
***
Bangunan tua dengan model rumah bandung atau biasa disebut rumah Jawa itu terlihat suram. Mungkin karena sudah dibiarkan kosong selama tiga tahun tanpa ada penghuninya. Di halaman depan dan samping terlihat rumput liar menjuntai yang dibiarkan memanjang tak terurus. Dinding samping rumah yang tanpa cat membuat bangunan itu terlihat lapuk.
Mas Agung memarkirkan sepeda motor tepat di depan pintu rumah. Lalu mengajakku memasuki rumah tua itu. Aku pun mengekor di belakang walaupun awalnya terlihat ragu untuk melangkahkan kaki mengikuti Mas Agung ke dalam.
Baru saja beberapa langkah, aroma bau apek dari debu yang dibiarkan melekat tebal di semua dinding dan perabotan terasa menusuk Indra penciuman. Refleks aku menutup hidung menggunakan ujung hijab. Sarang laba-laba terlihat memenuhi setiap sudut ruangan. Yang lebih membuatku tidak tahan dengan bau kotoran yang menyengat yang ternyata berasal dari segerombolan kelalawar yang terlihat banyak bergelantungan di atas langit-langit atap rumah.
Rumah berukuran besar dengan empat kamar tidur itu dibiarkan begitu saja tanpa ada orang yang membersihkan dan merawatnya selama bertahun-tahun lamanya. Lantai rumah sudah tidak terlihat bentuk dan wujudnya diselimuti abu tebal.
Untuk sekadar duduk pun tidak terlihat ada tempat yang bisa digunakan, karena semua barang dan perabotan rumah terlihat dipenuhi debu tebal. Apalagi untuk bisa rebahan dan selonjoran meluruskan punggung dan kaki. Padahal aku merasa badan ini sudah sangat ingin untuk diajak istirahat melepas penat karena sudah beberapa jam tadi berkeliling mencari kontrakan.
"Keadaanya seperti ini, Dek, siap gak kalau harus tinggal di sini?" tanya Mas Agung memastikan.
"Gak tahu, Kak. Tapi kalau ingat omongannya Mbak Sukma tadi Adek males kalau harus balik dan tinggal di rumah itu lagi. Sedangkan nyari kontrakan juga gak nemu." Aku menjawab dengan bingung.
"Terus Adek maunya gimana?"
"Kalau bisa saat ini juga kita gak usah pulang lagi ke sana."
"Mau tinggal di rumah kosong ini sekarang juga?" tanya Mas Agung.
"Ya, gimana lagi daripada harus balik ke rumah sana."
"Kalau begitu kita harus mulai membersihkan dan merapihkan isi rumah ini sekarang," ajaknya kemudian.
Aku hanya menganggukkan kepala lemah. Menyanggupi saran darinya.
Kami mulai menyapu dan mengepel lantai kamar dan beberapa ruangan agar bisa segera dipakai untuk beristirahat.
"Kita mau ngisi kamar depan apa belakang, Dek?" Mas Agung memberikan pilihan kepadaku.
"Kayaknya lebih nyaman ngisi kamar yang di belakang aja kali Kak, biar sekalian dekat ke dapur dan kamar mandinya."
Lantai kamar, dapur dan kamar mandi dipel sampai beberapa kali oleh Mas Agung menggunakan sikat cuci dan air yang langsung diguyurkan. Karena kalau hanya menggunakan kain pel saja hasilnya tidak akan bersih maksimal.
Setelah bahu membahu membersihkan dan merapihkan beberapa ruangan. Mas Agung mengajakku untuk mengambil pakaian yang belum sempat dibawa ke rumah yang akan kami tempati.
Kedua orang tua Mas Agung sempat terkejut saat anak lelakinya itu mengutarakan niatnya yang akan pindah dan tinggal di rumah kosong bersamaku. Awalnya ibu menahan dan tidak mengizinkan kami tinggal di rumah yang sudah dibiarkan lama kosong. Tapi, setelah Mas Agung memberikan alasan yang kuat dan terus membujuk sang ibu. Akhirnya wanita yang berumur setengah abad itu pun mengiakan dan membiarkan untuk memberikan kebebasan kepada sang anak dan menantunya.
__ADS_1
***
Aku membuka mata perlahan. Tangan ini meraba tempat tidur di samping. Mencari sosok yang tidur bersamaku sehabis waktu Zuhur tadi. Tapi, yang kucari ternyata sudah tidak ada di tempat. Samar terdengar oleh Indra pendengaranku seperti ada seseorang yang sedang menyikat baju dari arah kamar mandi.
Aku melepas selimut yang tadi kukenakan. Dengan rasa penasaran yang tinggi aku pun mulai turun dari tempat tidur lalu berjalan perlahan menuju suara yang membuat hati ini bertanya-tanya.
Aku terkesiap saat melihat sosok yang terlihat sedang bergumul dengan satu bak cucian pakaian kotor itu ternyata sang suami tercinta.
"Kakak lagi nyuci?" tanyaku setengah tak percaya dengan pemandangan di hadapanku.
Sudah ada beberapa potong pakaian yang sudah selesai dicuci berjejer tergantung rapih di tempat jemuran.
"Kelihatannya?" Mas Agung balik nanya.
"Kenapa dicuci sekarang, Kak? Kan, nanti besok pagi bisa Adek cuci."
"Gak apa-apa, Dek, kasihan istri Kakak kalau sampai kecapean karena mengurus pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya."
"Itu, kan, emang udah tugas Adek sehari-hari, Kak."
"Bukan."
"Ya, tugas kita bersama. Tugas istri sama tugas suami juga yang harus dikerjakan berdua."
Rasa haru dan bahagia memenuhi rongga dada saat mendengar jawaban dari kekasih halalku barusan. Sikap dan ucapannya selalumembuat diri ini merasa hanya akulah istri satu-satunya yang paling bahagia dan beruntung di muka bumi ini. Bisa mendapatkan pasangan hidup yang selain bisa menerima apa adanya juga selalu bersikap memuliakan istri.
Jauh di lubuk hatiku menyerukan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Khaliq yang sudah memberikan jalan kemudahan kepada diri ini untuk bertemu dengan pasangan hidup yang super.
Semua perih, luka dan air mata yang sempat kualami karena tidak jarang dulu dengan setatus yang masih melajang aku sering mendengar kabar angin kalau diriku selalu jadi bahan olok-olokan oleh orang sekitar dan memberikan julukan penghargaan kepadaku sebagai perawan tua yang tak laku-laku.
Namun, kini seakan terbayar lunas semua kepedihan yang kurasakan saat diri ini dipertemukan dengan pasangan hidup dalam waktu singkat. Walaupun harus ada beberapa orang yang dikecewakan.
***
"Dhinil, yang bener aja kamu membiarkan dan nyuruh suamimu nyuci baju satu bak besar sendiri seperti itu?" Lengkingan suara Mbak Sukma cukup mengejutkanku yang sedang berhadapan dengan segunung setrikaan.
Tanpa sepengetahuanku ternyata ibu beranak dua itu telah masuk ke rumah yang baru ditempatin. Mungkin karena pintu depan yang tertutup dan dikunci dari dalam sehingga Mbak Sukma memutar jalan dan masuk melalui pintu belakang.
"Emh ... Dhinil tadi gak nyuruh Mas Agung buat nyuci, kok, Mbak, tadi Dhinil udah bilangin biar nyucinya ditunda aja, tapi Mas Agungnya yang maksa, makanya Dhinil tinggalin untuk nyetrika." Aku menjawab tergagap.
__ADS_1
"Alasan aja, kamu!" ujar Mbak Sukma ketus.
Aku terkesiap dan hanya bisa terdiam menunduk. Aku tak habis pikir dengan sikap Mbak Sukma yang kelihatan selalu tidak suka dan bersikap sinis kepada dirinya. Sikap baik dan manis Mbak Sukma hanya saat aku pertama datang saja. Setelah itu Mbak Sukma mulai memperlihatkan sikapnya yang selalu membuatku serba salah dibuatnya.
"Jadi istri tuh, jangan pemalas! jangan banyak ngerem di dalam kamar. Harus bisa bersosialisasi dengan orang lain. Apalagi kamu, kan, orang baru di sini. Harusnya pandai bawa diri biar bisa diterima dan disenangin orang sekitar sini." Mbak Sukma melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap tajam ke arahku yang mulai sibuk dengan setrikaan.
Tepatnya aku mencari kesibukan sebisa mungkin agar tidak terlalu rikuh menghadapi sikap Mbak Sukma yang selalu bersikap ketus.
Bukan tanpa alasan sikap Mbak Sukma seperti itu terhadapku. Itu karena dirinya merasa gagal saat dulu Mas Agung menolak dijodohkan dengan Niken, temannya yang dianggap sudah mapan dan sukses karena sudah mempunyai perusahaan sendiri, rumah dan kendaraan beroda empat hasil kerja keras sendiri. Mbak Sukma sangat terobsesi kalau Niken harus jadi adik iparnya dan bisa menikah dengan Mas Agung. Jauh sebelum dulu Agung kenal dengan Ifa lalu mengenalku.
"Eh, ada Mbak, kapan ke sini?" tanya Mas Agung melihat kakak perempuannya sudah berada di dalam rumah.
"Mbak disuruh ibu untuk nganterin makanan buat kamu, tuh!" ucap Mbak Sukma menunjukkan kantong keresek yang ditaruhnya di atas meja makan.
"Makanan apa, Mbak?"
"Ya, nasi, lauk Karo sayur, lah, buat makan. takutnya istrimu ini belum bisa masak. Daripada harus beli di luar, jadi malah dan boros nantinya." Ekor mata Mbak Suka mengering ke arahku.
Serasa ada benda tajam yang tak kasat mata mengiris bagian dalam rongga dada saat ucapan pedas Mbak Sukma barusan ditujukan kepadaku langsung di hadapan Mas Agung. Aku berusaha menyembunyikan bulir bening yang mulai terasa merembes dari kedua sudut mata yang mulai memanas. Jiwaku yang sensitif sudah tidak bisa menahan perasaan sedih tiap kali ada orang yang bersikap sinis seperti itu.
Dalam batinku hanya bisa berdoa agar bisa dikuatkan setiap menerima ucapan menyakitkan dari wanita yang umurnya jauh lebih dewasa dari diriku itu.
"Ya, sambil berjalannya waktu aja nanti belajar masaknya, ya, Dek?" ujar Mas Agung membelaku.
"Di mana-mana juga yang namanya sudah menikah dan sudah mempunyai suami itu bukan waktunya untuk baru belajar, tapi harusnya sudah tinggal peraktek buat layanin suami. Bukan malah sebaliknya suami layanin istri," tukas Mbak Sukma.
Mbak Sukma berjalan menuju pintu depan dan membuka kunci pintunya lalu melangkah keluar tanpa basa-basi kepada penghuni rumah.
Perasaanku baru merasa lega dan tenang kembali setelah memastikan wanita itu sudah mulai menyalakan sepeda motor lalu meninggalkan kami berdua.
"Jangan didengerin, ya, Dek, omongan Mbak Sukma barusan. Dia mah memang sifatnya seperti itu, suka ceplas-ceplos kepada orang lain tanpa pernah peduli dengan perasaan yang jadi lawan bicaranya."
"Iya, Kak, Adek gak apa-apa, kok." Aku berusaha memperlihatkan senyum menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di hadapan suami.
Seandainya rumah orang tuaku dekat dan tidak berjarak mungkin aku sudah pergi pulang dan memilih hidup bersama keluarga sendiri. Sampai Mas Agung mengajaknya hidup tinggal jauh dari keluarganya sendiri. Dengan harapan diriku tidak selalu merasa tertekan dengan sikap yang selalu ditunjukkan oleh Mbak Sukma.
"Mending makan dulu, yuk, Dek! Perut Kakak udah kerasa melilit, nih, habis nyuci tadi." ajak Agung merangkul pundak sang istri dari arah belakang. Aku membiarkan tangan kekar itu terus melingkar dibelakang leher. Ada perasaan hangat menyelimuti hati saat mendapat perlakuan seperti itu dari lelaki tinggi itu.
Bersambung ....
__ADS_1