
Dua minggu kemudian.
Setelah selesai makan malam, keluarga Hartawijaya berkumpul santai di ruang TV. Mama dan Papa menikmati acara berita yang tayang malam ini. Rama duduk bersandar disofa memainkan ponselnya sedangkan Andi membuka buka buku pelajarannya sambil sesekali mengecek ponselnya.
“Gimana Ram? kok Dia belum kamu ajak ke rumah kita” tanya Papa Budi tiba-tiba.
“Siapa Pa?”
“Itu lho.. gadis yang katanya sedang dekat dengan kamu.” Mama menyahut, mengingatkan sambil memencet mencet tombol remoteTV bergantian, mencari chanel yang menayangkan acara lebih menarik.
“Sudah jadian belum?” Papa bertanya lagi.
Rama mengusap mukanya berat, merasa enggan menjawab pertanyaan kedua orangtuanya itu.
“Mama sama Papa kok jadi bahas ini terus?” Rama menjawab tanpa bisa menyembunyikan rasa jengkelnya.
“Jadi kamu sebenarnya sudah punya pengganti Amel apa belum?” Ucap Mama yang melihat tingkah mencurigakan putranya itu.
“Sudah Ma... Kami kan baru saja jadian.. Mama sama Papa pasti memaklumi kan kalau Dia belum mau diajak kesini”. Rama masih mencoba menyelamatkan dirinya.
“Kalau cara bicaramu seperti ini, Papa jadi bener bener curiga Ram.” Nada agak tinggi Papa mulai keluar.
“OK Pa.. OK. Besuk Rama ajak Dia kesini” akhirnya Rama merasa putus asa, tidak mungkin mengelak lagi.
Papa sama Mama kenapa jadi ngebet seperti ini sih. Anaknya masih dua puluh delapan tahun gini, masak harus buru buru nikah. Rama
Keputusan Rama untuk membuat perjanjian dengan Raina waktu itu sudah tepat. Benar saja, ketika menghadapi situasi seperti sekarang ini Rama bisa mengandalkannya.
“Rama ke kamar dulu”. Merasa tidak nyaman, Rama memilih masuk kamar saja.
***
Besuk hari minggu, jadi Rama punya harapan besar bahwa Raina bisa diajak ke rumah keluarga Hartawijaya, menyelamatkan dirinya.
Rama langsung menelpon Raina.
“Haloo.. Assalamu’alaikum” Suara Raina terdengar diseberang sana.
“Wa’alaikum salam.. Masih ingat kan, perjanjian kita waktu itu?” Kalimat Rama langsung terucap tanpa basa basi.
“Iya..iya.. Ada apa Kak?”
“Besuk lo harus mulai melakukan tugas lo.”
“Maksudnya?” Raina belum paham.
__ADS_1
“Ikut gue ke rumah,, Mama sama Papa gue pengen ketemu”
“Ha??”
“Sebagai pacar gue” menarik napas sebentar dan menghembuskannya pelan.”Pacar pura-pura”.Rama menjelaskan.
“Tapi . . .” Kalimat Raina terpotong, Rama sudah menyambar.
“Gak ada tapi tapian”
“Besuk mau ke toko buku, ada buku penting yang harus dicari” Buru-buru Raina meneruskan.
“OK, Besuk share aja alamatnya, gue jemput di toko buku” Rama menutup telponnya tanpa mendengar jawaban dari Raina.
Tentu saja Raina yang sedang santai di kamarnya geram mendapatkan perlakuan seperti itu. Rama selalu saja semena mena memutuskan segala sesuatu tanpa mendengar pendapatnya.
***
Minggu pagi.
Tepat pukul delapan Raina pamit sama Bundanya, pergi ke toko buku bersama dua sahabatnya yang sudah menjemputnya pagi ini.
Semalam setelah Rama menutup telpon, Raina langsung mengadu digrup chat khusus dengan dua sahabatnya. Setelah mendengar cerita itu akhirnya Veris menawarkan diri agar dua sahabatnya pagi ini pergi ke toko buku bareng Dia, naik mobilnya.
“Sabar Rai, semua pasti berjalan dengan mudah” Gita menenangkan Raina yang sejak awal naik mobil tadi terus saja ngedumel perihal apa yang harus Ia lakukan nanti.
“Bayangkan saja, Dia selalu memutuskan segala sesuatu tanpa memberikan kesempatan gue ngomong,. Ngeselin gak sih?” Raina yang duduk dikursi belakang terus saja ngedumel.
“Jadi gak sabar gue, Kak Rama itu seperti apa. Kalau difoto sih kelihatan keren.” Veris malah penasaran dengan sosok Rama itu.
“Yang jelas Dia tu orangnya super menyebalkan” jelas Raina.
“Tapi hati-hati Rai, jangan terlalu benci! Nanti jadi cinta lo” Gita sedikit meledek, membuat Raina tambah geram.
Setelah setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di depan sebuah toko buku yang mereka tuju. Mobil Veris terparkir rapi pada tempatnya, ketiga gadis itu kemudian langsung masuk ke dalam toko.
Mungkin karena hari minggu, meskipun masih pagi toko itu terlihat begitu ramai. Banyak pengunjung yang lalu lalang di dalam toko, memilih milih buku sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Tak butuh waktu lama Raina dan sahabatnya sudah bisa mendapatkan buku sesuai kenginginan. Lain halnya dengan antrian di kasir, butuh kesabaran karena pengunjung toko buku pagi ini bener bener banyak. Sekitar setengah jam mereka baru bisa keluar.
Tidak berapa lama ponsel Raina berbunyi, sebuah pesan WA masuk.
Gimana? Sudah selesai belum? Jangan lupa share lokasi!!. Pasan Rama, ada penekanan pada kalimat terakhirnya.
Iya.. iya,, BAWEL!! Balas Raina
__ADS_1
“Pasti Kak Rama ya” Gita sudah bisa menebak saat melihat raut kesal pada wajah Raina tiba-tiba muncul.
“Siapa lagi” Jawab Raina sambil fokus pada ponselnya, share lokasi sesuai permintaan Rama.
Beberapa waktu kemudian mobil Rama datang. Ia turun dari mobil, menuju Raina yang duduk santai dengan sahabatnya. Menyapa sahabat Raina asal kemudian langsung mengajak Raina mengikutinya.
Berbeda dengan Raina yang masih saja cemberut, kedua sahabatnya justru dibuat melongo. Penampilan santai Rama saat ini mampu menghipnotis kedua sahabat Raina ini.
Setelah berpamitan pada sahabatnya, Raina langsung pergi mengikuti Rama menuju mobilnya.
“Jadi itu Kak Rama?” Ucap Veris ketika Rama dan Raina sudah berjalan agak jauh.
“Gak nyangka, ternyata Kak Rama keren gitu” Tambah Gita.
“Iya,, lebih keren dari foto yang diprofil WA itu”
“Kalau dilihat lihat Raina cocok Low sama Dia, Iya gak sih??” Gita sekilas menoleh pada Veris minta persetujuan. Sementara Veris hanya mengangguk angguk sambil tetap menatap Raina dan Rama berlalu.
Sama seperti biasanya, saat ini penampilan Raina terbilang sangat sederhana kalau diukur dari segi penampilan menemui calon mertua. Mengenakan kaos santai yang dipadukan dengan celana jeans, walau sejujurnya tidak mengurangi aura cantik gadis ini.
***
Mobil Rama berhenti.
“Kok berhenti disini?” Tanya Raina ketika mobil Rama tiba-tiba berhenti didepan sebuah butik dengan barang barang mahal didalamnya.
“Lihat penampilan lo! melihat ini saja nyokap gue pasti sudah tau kalau lo hanya pacar pura pura gue” penjelasan Rama sedikit rumit.
“Kenapa?? Apa yang salah?”
“Penampilan lo seperti ini jelas bukan selera gue Rai, langsung ketahuan dong kalau gue boong”
Tanpa perlu penjelasan lagi, Raina langsung diajak masuk kedalam. Meskipun yang dicari adalah yang akan dipakai Raina, tapi kali ini Rama yang memilih semuanya. Sebuah dress simpel, tas dan juga sepatu sudah terpilih sesuai ukuran Raina.
Tak jauh dari butik ada sebuah salon yang cukup mewah juga. Seperti sudah terencana dengan matang, setelah keluar dari butik Raina langsung diajak masuk salon. Menolak pun percuma, Raina hanya pasrah mengikuti.
Didalam salon Rama menjelaskan secara detail apa yang harus dilakukan oleh pihak salon untuk mengubah penampilan Raina. Sekitar satu jam *make over *selesai. Raina keluar dari ruang ganti baju dengan penampilan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Rama terpana menatap penampilan Raina sekarang. Sebelum gadis itu menyadari,Rama langsung memalingkan wajahnya.
Sial,, kenapa dia cantik begini.
“Kak ini gak cocok buat saya” Raina merasa risih dengan penampilannya.
“Sudahlah, nyokap bokap gue sudah nunggu kita”.
__ADS_1
Lagi lagi Raina harus mengalah. Masuk mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah Rama. Didalam mobil Rama menjelaskan bagaimana Raina harus bersikap didepan Papa dan Mama Rama nanti. Beberapa hal telah disepakati.