
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi samping rumah,ayah Tono segera masuk ke dalam rumah. Bunda Suci dan Raina yang tengah membereskan meja makan menjawab salam ayah Tono serempak.
"Sepertinya ayah tadi lihat ada mobil keluar dari halaman rumah kita, siapa, Bun?" ucapa ayah Tono setelah beliau duduk di salah satu kursi meja makan.
"Oh itu, itu tadi Rama, Yah."
"Iya? sayang sekali ayah gak bisa ketemu lagi." Sama seperti Rama, sebenarnya ayah Tono juga penasaran sama sosok Rama, belum sekalipun mereka bertemu.
"Ayah tadi kenapa gak makan malam di rumah?" tanya Raina.
"Itu, tadi ruko sebelah anterin banyak makanan ke toko kita. Katanya baru syukuran tujuh bulanan anak ketiganya. Ayah ikut makan bareng anak-anak sekalian."
Meja makan sudah kembali rapi, piring dan peralatan makan yang tadi kotor kini juga sudah bersih semua dan tertata rapi pada tempatnya masing-masing. Setelah memastikan semua beres, Raina pamit untuk pergi ke kamarnya. Dia merasa sedikit capek. Dia memang masih harus menghemat tenaganya karena baru sembuh dari sakit. Apalagi senin ini dia akan mulai ujian semester, Raina harus banyak istirahat.
Ditengah rasa capeknya, jujur Raina sebenarnya masih bingung dengan sikap Rama terkait bunga mawar putih tadi. Dia heran kenapa Rama bisa melakukan itu. Apakah Rama sengaja melakukan itu agar mama Sari semakin menyayangi Raina. Tapi untuk apa. Raina tidak habis pikir.
Baru saja Raina meletakkan mukenanya karena baru selesai shalat isya'. Hp yang ada di atas tempat tidur kini berbunyi. Raina melirik sekilas. Disitu tertera jelas siapa yang tengah meneleponnya, Pak Ganti Rugi. Raina berdecak melihat itu.
Apa lagi sih??
Raina meraih hpnya dengan malas dan terpaksa mengangkat telepon itu.
"Assalamu'alaikum," suara Rama di seberang sana.
"Wa'alaikum salam. Ada apa lagi, Kak?" tanya Raina dengan sedikit ketus.
"Lo ini gak sopan banget, kenapa sih hobi sekali judes sama orang?"
__ADS_1
"Udahlah,Kak Rama. Ada apa? Jangan berbelit!" Raina sudah tidak sabar, dia sebenarnya sudah merasa sangat capek dan ingin segera berbaring.
"Enggak. Ini, gue cuma mau bilang sama Lo. Terkait dengan bunga mawar putih tadi, Lo gak usah berfikir macem-macem. Gue ngelakuin itu murni karena ingin membahagiakan nyokab gue."
Ahh.. Kak Rama punya telepati ya, kenapa bisa tahu apa yang sedang gue pikirin.
"Iya, iya, Raina tahu kok," sahut Raina pura-pura.
"Syukur deh kalau gitu, abis tadi gue lihat Lo kebingungan gitu."
"Raina biasa aja kok."
"Ya udah kalau gitu. Raina, Terimakasih selama ini Lo sudah banyak bantu keluarga gue. Maaf sudah ngebuat Lo ikut jadi imbas dari masalah gue."
"Iya, sama-sama," jawab Raina cuek. Sebenarnya Raina sangat senang dengan kata-kata Rama itu, Raina tidak menyangka Rama bisa berkata begitu dewasa. Rama hari ini memang bukan seperti Rama yang dia kenal selama ini.
"Selamat istirahat, Rai. Assalamu'alaikum." Merasa tidak ada tanggapan positif, Rama berfikir sudah tidak perlu memperpanjang obrolan teleponnya.
***
Dua bulan kemudian.
Raina kini sudah masuk awal semester tujuh. Dengan kerja kerasnya yang selalu menyeimbangkan antara berusaha dan berdoa, akhirnya Raina berkesempatan kembali memperoleh beasiswanya.
Andi dengan belajarnya yang sungguh-sungguh akhirnya bisa lulus Sekolah Menengah Atas dengan nilai yang cukup memuaskan. Andi juga membuat mama dan papanya bangga dengan bisa diterima di Universitas swasta ternama, satu kampus dengan Raina.
Rama semakin fokus dengan perkembangan perusahaan papanya. Kesalahannya beberapa bulan lalu telah membuatnya banyak berubah. Dia sadar bahwa kebahagiaan mama dan papanya merupakan prioritasnya sekarang. Apalagi pada mama Sari, Rama menyesal pernah membuat mamanya kecewa, dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Terkait Amel, dia sudah bisa move on, akhir-akhir ini dia sudah bisa membuang kenangannya dengan mantan terindahnya itu.
__ADS_1
Ucapan maaf dan terimakasih lewat telepon waktu itu menjadi perbincangan terakhir Rama dengan Raina. Setelah itu mereka sama sekali tidak berhubungan. Sedangkan dengan mama Sari, Raina terkadang masih berhubungan dengan beliau meskipun hanya sekedar menanyakan kabar. Alih-alih sudah tidak memberikan les privat pada Andi membuat Raina sedikit ragu ketika mama Sari memintanya untuk berkunjung ke rumah Hartawijaya. Sampai sekarang Raina belum menginjakkan kakinya lagi di rumah mewah itu.
Awalnya Raina dan Rama merasa ada yang kurang ketika mereka memutuskan untuk tidak berhubungan satu sama lain. Selama beberapa bulan mereka sudah saling bertukar kabar meskipun hanya sekedar lewat telepon. Sebenarnya mereka sudah terbiasa dengan itu, namun ego mereka ternyata sama-sama tinggi. Keduanya memilih diam.
Raina sudah berjanji pada dirinya, seandainya Rama menghubunginya lagi dia mungkin akan menerima dengan baik, Raina tahu kalau Rama itu sebenarnya pribadi yang baik. Tidak ada salahnya bila hubungan mereka berlanjut menjadi teman baik. Rama pun demikian, entah mengapa semakin kesini dia semakin merasa nyaman dekat dengan Raina. Apalagi melihat mama Sari yang begitu menyayangi dan mengagumi Raina membuatnya secara tidak langsung ikut terpesona dengan kelebihan gadis cantik itu.
Namun kembali lagi pada ego mereka yang terlalu tinggi. Mereka sama-sama enggan kalau harus memulai. Mereka hanya saling menunggu. Akhirnya tidak ada dari mereka yang mau mengalah untuk hal ini. Itulah sebabnya selama dua bulan ini mereka sama sekali tidak saling berhubungan lagi.
Mereka memutuskan untuk saling melupakan. Rama tidak menghubungi Raina terlebih dulu membuat Raina berfikir bahwa Rama sama sekali tidak menginginkan hubungan mereka berlanjut meskipun hanya sebatas berteman. Begitu juga dengan yang dipikirkan oleh Rama.
***
"Rama mau ngomong serius sama Mama dan Papa." Rama mulai berbicara ketika keluarganya tengah berkumpul di ruang keluarga.
"Ada apa, Sayang?" Mama Sari heran karena melihat Rama begitu serius ketika berbicara.
"Rama ...." Dia ragu untuk mengatakakannya.
"Ada apa sih, Kak? kenapa gugup? kaya disuruh menikah aja," celoteh Andi disusul tawa lebarnya.
"Hush... Jangan menggoda kakakmu terus!" Papa Budi ikut menyahut.
Rama masih diam, terlihat memikirkan rangkaian kata yang akan dia sampaikan.
"Setelah Rama pikir-pikir, Rama memutuskan akan mencoba mengikuti keinginan oma, Pa, Ma," kata Rama serius seraya menatap papa Budi dan Mama Sari bergantian.
Semua yang ada di ruangan itu melongo terkejut dengan ucapan Rama ini.
__ADS_1
"Kamu serius?" Papa Budi terlihat sangat senang mendengarnya tapi dia masih ragu dengan keputusan putranya itu.
Rama mengangguk. "Selama ini Rama sudah berusaha mencari pendamping hidup Rama dengan cara Rama sendiri. Nyatanya belum berhasil sampai sekarang. Lagian, kalau Oma sudah memilih gadis itu, pasti ada sisi baik pada dirinya yang akan memberikan kebahagiaan untuk Rama. Bukankah Oma selama ini selalu melakukan yang terbaik untuk keluarga kita?"