
"Kak Rama cari kesempatan ya?" Raina mendengus kesal.
"Enggak,, ngapain?? Gue cuma yakinin lo aja.. Lo tadi gak percaya kan??"
"Jadi beneran tante Sari bilang gitu?"
"Tuh kan..."
"Iya.. Iya.. Raina percaya."
"Emang ya, Raina tetep Raina. Baru mulai sembuh aja judesnya udah kembali."
"Emang Raina judes?" Raina melipat kedua tangannya pada dada. Mulutnya semakin manyun.
"Enggak.. ENGGAK SALAH!" Rama tertawa kemudian beringsut kembali pada tempat duduknya semula. Takut Raina mencengkeramnya.Hehe
"Iihh.. Kak Rama nyebelin."
Melihat Raina kesal seperti itu membuat tawa Rama semakin menjadi. Suara tawa Rama sampai terdengar oleh bunda Suci didalam. Bunda Suci hanya geleng-geleng kepala.
Anak jaman sekarang.. Padahal tadi sudah kuatir mereka akan berantem hebat. Ya Syukurlah kalau ternyata mereka sudah baikan. Bunda Suci senyum-senyum sendiri.
Tawanya sudah berhenti. Rama meneguk minuman yang tadi sudah disiapkan oleh bunda Suci. Mukanya mulai serius kembali.
"Jadi gimana, Rai. Lo maafin gue kan? Dari tadi lo belum jawab." Rama terus saja mengulangi permintaan maafnya. Dia benar-benar merasa bersalah atas kejadian ini.
Untuk mengetes keseriusan Rama, Raina sengaja tak kunjung menjawab pertanyaan itu. Tapi ternyata Rama benar-benar sabar menunggu jawaban darinya. Raina lagi-lagi luluh.
"Iya.. Lagian bukan sepenuhnya salah kak Rama. Seandainya Raina waktu itu menolak tawaran kak Rama, pasti semuanya tidak akan terjadi." Jawab Raina penuh bijaksana.
"Alhamdulillah.. Terimakasih, Rai." Rama tersenyum senang. Akhirnya Raina juga sudah memaafkannya. Raina pun tersenyum kecil tanpa sepengetahuan Rama.
Sekitar satu jam mereka ngobrol bersama. Mereka juga sepakat ketika Raina nanti sudah benar-benar sehat, Rama akan menjemputnya dan mengajak Raina ke rumahnya.
Merasa sudah lega, Rama memutuskan untuk segera pulang. Tak lupa pamit pada bunda Suci dan mencium tangan beliau dengan sopan.
"Rama pamit, tante.. Rai.. Assalmu'alaikum." Rama berlalu meninggalkan Raina dan bundanya yang mengantar Rama sampai depan pintu.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam." Jawab dua perempuan ayu itu serempak.
Setelah mobil Rama berlalu, Raina juga pamit pada bundanya untuk kembali masuk ke kamarnya. Dia ingin beristirahat kembali supaya badannya cepet sehat.
Raina menutup pintu kamarnya. Masih bersandar pada pintu. Dia memegang dadanya, entah kenapa dari tadi jantungnya berdebar-debar.
Ya ampun..
Kenapa gue jadi gini ya. Kak Rama juga sih, kenapa tadi malah gak sengaja megang-megang tangan ini. Dua kali lagi, bikin jantung gue mau copot aja.
Raina masih tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Terlepas dari ketidaktahuannya kenapa Rama bisa tiba-tiba datang ke rumahnya dan meminta maaf, yang jelas Raina benar-benar merasa lega. Dia bersyukur setidaknya dia mendapat kesempatan untuk meminta maaf pada mamanya Rama nanti.
Raina kembali duduk diranjangnya dan mengambil hp. Mengetik sebuah pesan wa pada grup yang beranggotakan dirinya, Veris dan Gita seperti biasanya.
Gaysss.. Hayo ngaku!! Siapa yang udah berani ngasih alamat gue pada kak Rama??
Apa?? Jangan bilang kalau kak Rama baru aja main ke rumah lo!! Tulis Gita.
Beneran ni?? Kak Rama ke rumah lo, Rai?? Veris.
Astaga.. Kalian ini.. Bukannya jawab malah jadi pada kepo gini. Raina.
Veris?? Kak Rama udah tahu rumah lo kan?? Raina.
Terus?? Jangan gila, Rai. Maksud lo Kak Rama ke rumah gue terus nanyain alamat rumah lo?? No..No.. No..
Ternyata bukan Gita ataupun Veris yang telah memberikan alamat rumahnya pada Rama. Terus siapa dong, Raina masih bertanya-tanya. Dia tidak tahu kalau diam-diam bunda Suci kemarin yang sengaja mengirimkannya. Bunda Suci juga sudah menghapus semua jejak panggilan maupun pesan wa pada Rama yang ada dihp Raina. Beliau kuatir kalau Raina akan marah dan peristiwa membahagiakan pagi ini tidak akan terjadi.
Dan benar. Tanpa sepengetahuan Raina seperti ini, Alhamdulillah semua berjalan lancar, Rama memberanikan diri datang. Kedatangan Rama ke rumah membuat Raina kembali tersenyum. Mendapatkan solusi atas masalahnya.
***
Rama senyum-senyum sendiri sambil tetap fokus dengan kemudinya. Melihat keadaan Raina yang sudah membaik membuatnya jauh lebih tenang. Dia juga bersyukur Raina sudah memaafkannya.
Tak sabar Rama ingin segera sampai rumah dan menceritakan semuanya pada mama Sari.
Ditengah rasa leganya, Rama juga kesal dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa tadi tangannya dengan tanpa terkendali bersikap agresif seperti itu pada Raina. Dia merasa benar-benar seperti orang bodoh. Kejadiannya begitu spontan hingga sikap tubuhnya berbanding terbalik dengan pikirannya. Dia sangat malu ketika menyadari Raina tidak nyaman dengan hal itu.
__ADS_1
Jangan sampai lo berfikir macam-macam, Rai!!
Tak berapa lama mobil Rama sampai di depan gerbang rumahnya. Setelah membunyikan klakson, pak satpam yang tengah berjaga terlihat berlari dan langsung membuka gerbang lebar-lebar, Rama segera melajukan mobilnya masuk.
Mobil tidak dia masukkan ke garasi namun hanya diparkirkan di halaman rumah karena ada kemungkinan dia akan keluar lagi.
Rama keluar dari mobilnya dan langsung berlari masuk rumah. Wajah cerianya tergambar sempurna, menambah ketampanan putra sulung keluarga Hartawijaya itu.
Dia berlari menuju sumber suara mamanya yang menjawab salam. Ternyata mama Sari tengah duduk santai sambil membaca surat kabar harian di ruang keluarga.
"Mamaku sayang... " Rama menghampiri beliau dan langsung mencium tangan mamanya itu. Mama Sari tersenyum melihat putranya yang kini duduk disampingnya dan memeluk mamanya dengan manja.
"Kamu kenapa? Tumben sekali peluk-peluk mama seperti ini."
"Gak pa pa. Wajar kan, ma. Rama kan anak mama."
"Terus.. Bagaimana keadaan Raina? Kamu jadi ke rumahnya kan??"
Rama melepas pelukannya, memposisikan tubuhnya hingga kini berhadapan sempurna dengan mama Sari.
"Alhamdulillah, ma. Raina sudah mendingan. Raina juga terlihat senang sekali ketika Rama bilang bahwa mama ngijinin dia untuk berkunjung kesini." Jawab Rama antusias disertai senyum lebarnya, mencerminkan perasaannya yang tengah bahagia. Mama Sari tidak bisa menahan senyumnya melihat hal itu.
"Alhamdulillah.. Jadi Raina tidak marah sama kamu?"
"Ya bisa dibilang nggak marah juga sih, ma. Awalnya Rama pikir dia akan marah hebat dan mencakar atau mencengkeram Rama, dia kan gadis aneh. Tau sendiri kan sikapnya saat ngajar Andi gimana. Tapi ternyata itu tidak terjadi." Rama tersenyum seperti anak kecil, menebah-nebah dadanya merasa lega.
"Kok bisa, kalau mama yang jadi Raina, pasti sudah mama jitak-jitak kepalamu itu. Mama habisin kamu"
"Untungnya Raina beda dengan mama." Rama tertawa kemudian melanjutkan kalimatnya. "Entahlah. Rama juga tidak menyangka, ternyata jalan pikiran Raina begitu bijaksana. Dia memandang sebuah masalah bukan dengan menitik beratkan masalah itu sebagai kesalahan orang lain. Tapi dia justru pandai intropeksi diri. Dia memaafkan Rama."
"Jadi ceritanya kamu mulai mengakui kehebatan Raina?"
"Bukan gitu juga ma.. Mama apa-apaan sih. Raina tetap saja Raina. Gadis aneh yang super judes dimata Rama."
***
Alhamdulillah..
__ADS_1
Seneng bisa update gini.
Selamat membaca, kakak ♡^_^♡