
Keluar dari jalan utama, mobil Rama memasuki sebuah jalan yang lebih kecil. Mengikuti arahan yang ditunjukkan oleh google map dalam hpnya, sesuai dengan alamat rumah yang dikirim oleh bundanya Raina kemarin.
Mobil Rama berhenti tepat disebuah rumah minimalis yang cukup sederhana namun terlihat nyaman ditempati. Rama mematikan mesin mobilnya kemudian turun. Dia menoleh kanan kiri,mencari dan memastikan nomer rumah yang ada didepannya ini sudah sesuai dengan alamat yang dia dituju atau belum. Ternyata sudah tepat. Rama kemudian melangkahkan kakinya menuju depan pintu.
"Assalamu'alaikum." Salam Rama.
"Wa'alaikum salam." Terdengar suara perempuan menjawab salam dari dalam rumah.
Beberapa detik kemudian seseorang membuka pintu rumah itu. Perempuan paruh baya dengan senyum hangatnya. Dia adalah bunda Suci, bundanya Raina.
"Siapa ya??" Tanya bunda Suci cukup heran karena pagi-pagi mendapat tamu orang yang masih asing baginya. Rama meraih tangan bunda Suci kemudian menciumnya sopan.
"Maaf.. Apa benar ini rumah Raina? Saya Rama, tante."
Oh.. Ini Rama putra sulung dari pak Budi Hartawijaya itu.
"Jadi ini nak Rama, iya silahkan masuk!" Bunda Suci membuka pintu lebar-lebar dan mengajak Rama masuk rumah. "Silahkan duduk!"
"Iya tan, makasih." Rama duduk dan melihat sekeliling, tidak tampak Raina disana. "Maaf, bagaimana keadaan Raina, tan?" Tanya Rama sopan.
"Alhamdulillah sudah mendingan, ini tadi juga habis makan pagi dan minum obat,, sebentar tante ke kamarnya dulu."
Bunda Suci beranjak dan menuju kamar Raina. Rama menunggu di ruang tamu. Entah kenapa setelah beberapa hari tidak ketemu Raina, ada rasa kangen pada gadis yang biasanya merengek dan adu argumen dengan dia itu.
Rupanya Raina masih berbaring dan menyandarkan punggungnya disebuah bantal di atas ranjang. Dia fokus memainkan hpnya sehingga dia tidak mendengar ada tamu di rumahnya.
Bunda Suci membuka pintu kamar Raina dan masuk ke dalam menghampiri putrinya. "Na, ada tamu mencari kamu di luar."
"Siapa bun?? Veris dan Gita gak bilang kalau mau kesini."
"Bukan mereka." Jelas bunda Suci sambil merapikan rambut Raina dengan jari-jarinya. Raina mengernyitkan dahinya. Tidak bisa menebak siapa yang datang.
"Siapa bun?"
"Rama."
"Ha??" Raina kaget dan spontan menegakkan posisi duduknya."Bunda bercanda, ya? Mana mungkin pria itu kesini, dia kan gak tahu rumah kita!"
"Kamu gak percaya sama bunda? Sudah cepet temui sana! Jangan marah terus, kasian dia. Pagi-pagi disempetin kesini." Ucap bunda Suci lembut kemudian berdiri dari duduknya. "Jangan lupa rapikan dulu rambutmu!" Kata bunda Suci setengah berbisik diselingi senyum hangatnya. Kemudian beliau keluar dari kamar Raina.
"Bundaaa." Raina merasa bunda Suci tengah menggodanya.
__ADS_1
Mengetahui Rama tiba-tiba berkunjung ke rumahnya membuat perasaan Raina tidak karuan. Awalnya dia pikir dia akan merasa semakin kesal kalau suatu saat bertemu dengan pria itu. Tapi nyatanya beda. mengetahui Rama kini tengah menunggunya membuat Raina deg degan. Entah kenapa Raina merasa bahagia dibalik bibir cemberutnya.
Raina berdiri, melangkahkan kakinya menuju meja rias. Merapikan rambutnya. Melihat wajahnya sedikit pucat, Raina mengambil lipstik yang ada didepannya.
Bodoh Raina.. Bodoh..
Kenapa juga kamu harus berdandan untuk pria itu?
Memangnya dia siapa kamu??
Raina menatap bayangan dirinya dicermin. Meletakkan lipstik itu kembali.
Dengan wajah yang tetap dibiarkan pucat, Raina keluar dari kamarnya. Melangkahkan kakinya pelan menuju ruang tamu. Mengatur perasaannya yang kini berbanding terbalik dengan pikirannya.
Rama terlihat duduk di kursi ruang tamu, memainkan jari jemarinya diatas pahanya. Menunjukkan perasaan dia yang juga sedang tidak karuan.
"Kak Rama.."
"Rai.." Rama spontan berdiri dan tanpa sadar mendekat pada Raina, meraih tangan gadis itu. "Lo sudah sehat??"
"Kak.." Raina menatap kearah tangannya yang kini digenggam Rama, seolah berkata, Lepaskan! Rama yang baru saja menyadari tentu saja segera melepas tangan itu.
"Sorry.. Sorry.. Gue..." Rama menggaruk garuk kepalanya sendiri seperti orang bodoh.
Rama dan Raina akhirnya duduk, duduk pada kursi yang berseberangan dibatasi oleh meja kaca diantara mereka.
Sial.. Gue kenapa ini??
Bahkan gue ingin sekali memeluk lo, Rai.
"Kak Rama dari mana bisa tahu alamat rumah Raina?"
"Itu gak penting, gimana keadaan lo? Sudah sehat?"
"Raina gak papa, tentu saja sehat lhah." Raina tidak ingin terlihat lemah didepan Rama.
"Lo pucet Rai, apa perlu gue antar ke dokter??"
"Kak Rama ini apa-apaan sih, siapa yang sakit? Gak ada yang perlu ke dokter."
Rama hanya berdecak mendengar ucapan Raina. Mungkin Raina pikir Rama tidak tahu kalau dirinya baru saja sakit karena beban pikiran. Memikirkan kesalahannya pada mama Sari.
__ADS_1
Tiba-tiba bunda suci datang membawa segelas minuman untuk Rama.
"Silahkan diminum!" Bunda Suci meletakkan segelas minuman itu didepan Rama.
"Iya, tante. Makasih."
"Kalian sudah dewasa, segera selesaikan masalah kalian!" Kata bunda Suci yang memang sudah tahu perihal masalah diantara mereka ini.
"Iya, tante." Jawab Rama lirih. Sedangkan Raina hanya menundukkan kepalanya. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Baiklah.. Tante ke belakang dulu ya Ram. Na,, Gak boleh marah terus-terusan!" Pesan bunda Suci sebelum meninggalkan ruang tamu. Beliau kembali ke dapur dan meneruskan aktifitasnya. Membuat kue kering seperti biasanya.
"Rai.. Maafin gue ya.. Gue gak nyangka kejadiannya bisa rumit seperti ini. Maafin gue." Ucap Rama langsung pada poin utama.
"Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi." Jawab Raina asal.
"Maafin perkataan nyokab gue yang mungkin kemarin sudah sangat nyakitin Low.. Membuat lo sampai sakit seperti ini.
"Tante Sari tidak salah, kita yang sangat berdosa telah berbohong pada beliau." Ucapan Raina dibenarkan oleh Rama. Bagaimana pun bentuk kemarahan mama Sari, itu hanya sebagian kecil bila dibandingkan dengan kesalahan mereka berdua.
"Maafin gue, Rai. Lo jadi kebawa-bawa dalam masalah gue." Rama menghela napas sejenak kemudian meneruskan kalimatnya. "Gue sudah minta ijin pada mama, Lo pengen minta maaf pada nyokab gue kan?? Mama sudah ngijinin gue ajak lo ke rumah."
"Kak Rama bercanda? Tante Sari sudah tidak ngijinin Raina ke rumah kak Rama lagi. Bahkan untuk memberi les privat pada Andi juga sudah tidak perlu." Jawab Raina lesu.
Rama pindah dari duduknya, kini duduk disamping Raina."Dengerin gue!" Rama menatap Raina lekat."Mama sudah ngijinin lo untuk main ke rumah. Lo bisa minta maaf pada mama. Pasti mama juga maafin lo. Percaya sama gue!" Jelas Rama seraya menggenggam tangan Raina erat, meyakinkan.
"Kak.." Lagi-lagi Raina menatap tangannya yang digenggam oleh Rama, memberi kode pada sikap Rama itu.
Gila...
Gue kenapa sih??
Rama geram dengan tangannya sendiri.
***
Selamat membaca kakak-kakak semua,, Semoga suka.
Kasih like jika suka ya..
Kasih komen juga dong biar tambah semangat nulisnya.
__ADS_1
Makasih ♡^_^♡