
"Halo, Assalamu'alaikum," suara malas Raina, suara khas bangun tidur.
"Wa'alaikum salam, Lo tidur ya? Pantes angkatnya lama. Sorry ganggu," kata Rama di seberang sana.
"Jangan berbelit, Raina masih mau tidur lagi ni," kata Raina bohong. Jelas matanya sudah terbuka lebar saat tahu Rama yang tengah meneleponnya.
"Soal tadi, apa Lo nanti malam bisa jalan keluar?" tanya Rama pelan hampir tidak terdengar, bahkan karena gugup kalimatnya pun tidak beraturan. Raina yang mendengar itu sudah tersenyum, pipinya merah merona dibuatnya, apa yang dia harapkan akhirnya terdengar juga. Untung saja Rama mengatakan itu lewat telepon, sehingga ekspresi Raina saat ini tidak diketahui oleh Rama.
"Rai, Lo tidak ketiduran kan?" tanya Rama lagi karena Raina tak kunjung menjawab.
"Nggak, Raina masih siaga."
"Terus, bagaimana jawabannya?"
"Memang Kak Rama tadi ngomong apa? Maaf Raina gak denger tadi," jawab Raina pura-pura. Sengaja mengerjai Rama.
Ah sial, kenapa tadi gue ngomongnya pelan sih. Raina jadi gak denger kan. Rama memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Kak." Kali ini gantian Raina yang memanggil karena Rama tak kunjung menyahut.
__ADS_1
Belum Rama menjawab tiba-tiba telepon di meja kantornya berbunyi. Dan Rama tentu harus segera mengangkatnya.
"Sorry Rai, gue angkat telepon dulu ya." Tanpa mendengar jawaban Raina, Rama sudah mengangkat gagang telepon di atas mejanya, ternyata papa Budi yang menelepon. Beliau memanggil agar Rama segera ke ruangannya.
Setelah selesai menutup telepon dari papa Budi, Rama kembali ke hpnya. Rama mengira Raina masih tersambung dengan hpnya, ternyata tidak. Sebenarnya dia ingin mengulangi pertanyaannya pada Raina tadi, tapi karena harus segera ke ruangan papanya, Rama mengurungkan niatnya itu.
Sementara Raina yang masih duduk di atas tempat tidur menjadi sangat kesal. Dia kesal karena Rama tidak mendengarkan kalimat terakhirnya tadi.
"Katakan dulu Kak Rama tadi mau ngomong apa! Kalau tidak, Raina tutup teleponnya!" Begitu kata Raina tadi, tapi ternyata Rama keburu berbicara dengan telepon yang lain. Raina kecewa dan langsung memutuskan sambungan teleponnya. Sebenarnya dia berfikir setelah menutup telepon kantornya pasti Rama akan menelepon dirinya kembali. Setelah menunggu beberapa waktu ternyata itu tidak terjadi.
Kenapa juga tadi gue pura-pura gak denger, semua jadi kacau kaya gini. Sorry Kak.. Raina menyesali perbuatannya.
Gak mungkin kan gue ngaku terus bilang kalau tadi sebenernya gue denger semuanya, bagaimana jadinya nanti? Aaarrgh... Jerit Raina dalam hati sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
Terjadi perbincangan cukup serius di ruang presdir yang membutuhkan waktu cukup lama, antara Rama dan papa Budi. Tentu saja perbincangan seputar perusahaan mereka. Karena besuk libur, semua diusahakan beres hari ini juga. Begitu inti pembicaraannya.
Setelah keluar dari ruangan papanya, Rama kembali lagi ke ruangannya dan langsung fokus dengan laptopnya. Dia bahkan belum sempat menghubungi Raina kembali. Rama merasa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu lebih utama untuk saat ini. Toh setahu dia Raina tadi tidak mendengar apa yang dia katakan jadi akan baik-baik saja kalau seandainya dia tidak segera menelepon Raina kembali.
Menuruti emosi dan hawa nafsu sering kali hanya akan merugikan, dan penyesalan adalah hadiah yang pasti akan diterima. Begitulah kiranya yang terjadi pada Raina saat ini. Niatnya untuk iseng dan mengerjai Rama ternyata tidak tepat pada waktunya. Sehingga kejadian yang tidak menyenangkan ini terjadi padanya. Ibarat senjata makan tuan, dia sendiri yang menjadi tidak tenang sampai sekarang karena keisengannya pada Rama siang tadi.
__ADS_1
Raina tentu saja masih kokoh dengan gengsinya seperti biasa, meskipun merasa menyesal dengan kata-katanya tadi, dia tetap enggan untuk menghubungi Rama lebih dulu. Dia memilih menunggu.
Semenjak kembali ke kamar setelah makan malam, berulang kali Raina melihat hpnya. Jangankan panggilan masuk, satu pesan dari Rama pun tidak ada. Setahu Raina jam-jam segini biasanya Rama sudah istirahat di rumahnya. Sehingga dia kesal sendiri karena Rama tak kunjung menghubunginya.
Tuh kan, memang Kak Rama tidak ada niatan ya. Terus kenapa tadi tanya seperti itu. Raina sudah cemberut sedemikian rupa.
Malam ini cuaca cukup cerah, Raina memandang keindahan bulan lewat jendela kamarnya. Malam minggu ini pasti menjadi malam yang menyenangkan bagi banyak orang di luar sana. Gita dan Veris pasti juga sedang asyik jalan di Mal untuk persiapan nonton bioskop malam ini.
Sebenarnya tadi mereka berencana nonton bertiga tapi karena Raina mendengar Rama bicara dalam telepon yang terkesan akan mengajak Raina jalan, Raina langsung meminta maaf pada kedua sahabatnya untuk tidak ikut nonton. Raina berfikir malam ini akan jadi malam pertama dirinya jalan bersama Rama sehingga dia berat kalau harus menghindar. Bahkan Raina sudah menunggu momen itu sejak lama. Kalau masalah nonton, kapan saja mereka bertiga bisa nonton bareng lagi. Begitu pikir Raina tadi. Ternyata yang terjadi sekarang dirinya hanya berdiam diri di kamar, melewati malam minggu ini dengan menunggu hp berbunyi.
Suara adzan terdengar, Raina segera berwudu dan melaksanakan shalat isya'. Merasa bosen di kamar, selesai shalat dia keluar kamar. Ternyata ayah dan bundanya sedang menikmati acara berita malam ini di ruang keluarga.
"Ayah sudah pulang?" sapa Raina begitu melihat ayahnya sudah santai di depan tv.
"Iya Na, ayah sengaja tutup lebih awal karena hari ini bongkar barang datang cukup banyak. Kasian anak-anak kecapekan." Ayah Tono menjelaskan.
"Lagian malam ini malam minggu, Yah. Pasti mereka juga ingin menikmati cerahnya malam ini," sahut Raina sambil tersenyum. Secara tidak langsung dia mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan sekarang.
"Anak bunda kok di rumah?" tanya bunda Suci dengan nada meledek.
__ADS_1
"Bunda.." Raina mengerti maksud bundanya, bunda Suci memang sering menggoda putrinya. Bahkan beliau sering menanyakan kok putrinya sama sekali belum pernah terlihat jalan bareng calon suaminya. Kalau pun pamit pasti pamitnya akan ke rumah keluarga Hartawijaya. Dan itu bukan kencan kan? Bunda Suci sebenarnya juga memahami bahwa hubungan putrinya dengan Rama memang belum seperti hubungan kekasih pada umumnya. Beliau memahami itu.
"Raina ke teras ya, mau cari udara segar." Raina berjalan meninggalkan ayah dan bundanya. Sambil membawa setoples camilan dan sebotol air putih dia melangkah menuju teras depan. Ayah dan bundanya hanya tersenyum saling pandang melihat punggung putrinya yang berlalu. Raina kemudian duduk bersandar pada kursi santai di teras sambil memainkan hpnya. Tentu saja masih sambil menunggu Rama menghubungi dirinya.