Cinta Tanpa Tapi

Cinta Tanpa Tapi
LDR


__ADS_3

***


Saat aku berada di dalam kamar, samar terdengar suara sepeda motor milik Mas Agung dari arah luar dan mematikan mesinnya tepat di halaman rumah. Ada perasaan bahagia menyusup hati saat melihat dirinya sudah tiba di rumah.


"Kaak ... ada kabar bahagia, nih, buat kita," ucapku membuka pintu seraya mencium punggung tangannya penuh


takzim.


"Kabar bahagia apa, nih?" tanyanya sembari melepas sepatu lalu menaruhnya di rak. Lalu menggandeng pundakku untuk memasuki rumah kembali. 


"Kita nanti sebelum idul Fitri harus mudik dulu, Kak."


"Kenapa? Kan, Adek tinggal di sini belum ada satu bulan."


"Tadi Adek dapat SMS dari kepala sekolah kalau bisa diusahakan Adek harus pulang dulu katanya."


***


Tujuh hari sebelum lebaran dan di tempat kerjanya Mas Agung sendiri sudah mulai diliburkan. Aku berpamitan kepada orangtuanya Mas Agung kalau hari raya tahun ini rencananya hendak mudik dulu ke tempatku dan merayakan hari lebaran di sana.


Mendengar penjelasan dariku Bapak mertua memberikan usul yang cukup membuatku sedikit terkejut. Beliau memberikan masukkan agar aku dan Mas Agung sementara waktu LDR-an dulu. Dengan alasan agar fokus dulu dengan pekerjaan masing-masing.


"Sehabis lebaran nanti, untuk sementara kamu gak usah ikut balik ke sini dulu, ya, biar Agung saja yang pulang sendiri nanti," saran lelaki sepuh itu menatap lekat ke arahku.


"Iya, Pak," jawabku pendek. Meski hati kecil menolak kalau harus hidup berjauhan dengan lelaki yang telah menghalalkanku.


"Iya, ini demi kebaikan kalian berdua. Nanti kalau kamu yang lolos jadi PNS biar Agung yang ikut kamu ke sana. Tapi, kalau gak lolos kamu yang harus ikut suami untuk tinggal dan menetap di sini."

__ADS_1


"Iya, Pak, saya ngerti." Aku menjawab patuh.


Mas Agung mulai berkemas dan menyiapkan keberangkatan untuk kami berdua. Bus malam sinar jaya langganan akan berangkat dari terminal jam lima sore. Kami kini tengah menunggu bus jurusan yang akan membawanya ke terminal Serang nanti.


"Dek, lihat, tuh, kalau pake kerudungnya seperti itu dilihatnya lebih rapih, ya?" Mas Agung memberitahuku dagunya terangkat ke depan mengarah kepada seorang perempuan dengan penampilan tertutup sempurna.


Hijab lebar yang dikenakan berukuran besar menjuntai hampir mencapai mata kaki. Gamis yang dikenakannya pun hampir tidak terlihat karena tertutup hijab longgar. Seluruh anggota tubuh wanita itu tertutup sempurna karena wajahnya pun memakai nikob.


"Berarti Adek harus berpakaian seperti itu juga, ya, Kak?" tanyaku menyelidik.


Karena sampai saat ini aku baru sekadar menutup aurat alakadarnya walaupun sudah terbiasa dengan pakaian lengan panjang dan rok panjang, namun jilbab yang dipakai masih jilbab segi empat berukuran pendek dan transparan.


"Ya, harusnya seperti itu, tho."


Aku hanya nyengir kuda menanggapi saran suami.


***


Sore itu sehari sebelum idul fitri, Aku lagi sibuk membantu emak masak untuk menu buka puasa sekaligus masak buat besok lebaran.


Tiba-tiba, kepala terasa pusing keleyengan, mata berkunang-kunang, dan badan gemeter di sertai keringat dingin, yang tiba-tiba mengucur.


" Hoek ... hoek .... "


Aku berusaha menutup mulut, karena seperti ada yang mau keluar dari dalam perut tapi tidak ada yang keluar. Mual, pusing, panas dingin jadi satu.


Melihat anaknya seperti ini, Emak menyuruhku untuk istrahat di kamar.

__ADS_1


Mas Agung pun menyarankan untuk berbuka membatalkan puasa karena melihat kondisiku yang tiba-tiba jadi seperti orang sakit. Aku hanya bisa manut, dan meminum teh hangat yang sudah dibuatkan Mas Agung. Padahal tinggal satu jam lagi menjelang waktu Maghrib dan berbuka puasa, tapi karena badannya terasa lemas semua dengan terpaksa aku membatalkan puasa.


Setelah meminum beberap teguk teh manis hangat badanku mulai terasa membaik dan sehat kembali. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Aku pun mulai bisa beraktifitas normal sebagaimana biasa lagi. Tanpa ada keluhan seperti tadi. Mual, pusingnya sudah hilang begitu saja.


***


Sehari setelah idul fitri aku diajak Mas Agung untuk bersilaturrahmi ke rumah Tetehnya yang jaraknya cukup lumayan jauh, membutuhkan waktu dua jam dalam perjalanan menggunakan roda dua.


"Waduh ... pengantin baru datang sambil hujan-hujanan. Gak ngiyup dulu tadi di jalan?" Sambut Mbak Mila, pemilik rumah.


"Udah langsung ke kamar mandi dulu aja, sekalian mandi keramas biar gak pusing nantinya," sambung Mbak Mila menyarankan melihat kami berdua basah kuyup turun dari sepeda motor.


Selesai membersihkan badan, Mbak Mila menunjukkan kamar buatku beristirahat. Saat langkah kaki memasuki kamar berukuran sedang itu terlihat sudah ada spring bad dengan seprai yang kelihatannya baru diganti dan bantal guling yang tersusun rapih. Mungkin sudah dipersiapkan sebelumnya oleh Mbak Mila untuk tempat tidur kami biar merasa nyaman dan betah selama berada di rumahnya.


Setelah selesai berganti baju dan baru beberapa menit aku merebahkan tubuh di  tempat tidur untuk beristirahat meluruskan tulang punggung yang terasa pegal setelah dua jam duduk di atas jok motor. Tiba-tiba rasa mual yang seperti kemarin-kemarin kurasakan datang menyerang kembali. Aku pun berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan semua isi perut sampai terkuras semua sisa makanan yang sempat kumakan sebelemunya.


"Kak, Adek gak kuat, nih, kayak mau sakit," rengekku pada Mas Agung setelah keluar dari kamar mandi dan terduduk lemas di sisi tempat tidur.


"Mungkin kecapekan sama masuk angin kali Dek, tadi habis perjalanan jauh naik motor keangin-angin dan kehujanan juga," jawabnya. Karena selama diperjalanan tadi kami berkendara sambil diguyur hujan deras tanpa berteduh terlebih dulu.


"Iya, tapi Adek gak enak hati, Kak, masa lagi main di rumah orang datang-datang malah sakit, jadi gak bisa ngapa-ngapain."


"Mau gimana lagi penyakit datangnya kan, gak bisa ditebak. Ya udah, sini Kakak kerokin dulu, biar nanti rada enakan lagi badannya," saran Mas Agung sembari mencari alat untuk kerokan.


Saat sedang kerokan rasa mual yang kuat mulai dirasakan kembali olehku, aku pun berlari ke arah kamar mandi tanpa berkata apa pun terlebih kepada Mas Agung.


"Mualnya belum hilang juga?" tanya Mas Agung saat aku keluar dari kamar mandi dan langsung merebahkan badan yang terasa lemas di tempat tidur.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2