istirahat! Ini sudah malam," nada Rama mulai kesal.


"Iya, maaf." Raina meletakkan ponselnya, mematikan lampu utama kemudian menyusul Rama berbaring di tempat tidur. Masuk ke dalam selimut yang sama dan tidak ada lagi guling sebagai pembatas antara mereka karena guling sudah bertengger di atas lemari sejak siang tadi.


Raina menarik selimutnya sampai ke leher. Baru beberapa saat dia memejamkan mata terasa sesuatu yang berat di atas tubuhnya. Raina sontak membuka mata dan menyibakkan selimut, seperti dugaannya, kaki Rama ternyata tengah menindih tubuhnya. Belum berani berkata, Raina kemudian melirik suaminya.


Apa Kak Rama sudah tidur? Bagaimana ini? Kata Raina dalam hati karena terlihat dalam remang-remang ternyata suaminya sudah memejamkan mata. Rama yang baru saja menyelesaikan tugas kantor tentu saja merasa capek, Raina tidak tega kalau harus membangunkannya hanya gara-gara itu. Dia mengalah dan memilih diam.


Eh apalagi ini, kenapa tangan Kak Rama juga kesini. Apa dia pikir sedang memeluk guling?


Jantung Raina berdebar tidak karuan, namun lagi-lagi dia harus menahan diri, memilih diam daripada mengganggu suaminya. Merasa tidak ada perlawanan, Rama semakin mempererat pelukannya. Cukup lama Rama kemudian merasakan hembusan napas istrinya yang mulai beraturan, menunjukkan bahwa Raina sudah mulai tertidur.


Baiklah...


Biarlah semua berjalan seperti ini dulu. Selamat tidur, Sayang. Rama tersenyum penuh kemenangan, setidaknya malam ini istrinya sudah terlelap dalam pelukannya.


***


Entah kenapa menulis part ini rasanya deg degan gimana gitu. Gak kebayang betapa hebatnya Rama sebagai pria normal harus sabar dalam menghadapi situasi seperti itu..Hehehe

__ADS_1


__ADS_2