
Alarm hp Rama berbunyi, waktu menunjukkan jam lima pagi. Meskipun suara alarm terdengar jelas namun mata Rama masih berat untuk dibuka. Tadi malam hampir jam satu dia baru bisa tidur.
Rama menggeliat diatas kasur empuknya. Masih dengan mata terpejam dia meraih hp dan mematikan alarmnya, ternyata suara mengaji sudah terdengar dari beberapa masjid terdekat. Menunjukkan bahwa jamaah shalat subuh sudah selesai. Dengan berat Rama bangkit dari tidurnya, menyeret kakinya menuju kamar mandi.
Selesai shalat subuh Dia langsung ngopi dan check out. Rama masih heran kenapa sampai sekarang Raina belum membalas pesannya, pagi ini dia juga sudah mengecek pesan terakhirnya tadi malam. Ternyata hanya dibuka tanpa dibalas.
Saat diparkiran hotel, Rama inisiatif untuk menelpon Raina, perasaannya masih belum tenang. Ketika no telpon Raina dipencet, nada sambung hp Raina berbunyi namun tidak diangkat. Rama mengulangi sekali lagi, dengan sabar menunggu sampai sang pemilik nomor telpon mengangkatnya. Ternyata tetap nihil. Akhirnya Rama menyerah.
Jam tangannya sudah menunjukkan hampir pukul enam. Perjalanan menuju rumahnya membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Dia segera melajukan mobilnya keluar parkiran supaya sampai rumah tidak kesiangan. Ingin segera sampai rumah, Rama tetap melanjutkan laju mobilnya dan memilih untuk tidak istirahat sama sekali.
***
Raina hari ini merasa tidak enak badan. Setelah shalat subuh dia terpaksa kembali berbaring di tempat tidurnya. Kejadian di Mall kemarin benar-benar telah menguras tenaga dan pikirannya.
Kemarin setelah makan malam bersama dan memastikan keadaan Raina sudah mulai tenang, Veris dan Gita berpamitan pulang. Setelahnya Raina juga pamit pada bundanya untuk masuk kamar dan beristirahat. Namun kenyatanya hingga larut malam ternyata Raina tidak bisa tidur.
Tadi malam saat Rama berkirim pesan padanya sebenarnya dia ingin sekali membalas dan mengadu perihal apa yang dia alami saat di Mall. Namun Raina teringat pesan mama Sari yang melarangnya untuk menghubungi maupun menanggapi telpon dari Rama.
Begitupun pagi ini, ketika Rama menelpon, ingin sekali Raina mengangkatnya. Namun tetap saja dia kembali teringat pesan mama Sari itu. Dia tidak berani mengangkat telpon.
Bunda Suci heran kenapa sampai pukul enam putrinya tidak keluar dari kamar. Akhirnya beliau menghampiri Raina ke kamarnya. Ternyata putrinya itu masih berbaring di tempat tidur, matanya juga terpejam.
"Na, kamu sakit?" Bunda meletakkan punggung tangan kanannya pada kening Raina, mengecek keadaan putrinya itu. Suhu badan Raina terasa panas.
__ADS_1
"Na hanya sedikit pusing, bun." Jawab Raina masih dengan mata terpejam.
"Kamu demam, sayang. Bunda ambilkan obat sebentar." Bunda Suci keluar kamar mengambilkan obat untuk Raina.
Tak berapa lama bunda Suci kembali ke kamar Raina dengan membawakan semangkok bubur ayam yang beliau beli tak jauh dari rumahnya. Beliau pikir akan kelamaan kalau harus membuatkan bubur dulu, Raina harus segera sarapan dan minum obat. Tak lupa beliau juga membawakan obat untuk Raina.
"Sayang, ayo bangun dulu! Bunda suapin terus minum obat." Ucap bunda Suci seraya membantu Raina bangun dari tidurnya.
Raina duduk, masih diatas ranjang menyandarkan punggungnya pada sebuah bantal yang diletakkan dengan posisi berdiri. Bunda mulai menyuapi Raina, satu suapan mendarat dimulutnya, Raina berusaha untuk tetap makan meskipun mulutnya kini terasa begitu pahit.
Bunda Suci dengan penuh kesabaran menyuapi putrinya itu seperti ketika Raina masih bayi. Membutuhkan waktu cukup lama akhirnya bubur pada mangkok itu tinggal separuh. Perut Raina sudah lumayan terisi.
"Sudah, bun! Na sudah kenyang."
Bunda Suci meletakkan mangkok buburnya kemudian ganti mengambilkan obat dan segelas air putih. Membantu putrinya minum obat.
"Ayah sudah mendengar semuanya dari bundamu. Untuk masalah itu, ayah dan bunda sudah memikirkannya semalam." Kata ayah menyahut.
"Maksud ayah apa?" Raina belum mengerti.
"Kamu sudah tahu, kan? Kita dulu pernah menolong oma Hartawijaya. Dulu ayah dan bunda tidak menerima imbalan apapun dari keluarga oma itu karena kita benar-benar menolongnya dengan ikhlas." Ayah menghela napas pelan kemudian melanjutkan. "Pak Budi dan bu Sari dulu pernah berpesan, apabila kita butuh bantuan, keluarga beliau akan dengan senang hati membantu."
"Jadi maksud ayah . . . " Belum Raina melanjutkan tapi sudah dipotong oleh bundanya.
__ADS_1
"Ia, sayang. Ayah dan bunda akan datang ke rumah keluarga Hartawijaya dan meminta maaf atas kesalahanmu. Ayah dan bunda percaya, InsyaAllah tante Sari akan memaafkanmu bila beliau tahu kamu adalah anak ayah dan bunda." Jelas bunda Suci.
Sejak awal Raina memang sengaja menutup mulut perihal keluarganya yang dulu pernah menolong oma Hartawijaya. Kebetulan ketika ayah dan bunda mengantar oma pulang, Raina tidak ikut. Jadi papa Budi dan mama Sari tidak menyadari bahwa Raina adalah putri dari pasangan suami istri yang telah menolong mamanya dulu.
Ketika Raina menceritakan pada orangtuanya kalau dia diterima menjadi guru les privat Andi, anak bungsu dari keluarga Hartawijaya, ayah dan bundanya langsung berpesan agar Raina tidak pernah mengungkit kebaikan mereka waktu itu. Raina menurut, selama ini dia juga tutup mulut seperti kemauan ayah dan bundanya.
Keluarga Raina benar-benar sudah ikhlas, dan berpikir tidak akan membahas lagi perihal kebaikannya itu. Berharap apa yang telah mereka lakukan tercatat sebagai amal ibadah untuk keluarga mereka. Semua dilakukan atas dasar kemanusiaan, saling menolong sesama muslim.
Raina menggelengkan kepalanya. "Na paham betul perasaan ayah dan bunda. Na juga berterimakasih atas semua yang pernah ayah dan bunda berikan untuk Na. Semua yang ayah dan bunda lakukan pasti yang terbaik untuk Na. Tapi untuk kali ini, biar Na yang mencoba menyelesaikannya sendiri." Pinta Raina dengan pelan.
"Naa..." Bunda menggenggam tangan putrinya dengan erat, mata beliau mulai berkaca-kaca. Raina tersenyum haru melihatnya. Melihat ketulusan ayah dan bundanya yang sangat besar.
"Percayalah, bunda! InsyaAllah Na bisa melewati semuanya. Setelah Na sehat, Na akan menghubungi kak Rama. Ini masalah kami berdua. Na yakin kak Rama juga tidak akan tinggal diam. Kak Rama itu sebenarnya juga orang yang baik." Raina tersenyum meyakinkan. Menatap ayah dan bundanya bergantian.
"Ayah baru sadar, ternyata putri kecil ayah kini sudah tumbuh dewasa." Suara ayah sedikit serak menahan keharuan pagi ini. Beliau tersenyum hangat seraya mengusap-usap pucuk kepala Raina dengan bangga.
"Ayah dan bunda jangan nangis!" Ucap Raina menatap ayah dan bundanya yang tanpa disadari telah meneteskan air matanya.
"Na sayang banget sama ayah dan bunda." Kata Raina yang kemudian membuat mereka bertiga saling berpelukan, hanyut dalam suasana harmonisnya. Perasaan saling menyayangi dan saling menguatkan.
***
Terima kasih buat kakak-kakak yang sudah mampir dan membaca novel ini. Semoga suka.
__ADS_1
Jangan lupa klik favorite agar bisa mengikuti jalan ceritanya yaa..
Salam hangat dari aku, Mbak Yuni (^_^)