Cinta Tanpa Tapi

Cinta Tanpa Tapi
Mulut Pedas Mbak Sukma


__ADS_3

Aku tersentak saat merasa tanganku ditepuk-tepuk pelan tangan seseorang.


"Bangun, Dek, salat Subuh .... !"


"Mana istri Kakak?" Aku terlonjak dari tidurku.


"Istri? Ini istri Kakak. Baru bangun, kan?" jawab lelaki berperawakan tinggi itu terlihat bingung mendengar pertanyaanku barusan.


"Bukan, Kak, istri Kakak yang satu lagi."


"Sejak kapan Kakak punya istri dua?" tanyanya mengerutkan dahi. Alis tebalnya hampir bertaut.


Aku menghela nafas panjang. "Alhamdulillah ... ternyata tadi semua hanya mimpi buruk," gumamku seakan berbicara kepada diri sendiri.


Refleks langsung menubruk dan memeluk erat lelaki yang masih berdiri menjulang di hadapanku.


"Adek kenapa? Emang mimpi apa tadi?" tanyanya mengusap pucuk kepala lembut.


"Adek benci sama Kakak .... !" sahutku lirih di telinganya.


"Lho, Adek benci kenapa sama Kakak? Salah Kakak apa?" cecarnya dengan nada bingung.


"Tadi Adek mimpi kalau Kakak punya istri dua, selain Adek." Aku merajuk dalam pelukannya.


"Pasti tadi malam tidurnya gak baca doa, ya? Jadi bisa mimpi aneh begitu. Atau karena gara-gara habis dengerin cerita ustaz yang menerangkan tentang poligami kemarin sore?" tebaknya kemudian.


"Enggak, kok," kilahku melonggarkan pelukan lalu melepasnya dan berlalu menuju kamar mandi.


Usai salat Subuh aku masih dibayangi oleh mimpi tadi yang terasa begitu nyata kurasa. Pikiran buruk semakin menghantui tiap kali mengingat mimpi yang menguras emosi itu.


Untuk ketiga kalinya aku bermimpi seperti itu. Apakah ini pertanda buruk untukku? Ah ... Entahlah. Tapi, untuk ketenangan dan memastikan agar hati ini bisa sedikit tenang tanpa dibayangi asumsi jelek dari pikiran sendiri. Aku pun berusaha menanyakan langsung kepada Mas Agung.


Sambil menikmati sarapan pagi berdua. Aku mulai bertanya kepadanya.


"Kak, sebenarnya Kakak mempunyai rahasia enggak, sih, sama Adek?" tanyaku memulai obrolan.


"Maksudnya? Rahasia apa?" jawabnya balik nanya.


"Ya, rahasia. Itu buktinya Adek sering ngalamin mimpi yang sama seperti tadi."


"Mimpi, kan, hanya bunga tidur, Dek. Gak usah dipikirin terlalu dalam," ujarnya berusaha menenangkan.


"Tapi, masalahnya mimpinya gak hanya satu kali doang, Kak, udah ketiga kali Adek mimpi seperti itu terus," sanggahku kekeuh.


"Apa hati Kakak ada niat untuk nikah lagi atau punya niat berpoligami kelak nanti?" sambungku penuh selidik.


"Astaghfirullah, Dek, gak baik punya pikiran kemana-mana seperti itu. Apalagi memikirkan hal belum pasti." Mas Agung mengingatkan.


"Jawab aja, Kak, jujur. Kalau memang hati kecil Kakak mempunyai niat seperti itu." Aku berkata dengan suara bergetar. Menunggu jawabannya takut sama persis dengan yang kukhawatirkan selama ini.


"Enggak, lah, Dek, Kakak sadar diri masih jauh untuk hal itu. Masih banyak kekurangan dalam diri Kakak kalau harus melakukan yang tanggung jawabnya besar dan sangat berat di hadapan yang Maha Kuasa nanti. Satu yang harus Adek tahu, Kakak gak mau istri yang sangat Kakak cintai ini sampai terluka dan kecewa kalau harus ada orang ketiga di antara kita," tutur lelaki bermata tajam itu menatapku dalam seolah ingin meyakinkan hati sang istri yang selalu dilanda rasa ragu.


Aku menghela nafas lega setelah mendengar penuturan langsung dari mulutnya. Setidaknya mimpi tadi bisa cepat enyah dari benakku. Yang kadang membuat mood menjadi kacau.


"Yaudah, cepat habiskan dulu sarapannya, nanti kita berangkat ke suatu tempat yang belum pernah Adek kunjungi," titahnya kemudian.


"Kemana, Kak? Kakak mau ngajak Adek kemana?" Mataku berbinar seketika mendengar ajakannya. Karena kebetulan ini hari Minggu. Hari libur.


"Ada, deh, pokoknya tempat yang indah yang berada di daerah sini."


"Asiik ... Hore ... " sorakku kegirangan persis anak kecil saat diberi hadiah permen oleh bapaknya.


Jam delapan pagi, setelah pekerjaan rumah selesai. Kami berangkat menggunakan roda dua menuju tempat yang dijanjikan oleh Mas Agung tadi.

__ADS_1


Jalanan yang dilalui naik turun seperti menuju puncak gunung. Setelah melewati jarak tempuh kurang lebih satu jam kemudian tiba di tempat yang menurutku begitu unik dan memesona.


Saat kulihat di depan sana pemandangan yang begitu menawan. Di tengah rindangnya pepohonan yang hijau terdapat air jernih yang mengalir keluar dari mulut patung naga raksasa. Di sebelahnya terdapat mulut gua yang dipenuhi oleh puluhan pengunjung yang berjejal di sana.


"Ini namanya gua Jatijajar, lho, Dek, pernah denger gak?" Mas Agung memberi tahu nama tempat yang saat ini tengah kami singgahi.


"Baru denger dan baru ke sini sekarang," jawabku.


"Padahal ini pengunjungnya dari berbagai daerah, lho, Dek, ada yang dari Jakarta, Sumatera dan daerah lainnya juga. Biasanya rombongan siswa sekolah yang mampir ke sini."


"Iya, tadi di parkiran banyak bus pariwisata dari luar provinsi juga." Aku mengiyakan.


Kami mulai memasuki mulut gua menyusuri lorong yang cukup lumayan panjang hingga akhirnya bisa melihat langit kembali setelah berada di pintu keluar gua. Lumayan menguras energi, tapi cukup membuatku terpukau dengan pemandangan sepanjang jalan yang dilalui karena disuguhkan dengan tempat-tempat yang unik.


"Kakak sebelumnya pernah ke sini selain sama Adek?" tanyaku iseng.


"Pernah dulu wakt zaman sekolah SMA."


"Sama siapa?"


"Teman."


"Teman perempuan apa laki-laki?" cecarku tak sabar.


"Kenapa emang?"


"Ya, gak apa-apa jawab aja jujur."


"Perempuan."


Aku mendengkus kesal. Mencubit pergelangan tangannya gemas.


"Katanya tadi suruh jujur, lah, kok, malah nesu tho, piye?" ujarnya tertawa kecil.


Mas Agung mengajakku duduk di kedai kopi sambil memesan lotek dan dua gelas teh manis hangat serta mendoan yang digoreng dadadakan. Kami menikmati makan siang sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang silih berganti. Membuat suasana selalu ramai.


Baru saja bangkit dari duduk aku merasakan bagian betisku terasa ngilu dan nyeri. Sehingga kembali terduduk di tempat semula.


"Adek kenapa? Gak bisa bangun?" tanya Mas Agung melihat aku meringis.


"Kaki Adek sakit, Kak." 


"Yaudah, istirahat aja dulu di sini, jangan dipaksakan. Sini Kakak pijit dulu biar rada mendingan." Tangannya meraih betisku menyingkap sedikit gamis bagian bawah lalu mulai memijitnya perlahan.


"Numpang istirahat dulu sebentar, nggih, Bu." Mas Agung berbasa-basi ke pemilik warung yang dibalas dengan anggukan kepala serta senyum ramah oleh ibu setengah baya tersebut.


"Nggih, Mas, monggo, wonten nopo-nopo," jawab pemilik warung dengan logat dan bahasa jawanya yang medok.


"Mungkin karena tadi habis naik tangga menuju mulut gua terlalu jauh jadi kakinya sakit." Mas Agung menjelaskan.


***


Aku membuka mata perlahan. Jemari meraba tempat tidur di samping. Mencari sosok yang tidur bersamaku sehabis waktu Zuhur tadi. Namun yang dicari ternyata sudah tidak ada di tempatnya lagi. Samar terdengar oleh indera pendengaran seperti ada seseorang yang sedang menyikat baju dari arah kamar mandi.


Melepas selimut yang tadi kukenakan. Dengan rasa penasaran yang tinggi kaki ini pun mulai turun dari tempat tidur lalu berjalan perlahan menuju suara yang membuat hati bertanya-tanya.


Aku terkesiap saat melihat sosok yang sedang bergumul dengan satu bak cucian pakaian kotor itu ternyata sang suami tercinta.


"Kakak lagi nyuci?" tanyaku setengah tak percaya dengan pemandangan di hadapan.


Sudah ada beberapa potong pakaian yang sudah selesai dicuci berjejer tergantung rapih di tempat jemuran.


"Kelihatannya?" Mas Agung balik nanya.

__ADS_1


"Kenapa dicuci sekarang, Kak? Kan, nanti besok pagi bisa Adek cuci."


"Gak apa-apa, Dek, kasihan istri Kakak kalau sampai kecapean karena mengurus pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya."


"Itu, kan, emang sudah tugas Adek sehari-hari, Kak."


"Bukan."


"Terus?"


"Ya, tugas kita bersama. Tugas istri sama tugas suami juga yang harus dikerjakan berdua."


Rasa haru dan bahagia memenuhi rongga dada saat mendengar jawaban dari kekasih halalku barusan. Sikap dan ucapan sang suami selalu membuat diriku merasa hanya akulah istri satu-satunya yang paling bahagia dan beruntung di muka bumi ini. Bisa mendapatkan pasangan hidup yang selain bisa menerima apa adanya juga selalu bersikap memuliakan istri.


Jauh di lubuk hati aku menyerukan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Khaliq yang sudah memberikan jalan kemudahan kepadaku untuk bertemu dengan pasangan hidup.


Semua perih, luka dan air mata yang sempat dialami karena tidak jarang dulu dengan status yang masih melajang sering mendengar kabar angin kalau diriku selalu jadi bahan olok-olokan oleh orang sekitar dan memberikan julukan penghargaan sebagai perawan tua yang gak laku-laku.


Namun, kini seakan terbayar lunas semua kepedihan yang kurasakan, saat dipertemukan dengan pasangan hidup terbaik dalam waktu singkat. Walaupun harus ada beberapa orang yang dikecewakan.


***


"Dhinil, yang bener aja kamu membiarkan dan nyuruh suamimu nyuci baju satu bak besar sendiri seperti itu?" Lengkingan suara Mbak Sukma cukup mengejutkanku yang sedang berhadapan dengan segunung setrikaan.


Tanpa sepengetahuanku ternyata  ibu beranak dua itu telah masuk ke rumah yang baru ditempatin ini. Mungkin karena pintu depan yang tertutup dan dikunci dari dalam sehingga Mbak Sukma memutar jalan dan masuk melalui pintu belakang.


"Emh ... Dhinil tadi gak nyuruh Mas Agung buat nyuci, kok, Mbak, tadi Dhinil udah bilangin biar nyucinya ditunda aja, tapi Mas Agungnya yang maksa. Makanya Dhinil tinggalin untuk nyetrika." Aku menjawab tergagap.


"Alasan aja, kamu!" ujar Mbak Sukma ketus.


Aku terkesiap dan hanya bisa terdiam menunduk. Tak habis pikir dengan sikap Mbak Sukma yang kelihatan selalu tidak suka dan bersikap sinis kepada diriku. Sikap baik dan manis Mbak Sukma hanya saat pertama datang saja. Setelah itu Mbak Sukma mulai memperlihatkan sikapnya yang selalu membuatku serba salah dibuatnya.


"Jadi istri tuh, jangan pemalas! Jangan banyak ngerem di dalam kamar. Harus bisa bersosialisasi dengan orang lain. Apalagi kamu, kan, orang baru di sini. Harusnya pandai bawa diri biar bisa diterima dan disenangin orang sekitar sini."  Mbak Sukma melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap tajam ke arahku yang mulai sibuk dengan setrikaan. Tepatnya aku mencari kesibukan sebisa mungkin agar tidak terlalu rikuh menghadapi sikap Mbak Sukma yang selalu bersikap ketus.


Menurut Mas Agung saat kemarin bercerita kepadaku. Bukan tanpa alasan sikap Mbak Sukma seperti itu terhadapku. Itu karena dirinya merasa gagal saat dulu Mas Agung menolak dijodohkan dengan Niken, temannya yang dianggap sudah mapan dan sukses karena sudah mempunyai perusahaan sendiri, rumah dan kendaraan beroda empat hasil kerja keras sendiri. Mbak Sukma sangat terobsesi kalau Niken harus jadi adik iparnya dan bisa menikah dengan adiknya itu. Jauh sebelum dulu Mas Agung kenal dengan Ifa lalu mengenalku.


"Eh, ada Mbak, kapan ke sini?" tanya Mas Agung melihat kakak perempuannya sudah berada di dalam rumah.


"Mbak disuruh ibu untuk nganterin makanan buat kamu, tuh!" ucap Mbak Sukma menunjukkan kantong plastik yang ditaruhnya di atas meja makan olehnya tadi.


"Makanan apa, Mbak?"


"Ya, nasi, lauk Karo sayur, lah, buat makan. takutnya istrimu ini belum bisa masak. Daripada harus beli di luar, jadi malah boros nantinya." Ekor mata Mbak Suka mengerling sinis ke arahku.


Serasa ada benda tajam yang tak kasat mata mengiris bagian dalam rongga dada saat ucapan pedas Mbak Sukma barusan ditujukan kepadaku langsung di hadapan suami. Aku berusaha menyembunyikan bulir bening yang mulai merembes dari kedua sudut mata yang mulai terasa memanas. Jiwaku yang sensitif sudah tidak bisa menahan perasaan sedih tiap kali ada orang yang bersikap sinis seperti itu.


Dalam hati hanya bisa berdoa agar bisa dikuatkan setiap menerima ucapan menyakitkan dari wanita yang umurnya jauh lebih dewasa dari dariku itu.


"Ya, sambil berjalannya waktu aja nanti belajar masaknya, ya, Dek?" ujar Mas Agung seolah menetralkan perasaanku.


"Di mana-mana juga yang namanya sudah menikah dan sudah mempunyai suami itu bukan waktunya untuk baru belajar, tapi harusnya sudah tinggal peraktek buat layanin suami. Bukan malah sebaliknya suami layanin istri," tukas Mbak Sukma.


Mbak Sukma berjalan menuju pintu depan dan membuka kunci pintunya lalu melangkah keluar tanpa basa-basi kepada kami berdua.


Perasaanku baru merasa lega dan tenang kembali setelah memastikan wanita itu sudah mulai menyalakan sepeda motor lalu meninggalkan halaman rumah.


"Jangan didengerin, ya, Dek, omongan Mbak Sukma barusan. Dia memang sifatnya seperti itu, suka ceplas-ceplos kepada orang lain tanpa pernah peduli dengan perasaan yang jadi lawan bicaranya."


"Iya, Kak, Adek gak apa-apa, kok." Aku berusaha memperlihatkan senyum menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di hadapan suami.


Seandainya rumah orang tuaku dekat dan tidak berjarak mungkin sudah pergi pulang dan memilih hidup bersama keluarga sendiri. Sampai nanti Mas Agung mengajakku hidup tinggal jauh dari keluarganya sendiri. Dengan harapan diriku tidak selalu merasa tertekan dengan sikap yang selalu ditunjukkan oleh Mbak Sukma.


"Mending makan dulu, yuk, Dek! Perut Kakak udah kerasa melilit, nih, habis nyuci tadi." ajaknya merangkul pundakku dari arah belakang. Aku membiarkan tangan kekar itu terus melingkar dibelakang leher. Ada perasaan hangat menyelimuti hati saat mendapat perlakuan seperti itu dari lelakiku.

__ADS_1


Bersambung ....


Yang suka dengan kisah ini, Monggo mampir di kolom komentar, nggih🙏


__ADS_2