Cinta Tanpa Tapi

Cinta Tanpa Tapi
Dijemput


__ADS_3

Aku hampir putus asa menghadapi pria tinggi yang terus mengikuti. Serentetan bayangan kejadian buruk sebentar lagi akan terjadi padaku. Itulah pikiran yang kini memenuhi isi kepalaku. Aku merasa lega ketika ada suara dari arah depan yang ternyata seorang kernet menyelamatkanku dari teror pria tadi.


"Kebumen, Mbak?" tanya kernet itu menghampiriku yang masih berdiri pias setengah menangis.


"Ii ... iya, Pak," jawabku tergagap.


"Ayo, Mbak, cepat naik! Busnya sebentar lagi berangkat!"


Dengan nafas tersengal setengah berlari aku menuju bus yang barusan ditunjukkan oleh bapak kernet yang sudah menyelamatkanku dari lelaki gondrong tadi yang membuat sport jantung.


"Mbak, suaminya kok, gak ikut naik?" tanya kernet saat melihatku mulai menaiki tangga bus seorang diri.


"Saya sendiri, Mas."


Bus mulai melaju perlahan menuju tempat tujuan.


Aku menghela napas lega, memejamkan mata sebentar lalu menyunggingkan senyum yang terasa berat saat menyadari ada bapak tua di sebelah menatapku dengan pandangan penuh tanya.


"Ndak apa-apa, Nak?" Bapak itu bertanya hati-hati.


Aku menggeleng.


"Ndak apa-apa, Pak," jawabku dengan pandangan sedikit mengabur.


"Sendiri aja, Nak? Suami gak ikut?"


"Iya, Pak, ini saya mau nyusul suami.


"Dari mana?" tanyanya sambil menyodorkan air mineral.


"Dari Serang ini mau ke Kebumen." Aku menolak air mineral yang bapak tadi sodorkan secara halus.

__ADS_1


Bapak separuh baya itu mengangguk-angguk. Seolah mengerti apa yang kurasakan.


"Sudah berapa bulan kandungannya?"


Pandangannya beralih ke bagian perutku yang sudah membuncit


"Delapan bulan, Pak."


"Pasti rindu sekali pada suaminya, ya, terlihat jelas dari wajahnya."


Aku menghela napas lalu mengangguk pelan. "Iya, rindu sekali." Lalu segera memalingkan wajah ke luar jendela bus yang kutumpangi.


Di luar sana, terlihat hamparan sawah dan jalanan khas pedesaan. Sementara di sisi-sisi jalan raya terlihat jajaran rumah penduduk dalam berbagai tipe dan keadaan berbaris rapi.


Jam di tangan menunjukkan angka delapan sepuluh menit. Aku turun persis di depan pasar. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar pinggir jalan mencari seseorang yang akan menjemput. Di seberang jalan sana kulihat sosok yang tidak asing lagi sedang memakai helm dan memutar sepeda motor lalu menghampiriku yang masih berdiri mematung.


"Udah sarapan belum?" tanyanya mengulurkan punggung tangan lalu aku menciumnya dengan takzim.


"Sarapan di mana orang Adek baru turun dari bus?"


"Langsung pulang, yuk!" ajak Mas Agung usai membayar makanan kami tadi berdua.


Aku menganggukkan kepala menyetujuinya.


Setelah kurang lebih menempuh perjalanan tiga puluh lima menit akhirnya sampai juga di depan rumah.


Saat langkah pertama memasuki ruang tengah aku dibuat tercengang dengan keadaan di dalamnya yang diluar dugaan.


Yang kutahu dari orang-orang, ketika rumah hanya dihuni oleh seorang suami seorang diri tanpa ada istri isinya pasti tidak jauh seperti kapal pecah. Tapi yang kini ada di hadapanku sungguh luar biasa perbedaannya. Tidak ada satu barang pun yang terlihat tercecer di lantai. Begitupun dengan semua barang yang ada di sana sudah tertata rapih seperti ada tangan terampil yang sudah biasa membereskannya. Bahkan lemari dan meja sudah berpindah letaknya dari tempat semula. Jadi seperti suasana baru yang kurasa saat pertama kali masuk.


"Kakak di rumah ditemenin siapa selama gak ada Adek?" selidikkuterheran dengan suasana rumah yang terlihat rapi dan bersih.

__ADS_1


"Sendiri, kan, istrinya gak ada," jawab Mas Agung tersenyum melirik ke arahku.


"Ini yang bersihin dan beresin rumah siapa?" cecarku masih ragu dengan jawabannya.


"Kakak sendiri tho, emang kenapa? Aneh, ya?"


"Kan, mau ada istri datang, makanya disiapkan serapi dan senyaman mungkin biar istrinya gak minta pergi ke jauh lagi," sambungnya masih mengulum senyum.


Aku pun ikut tersenyum mendengar jawaban pria beralis tebal itu. Ada rasa hangat seketika menyusup di dalam dada. Dari pertama bertemu tadi sikap lelaki bertubuh tinggi itu jauh berbeda dengan dulu saat ia pergi meninggalkanku.


"Udah istirahat dulu di kamar. Pasti ngantuk semalam belum bisa tidur, kan, selama di atas bus?" titahnya kemudian.


Saat aku membuka pintu kamar. Kusapukan pandangan ke seluruh ruangan berukuran 4x5 meter itu. Suasananya pun tidak jauh berbeda dengan ruangan yang lain tadi tidak terlihat ada sepotong baju pun yang  tergantung di dinding kamar. Tempat tidur tertata rapi dengan balutan seprai yang sepertinya baru saja diganti dengan yang baru. Aku seperti berada di ruangan asing yang sebelumnya belum pernah kusinggahi karena semua barang sudah berganti posisi dari tempat semula.


Aku berasa jadi ratu teristimewa di hadapan Mas Agung dengan semua perlakuannya yang disuguhkan. Rasa kecewa yang dulu sempat ku rasa mendadak menguap entah kemana. Begitu mudahnya hati ini melupakan semua rasa perih yang dulu sempat dirasa bahkan hampir membuat putus asa karena dihadapkan dengan realita yang tidak sesuai dengan harapan.


Usai mencuci muka dan kaki aku beranjak ke tempat tidur untuk sekadar meluruskan badan yang terasa penat. Karena hampir dua belas jam lebih terus menerus dengan posisi duduk di dalam bus.


"Dek, bangun ... Salat Zuhur dulu, gih! Kalau masih ngantuk nanti gampang dilanjutin lagi tidurnya setelah salat dan makan siang." Mas Agung mengguncang tubuhkubpelan. Mungkin karena keadaan tubuh yang letih sehingga tanpa sadar mataku langsung terpejam setelah berada di kasur.


Di sela-sela waktu usai makan siang Mas Agung tiba-tiba berbicara yang sedikit membuatku terkejut.


"Dek, Kakak minta maaf kalau selama ini selalu membuat Adek kecewa dan sakit hati dengan sikap Kakak selama ini," ucapnya dengan suara parau.


"Minta maaf untuk apa?" tanyaku pura-pura acuh.


"Saat Adek pergi dari sini Kakak sudah membaca semua tulisan Adek di buku diary yang Adek simpan dalam laci lemari. Kakak baru sadar ternyata banyak sekali terjadi kesalahpahaman di antara kita selama ini."


"Kesalahpahaman tentang apa?" cecarku kemudian.


"Di buku diary Kakak baca kalau Adek katanya merasa sakit hati dan kecewa dengan Kakak gara-gara Kakak main wainta di belakang Adek. Itu semuanya tidak benar, Dek. Demi Allah, Kakak tidak pernah berbuat sepicik itu. Itu semua hanya kesalahpahaman antara Kakak dan semua rekan kerja. Hingga akhirnya berita fitnah itu sampai di telinga Adek."

__ADS_1


"Tapi, katanya Kakak sampai disidang oleh kepala sekolah bersama wanita itu, kan? Lalu buktinya apa biar Adek bisa percaya dengan semua ucapan Kakak?" sanggahku belum yakin.


Bersambung ....


__ADS_2