Cinta Raina

Cinta Raina
Rama Salah


__ADS_3

"Jelaskan! Jelaskan semuanya pada mama dan papa!" Ucap papa Budi setelah emosi istrinya sudah mulai stabil.


"Sebenarnya.. Sebenarnya ini semua berawal dari perbincangan Rama dan papa saat di kantor waktu itu." Rama mulai berbicara.


"Perbincangan? Perbincangan apa?" Mama Sari yang semula menatap putranya, beralih menatap suaminya penuh tanda tanya. Papa Budi hanya mengernyitkan dahi mengingat-ingat perbincangan yang dimaksud oleh Rama itu.


"Waktu itu papa mengingatkan Rama perihal keinginan oma, tentu saja Rama kaget kan. Dan gak tahu kenapa Rama spontan menjawab bahwa Rama tengah deket dengan cewek,, ya Rama pikir dengan menjawab seperti itu papa bisa berubah pikiran.. Ternyata malah seperti ini.. Maaf." Pelan Rama menjelaskan.


"Maaf ma, papa memang ikut salah disini. Papa waktu itu memutuskan membicarakan perihal keinginan oma di kantor tanpa memberitahu mama, karena papa pikir akan menjadikan beban pikiran buat mama kalau harus membahasnya di rumah." Papa Budi ikut merasa bersalah.


"Lalu kenapa harus Raina, Ram??" Mama Sari masih sedikit geram.


"Rama tidak sengaja, ma. Mama tahu juga kan, Rama kaget begitu tahu kalau Raina itu ternyata guru les privat Andi yang selama ini mama banggakan. Rama baru tahu kenyataannya saat pertama kali Raina saya ajak kesini. Awalnya Rama pikir semua bisa dengan mudah dibereskan, namun karena mama terlihat sangat menyayangi Raina, Rama jadi berat untuk mengambil keputusan." Rama menghela napas sebentar kemudian menghembuskannya pelan.


"Semuanya tanpa kesengajaan, ma. Rama minta tolong Raina karena kebetulan waktu itu Raina sedang ada masalah kecil dengan Rama. Ya memang disini Rama mengaku bahwa Rama memanfaatkan keadaan itu dengan sedikit memojokkan Raina."


"Kamu memaksanya kan, Raina terpaksa mengambil keputusan itu karena kamu tidak memberi pilihan lain."


"Iya, ma. Rama salah." Rama menunduk.


"Terus.. Sekarang bagaimana kamu menyikapi ini semua?" Tanya papa Budi."


Rama masih terdiam, menatap sembarang arah. Tatapannya kosong. Dia bahkan belum bisa berpikir apa yang harus dia lakukan setelah ini.


"Ma, apa Rama boleh tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Mama tahu ini semua dari siapa?" Rama yakin bukan Raina yang bercerita padanya, Raina bukan tipe orang yang terbiasa ingkar janji. Dia tidak akan berani. "Dhani?"


"Kenapa? Kenapa kamu justru membawa-bawa Dhani?"


Akhirnya mama Sari menceritakan kejadian di Mall kemarin, apa yang beliau dengar dari obrolan santai antara Raina dengan dua sahabatnya.


Rama hanya bisa membelalakkan matanya. Dia heran kenapa bisa terjadi kebetulan seperti itu.


"Apa ini yang menyebabkan Raina tidak membalas pesan Rama ataupun mengangkat telpon Rama ya." Rama menduga.


"Mamamu yang melarangnnya." Ucap papa Budi singkat.

__ADS_1


"Mama melarang dia menghubungimu, mama juga menyuruh dia agar mengabaikan telponmu. Rupanya Raina mendengarkan apa yang mama katakan." Mama memberi penjelasan.


Tentu saja Rama kaget. Rama tidak percaya mamanya semarah itu sama Raina. Rama mengacak-acak rambutnya karena frustasi.


"Pasti ini semua menjadi beban pikiran buat Raina. Kasihan dia. Kamu harus bertanggung jawab, Ram. Temui dia! Minta maaflah pada Raina!" Papa menasehati.


"Iya, pa. Besuk Rama akan bicara padanya saat dia kesini. Bukankah besuk Raina ada jadwal les dengan Andi?"


"Raina tidak akan kesini. Mama juga sudah mengatakan padanya bahwa mulai sekarang dia tidak perlu lagi memberikan les privat pada Andi."


Ya Allah, maa..


Kenapa mama bisa sejauh ini.


Maafin gue, Rai. Rama mengusap mukanya berat.


***


Seharian Raina tidak keluar kamar. Tubuhnya masih terasa lemas. Kepalanya juga masih pusing. Panas tubuhnya juga belum turun. Padahal tadi siang bunda Suci sudah memanggil dokter untuk memeriksa Raina. Raina juga sudah minum obat sesuai anjuran dokter itu.


"Na." Bunda Suci meletakkan punggung tangan kanannya pada kening Raina. Meskipun Raina sudah mulai dewasa, namun ketika sakit seperti ini rasa kuatir bundanya masih tetap saja seperti ketika Raina masih kecil. Beliau akan bolak balik masuk kamar Raina untuk mengecek keadaan putrinya itu.


Raina masih memejamkan matanya. Tidur dan tidak merespon kedatangan bundanya. Mungkin karena pengaruh obat yang dia minum setelah makan malam tadi. Dia bisa istirahat dengan cukup tenang sekarang.


Tiba-tiba hp Raina berbunyi. Karena takut mengganggu Raina yang sedang istirahat, bunda Suci segera meraih hp itu dan mengecek siapa yang menghubungi anaknya.


Siapa ini? Pak Ganti Rugi??


Angkat tidak ya...


Bunda Suci ragu antara mengangkat telpon itu atau tidak.


Hp terus saja berbunyi, karena takut Raina terganggu akhirnya bunda Suci membawa hp itu. Pelan beliau membuka pintu kamar kemudian keluar dan menutupnya kembali.


"Halo.. Assalamu'alaikum." Salam bunda Suci mengangkat telpon.


"Wa'alaikum salam.. Maaf ini siapa ya?" Rama paham betul bukan suara Raina yang tengah mengangkat telpon itu.


"Saya bundanya Raina, maaf ini siapa ya? Ada keperluan apa"

__ADS_1


Aduh.. Bundanya? Memang Raina kemana??


"Ini Rama, tante."


"Oh jadi ini yang namanya Rama. Asal Rama tahu ya, gara-gara kejadian kemarin anak tante sekarang sakit." Ucap bunda Suci spontan dan tentu saja membuat Rama diseberang sana kaget.


"Maaf.. Raina sakit, tante?"


"Raina demam, katanya juga pusing. Seharian dia hanya berbaring."


"Terus sekarang bagaimana keadaanya, tante?" Suara Rama terdengar panik.


"Dia masih tidur, mudah-mudahan segera membaik." Suara bunda Suci berhenti sejenak kemudian melanjutkan kata-katanya. "Rama".


"Iya, tante." Jawab Rama diseberang sana.


"Tante memang gak tahu persis bagaimana semua ini terjadi, tapi yang jelas tante tahu bahwa Raina seperti ini karena rasa bersalahnya yang terlalu besar pada mamamu. Bisakah tante minta tolong?"


"Maaf tante, Rama bener-bener minta maaf atas kejadian ini. Rama salah. Rama akan melakukan apapun untuk menebusnya."


"Bicaralah pada mamamu! Mintalah pada beliau untuk memaafkan putri tante." Bunda Suci sudah tidak memikirkan apapun, yang beliau ingin hanyalah bagaimana bisa mengembalikan perasaan tenang putrinya. Dan itu dengan cara Raina mendapatkan permintaan maafnya pada mamanya Rama. Meskipun bunda Suci terpaksa harus meminta tolong pada Rama tanpa sepengetahuan Raina seperti ini.


"Iya, tante. Rama akan berbicara sama mama. Terimakasih tante sudah memberi kesempatan pada Rama."


"Ya sudah.. Tante tunggu kabar baiknya! Assalamu'alaikum."


"Tunggu.. Maaf, tante. Boleh Rama minta alamat rumah tante?" Bunda Suci sudah akan mengakhiri telponnya tapi dengan cepat Rama mencegah.


"Nanti tante kirim lewat pesan saja."


"Baik, tante. Terimakasih banyak."


Rama sejak tadi siang memang tidak bisa tenang. Berulang kali mencoba berkirim pesan wa pada Raina tapi tidak ada balasan. Menelpon juga tidak diangkat. Untung saja malam ini ada bunda Suci yang sudah mengangkat telponnya.


***


Terimakasih buat kakak-kakak yang selama ini sudah membaca novel ini.


Semoga suka..

__ADS_1


Silahkan kasih komen agar saya semakin semangat menulisnya..


Salam hangat dari Mbak Yuni ♡^_^♡


__ADS_2