Cinta Raina

Cinta Raina
Hari Minggu (Part 4)


__ADS_3

Setelah mendapat arahan dari instruktur, Rama dan Raina mengganti pakaian dan memakai pelampung. Siap untuk memulai uji nyali mereka. Bagi Raina ini hal baru yang masih asing baginya, perasaan tertantang mengalahkan ketakutannya. Dia pasrah, mengandalkan kemampuan Rama untuk saat ini. Lain halnya dengan Rama, untuk urusan jet ski sebenarnya bukan hal asing bagi dia. Sudah beberapa kali dia mencoba, dan masalah keamanan sudah tidak diragukan lagi. Namun situasinya yang berbeda, membonceng Raina tentu saja memiliki sensasi tersendiri baginya. Rasa bahagia yang tidak terucap oleh kata namun terbaca jelas oleh sorot mata.


"Gimana, sudah siap?" tanya Rama ketika mereka berdua sudah naik ke atas dudukan jet ski.


"Iya, siap."


"Lo yakin tanpa berpegangan sudah merasa aman?" tanya Rama kembali.


"Ini sudah berpegangan kok," kata Raina karena memang dia sudah berpegangan pada bagian samping jet ski itu.


"Bukan nakut-nakutin, tapi lebih aman kalau Lo pegangan gue, tapi ya terserah Lo sih" ucap Rama.


"Masa sih? Begini juga aman kan?" kata Raina masih bersikukuh tidak memindahkan tangannya.


"Terserah Lo."


Rama mulai menyalakan jet ski itu, perasaan deg degan Raina semakin menjadi. Reflek dia memeluk Rama dengan erat, berpegangan dengan kuat karena jet ski sudah mulai meluncur. Rama pun tersenyum senang dibuatnya.


Keseimbangan di atas air sangat diperlukan, dan Rama bisa mengendalikannya dengan baik dan benar. Menyusuri birunya air laut, deburan ombak berhasil membasahi baju mereka berdua. Beberapa kali jeritan Raina terdengar ketika air asin itu menyapa mereka dengan kasarnya. Rama hanya bisa tertawa, gemas mendengar ocehan gadis cantik yang kini tengah menempel padanya.


Tiga puluh menit telah berlalu. Jet ski sudah kembali pada tempat asalnya. Rama dan Raina juga sudah selesai mengganti pakaiannya. Raina tampak terlihat lebih fresh, terlihat sekali bahwa dia baru saja memperbaiki make up nya saat selesai mengganti pakaiannya tadi. Meskipun sederhana, tetap saja membuat Rama terpana.


"Seru ya ternyata," kata Raina seraya memperlihatkan senyum manisnya. Masih terngiang dengan jelas keseruan saat meluncur di atas laut bersama Rama tadi.


"Lo seneng?" tanya Rama sambil melirik kearah Raina.

__ADS_1


Raina menanggapinya dengan tersenyum. Dan lagi-lagi itu membuat Rama bahagia. Bagi Rama, bisa membuat Raina tersenyum seperti itu merupakan sebuah keberhasila. Dia selalu berusaha agar Raina nyaman bersama dirinya.


"Gue laper ni, pengen makan apa, Rai?" Mengendalikan jet ski tentu saja cukup menguras tenaga Rama, cacing di dalam perutnya kini terasa mulai berontak meminta jatah.


"Terserah Kak Rama saja, eh makan nasi ya!" pinta Raina terdengar sedikit manja, membuat Rama tidak bisa menahan senyumnya kali ini.


"Iya. Ayo makan dulu terus pulang!" ajak Rama kemudian dia bangkit dari duduknya.


"Kita ... tidak menunggu sunset?" ragu Raina bertanya. Dia sebenarnya sangat berharap biasa menikmati sunset petang ini. Selama ini dia hanya mendengar cerita dari teman-temannya mengenai keindahan sunset di sini. Mumpung sudah disini tentu Raina berharap bisa menikmatinya nanti.


Pantai XX memang terkenal dengan keindahan sunsetnya. Apalagi cuaca sedang cerah seperti sekarang, sudah terbayang betapa mempesonanya keindahan situasi pantai saat memasuki senja atau kala matahari terbenam nanti. Langit yang berwarna merah, bersatu dengan hamparan pasir putih dan gelombang air laut yang tidak terlalu liar menjadi pemandangan yang bisa dinikmati oleh para wisatawan.


"Lo pengen? Sorry, kali ini gue belum bisa mengabulkan permintaan Lo," jawab Rama to the point.


Sudah gue duga. Kak Rama memang begitu kan? Gerutu Raina dalam hati.


Eh,, gue salah menilai Kak Rama lagi? Raina menarik lagi kata-katanya.


"Iya juga sih" sahut Raina.


"Jujur, gue gak enak sama om Tono dan tante Sari kalau kita sampai kemaleman. Ini pertama kali kita keluar bareng. Gue gak pengen membuat orangtua Lo kecewa," jelas Rama. Terlihat keseriusan Rama saat mengatakannya.


Raina mengangguk memahami. Diam-diam ada rasa bangga pada dirinya terhadap sikap dan jalan pemikiran Rama. Mengagumi sikap Rama yang selalu berusaha menjaga kepercayaan orang lain, dia berusaha bertanggungjawab dengan apa yang telah dia ucapkan. Lagi-lagi Raina menemukan sisi baik calon suaminya itu. Dia merasa semakin nyaman bersama Rama. Meskipun dia berpikir Rama sampai sekarang belum mencintainya, tapi sikapnya seperti ini membuat Raina tidak menyesali keputusannya untuk menerima perjodohannya kala itu.


Mereka akhirnya mencari tempat makan. Selesai makan, tak berapa lama suara adzan terdengar, Rama dan Raina melaksanakan shalat Asar terlebih dahulu kemudian langsung pulang. Kalau langsung pulang begin, sekitar maghrib pasti mereka sudah sampai rumah.

__ADS_1


***


"Wa'alaikum salam," jawab bunda Suci dari dalam. Mengetahui putrinya pulang, beliau kemudian ke depan dan membuka pintu rumahnya.


"Alhamdulillah, akhirnya kalian sampai rumah juga," ucap bunda Suci ketika mendapati putrinya bersama Rama sudah berdiri di depan pintu. Rama dan Raina kemudian mencium tangan beliau bergantian.


Rama tidak langsung pulang, dia mandi, shalat dan makan malam di rumah Raina sesuai permintaan ayah Tono. Beliau hari ini juga tutup toko lebih awal sehingga bisa pulang lebih cepat.


Entah apa yang sedang mereka bicarakan, yang jelas selesai makan malam Rama dan ayah Tono duduk santai di teras depan sambil ngobrol hangat. Raina yang sangat ingin bergabung harus mengurungkan niatnya karena bunda Suci melarangnya.


Rama baru berpamitan saat waktu menunjukkan hampir setengah sembilan malam. Raina mengantarkan Rama sampai di halaman depan.


"Makasih untuk hari ini, Kak," kata Raina tulus.


"Sama-sama, makasih juga karena hari ini Lo sudah ngeluangin waktu Lo untuk jalan bareng gue."


"Langsung pulang ya, terus istirahat. Gak usah mampir-mampir!" kata Raina. Dia memutar bola matanya, menutup matanya dalam dan membukanya kembali, merasa kaget dengan kalimatnya sendiri.


Rama tersenyum, merasa mulai ada perhatian tulus Raina terhadap dirinya. "Iya, Rai. Ini juga sudah mulai capek ngantuk, rasanya pengen cepet tidur. Eh, apa gue nginep aja ya?" pertanyaan nakal Rama sengaja menggoda Raina.


"Nggak boleh!" sahut Raina spontan, entah kenapa itu membuat pipinya merona. Dibawah sinar lampu yang sedikit redup, Rama tetap bisa melihatnya. Dia justru tertawa kecil mendengar jawaban Raina. Raina pun memukul lengan atas pria tampan itu.


"Iya.. iya.. gue bercanda," kata Rama lagi masih sambil tertawa dan mengusap-usap bekas pukulan Raina yang tidak sakit itu. "Lo juga cepet istirahat, besuk berangkat bareng gue kan?"


"Terserah Kak Rama aja."

__ADS_1


***


Maaf banget ya Kakak pembaca, situasi pandemi membuat kesibukan di dunia nyata semakin meningkat. Updatenya jadi sangat telat seperti ini.


__ADS_2