Cinta Tanpa Tapi

Cinta Tanpa Tapi
Kabar Menyakitkan


__ADS_3

***


Tangisku terhenti sesaat karena dering ponsel dari atas meja lemari. Kuraih benda pipih itu lalu memijit tombol hijau yang tertera di layarnya.


"Hallo ... Assalamualaikum, maaf dengan siapa?" tanyaku berusaha sebisa mungkin menetralkan suara agar tidak terdengar seperti suara orang yang sedang menangis.


"Waalaikumsalam, saya teman kerjanya Mas Agung, Mbak, hanya sekedar ingin memberi tahu tentang satu permasalahan yang mungkin Mbak sendiri belum mengetahuinya."


"Maaf, Bu, masalah apa, ya?"


"Kemarin siang Pak Agung sempat dipanggil ke ruang bapak kepala sekolah, katanya ada kasus dengan Bu Mega."


"Kasus apa, gitu, Bu?" Dengan hati berdebar aku bertanya.


"Menurut rekan yang lain katanya ada hubungan khusus antara suami Mbak dengan Bu Mega."


Jantungku seketika berdegup kencang. Seakan ada benda tajam tak kasat mata mengiris di dalam rongga dada. Badan gemetar antara menahan rasa kecewa dan luka. Terjawab sudah semua sikapnya yang selalu berubah akhir-akhir ini terhadapku. Hancur lebur rasanya hati ini.


Semua pengorbanan yang dulu pernah kupersembahkan untuknya seakan sia-sia belaka. Dulu, aku begitu yakin memilihnya untuk hidup bersama meniti masa depan dan berharap dapat menciptakan sebuah biduk rumah tangga yang bahagia dan harmonis. Sebisa mungkin aku melepaskan diri dari Iwan dengan harus mengorbankan perasaannya.


Bukan hanya perasaan Iwan, tapi juga perasaan Ifa, adik kandungnya sendiri yang harus merelakan pria pujaannya harus berjodoh denganku.


Sungguh aku tidak sedikit pun menyangka dengan sikap busuknya Mas Agung selama ini saat di belakangku. Dulu, aku yakin sekali dengan dirinya. Kalau ia tidak akan pernah membuatku sesakit ini. Karena menurutku, orang yang sedikit banyak paham tentang agama dan selalu rajin mengikuti kajian sepertinya akan berpikir seribu kali kalau harus melakukan hal-hal negatif. Seperti menyakiti pasangan atau perbuatan yang melanggar syariat lainnya. Tapi semua perkiraan itu meleset jauh dari ekspektasi.

__ADS_1


Aku hanya mampu menelan pil pahit ini seorang diri. Karena sangat tidak mungkin semua masalah ini kuceritakan kepada Emak dan Abah di sana. Apa kata mereka nanti? Tapi yang jelas aku tidak ingin membagi beban hati ini kepada kedua orang yang seharusnya saat ini sudah bisa kebahagiaan itu. Emak dan Abah sudah cukup menderita dengan ujian yang berasal dari arah lain. Jangan sampai aku menambahi beban di atas pundaknya kembali.


***


Mas Agung memasuki kamar tanpa sedikit pun beralih kepadaku yang masih larut dengan pikiran dan rasa yang sulit diartikan ini. Kulihat ia sedang berkemas diri untuk melaksanakan salat Asar berjamama'ah di masjid terdekat dari rumah yang kami tinggali.


"Kak, aku mau pulang aja," pintaku berusaha menahan gejolak di hati.


"Lha, kenapa? Bukannya kemarin berangkat ke sini bareng sama Mbak Mila, kenapa gak pulang bareng lagi nanti?" Dahi Mas Agung berkerut masih dengan tampang acuh. Tidak terlihat pancaran kekhawatiran di matanya terhadapku yang sampai saat ini masih terisak. Bola mataku terasa sudah tak berbentuk lagi. Jadi membengkak seperti tersengat lebah karena terlalu lama dibawa menguras air mata dengan posisi tiduran.


"Enggak, Kak, pokoknya aku pengen pulang sekarang!" tandasku dengan suara meninggi.


Ia sempat terkesiap saat mendengar lengkingan suaraku.


"Gak perlu diantar aku masih bisa pulang sendiri!" teriakku tertahan.


Aku mulai berkemas memasukkan semua pakaian ke dalam travel bag. Tidak ada satu lembar pakaian pun yang tersisa di lemari. Biar Mas Agung paham kalau benar-benar kecewa dengan semua sikapnya terhadapku. Terlebih tentang masalahnya yang tadi diinformasikan oleh rekan kerjanya sendiri melalui sambungan telepon.


Hati ini sudah bulat untuk pergi dari kehidupannya. Seolah ia tidak tahu dan tidak menyadari dengan semua pengorbananku. Aku yang sudah rela meninggalkan pekerjaan dan keluarga yang jauh di sana demi hanya untuk bisa hidup bersama dengan lelaki yang selama ini aku banggakan kepada setiap orang dan keluarga di sana.


Namun, balasannya sungguh sangat mengejutkan dan membuatku tidak percaya kalau dirinya sudah berkhianat di belakangku.


Dengan mata sembab aku minta diantar ke terminal untuk bisa menemukan bus yang akan mengantarkanku ke kampung halaman.

__ADS_1


Tapi, sebelum itu ia malah membawaku ke rumah orang tuanya. Memberitahukan mereka kalau aku minta pulang.


Kedua orang tua Mas Agung dibuat terkejut setelah anak lelakinya mengutarakan maksud akan mengantarku ke terminal.


"Apa gak nunggu dua hari ke depan lagi saja, Nduk? pulang bareng sama Mbak Mila dan keluarganya. Kemarin waktu berangkat ke sininya, kan, bareng. Masa pulangnya sendirian?" saran Bapak, kami duduk berkeliling di ruang tamu.


Aku duduk di kursi berhadapan dengan Mas Agung. Sedangkan Bapak dan Ibu duduk di samping. Hanya ada kami berempat di rumah ini. Karena Mbak Mila sedang pergi mengajak anaknya bermain di luar rumah. Sedangkan Mbak Sukma entah sedang berada di mana. Semenjak aku datang ke sini bersama Mbak Mila aku tidak pernah bertemu dengan Mbak Sukma. Aku pun tidak pernah bertanya juga tentang keberadaannya. Hanya pernah mendengar dari pembicaraan antara Mbak Mila dan Ibu kalau Mbak Sukma lagi menenangkan diri karena ditinggal menikah lagi oleh suaminya yang asal Jogja. Sedangkan kedua anaknya dibawa serta oleh neneknya ke Jogja. Diurus dan di sekolahkan di sana.


"Gimana, Dhin, bisa kan, menunggu pulang bareng Mbak Mila nanti?" tanya Ibu mengulang pertanyaan Bapak.


"Dhinil mau pulang sekarang aja, Bu, Pak." Aku menjawab sambil menunduk. Menjatuhkan pandangan ke arah lantai. Tepatnya menyembunyikan cairan hangat yang mulai terasa memenuhi kedua bola mata. Sesekali aku mengusapnya dengan tisu yang ada dalam genggaman tangan.


"Ada masalah apa, sih, sebenarnya Gung, kok, istrimu tiba-tiba minta pulang mendadak seperti ini? Perasaan kemarin kalian baik-baik saja." Kudengar suara Bapak yang memberikan pertanyaan kepada Mas Agung.


Mas Agung menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan sebelum ia menjawab pertanyaan dari sang bapak.


"Gak ada apa-apa. Saya sendiri bingung dengan kemauannya itu," ucap Mas Agung. Mata elangnya menatap tajam ke arahku.


Aku membuang pandangan saat tatapan kami bertemu. Entah jawaban yang dilontarkannya barusan memang yang sebenarnya atau hanya pura-pura untuk mengelak dari permasalahan yang ia ciptakan sendiri.


"Gak mungkin kalau tidak apa-apa Dhinil bersikap aneh seperti ini. Kalian berdua sudah sama-sama dewasa. Bukan anak remaja lagi. Walaupun rumah tangga kalian masih dalam tahap belajar karena baru beberapa bulan menikah. Tapi, kalau sedang ada masalah sebaiknya bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Komunikasikan dari hati ke hati. Buang rasa egois yang tinggi dalam diri masing-masing." Bapak menasihati aku dan Mas Agung dengan bijak dan panjang lebar.


Namun, tak urung merubah keputusanku yang sudah bulat.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2