Cinta Tanpa Tapi

Cinta Tanpa Tapi
Meminta Petuah


__ADS_3

***


"Bagaimana keadaan teman saya, Pak?"


 Kudengar suara cempreng Lyra bertanya cemas kepada salah satu petugas puskesmas yang tadi memeriksaku.


"Temannya gak kenapa-kenapa, kok, Neng. Cuman pingsan sebentar. Mungkin tadi hanya kaget dan terbentur sedikit. Sekarang juga sudah siuman."


"Alhamdulillah, makasih, Pak."


Aku langsung mengajak Lyra untuk segera meninggalkan puskesmas. Setelah dirasa badanku baik-baik saja dan tidak ada luka yang serius. Hanya ada lecet sedikit di bagian lengan dan betis yang sudah dibalut perban. Aku khawatir kalau kejadian ini sampai di telinga Emak dan Abah yang pasti akan merasa cemas dan khawatir.


"Yakin, lo gak kenapa-napa, Dhin?" tanya Lyra memastikan.


"Iya, gue gak kenapa-napa, kok, cuman sedikit pusing aja. Nanti juga ilang sendiri," jawabku yakin.


"Balik pulang apa lanjut ikut ke kampus gue, nih?"


"Ke kampus aja. Tapi nanti kalau udah di rumah lo jangan bilang ke siapa-siapa, ya, kalau kita tadi sempat jatuh dari motor," pintaku sebelum kami melangkah keluar puskesmas.


"Ashiaap!"


***


Motor matcik berwarna biru yang dikendarai Lyra mulai memasuki gerbang kampus. Lyra terus melajukan kendaraannya menuju kantin yang berada di sekitar sana. Lalu mengajakku  duduk di deretan bangku kosong kantin selama ia menunggu bel masuk ke kelas.


"Yuk, kita duduk dulu! Ambil aja makanan yang Lo suka, tangannya menunjuk aneka ragam gorengan dan cemilan yang berjejer di atas meja yang memanjang.


"Siapa, Ra, mahasiswi baru, ya?" tanya ibu kantin yang sudah kelihatan akrab dengan Lyra.


"Iya, Bu, mahasiswi baru stok lama ini." Lyra menjawab sambil cengengesan.

__ADS_1


"Sialan, Lo!" gerutuku mendengkus ke arah Lyra. Aku tersenyum mengangguk ke arah ibu kantin yang dibalas dengan hal yang serupa olehnya.


"Lo, mau makan gorengan apa mau gue pesenin karedok?" Lyra menawarkan.


"Nanti gue kalau mau pesan sendiri, lah." Aku menjawab dengan malas.


"Yaudah, gue tinggal dulu lo di sini, ya, gue udah ada kelas, nih, jam segini," pamit Lyra membereskan sebagian buku-bukunya yang tadi sempat tercecer di atas meja kantin.


"Nitip temen Lyra yang satu ini, ya, Bu," teriak Lyra kepada ibu kantin sebelum dirinya berlalu.


"Emang gue barang, apa? dititip-titipin segala," sungutku membelalakkan kedua bola mata ke arah Lyra yang sudah kabur.


Hampir lima belas menit aku duduk di bangku kantin sendiri. setelah menghabiskan beberapa potong gorengan dan menenggak habis segelas teh manis hangat. Aku berjalan ke arah kasir untuk membayar semua yang kupesan tadi.


"Dhin, kebetulan gue gak ada jam lagi, nih, cabut, yuk!" ajaknya mengagetkanku yang datang tiba-tiba dari arah belakang.


"Cabut ke mana lagi kita?" tanyaku.


Lyra mengangkat bahu. "Terserah Lo maunya kemana?" 


Hampir tiga puluh menit perjalan kami pun sampai di tempat yang dituju. Aku mengajak Lyra langsung menuju kediamannya Pak Kiyai yang biasa akrab dipanggil dengan sebutan Abi. Kebetulan beliau sedang berada di rumah dan sedang santai di taman samping gedung asrama putri.


Abi mengajak kami untuk memasuki ruang tamu lalu mempersilahkan duduk. Aku dan Lyra memilih bersimpuh di lantai sedangkan beliau duduk di atas sofa persis di hadapanku.


Perasaan segan dan canggung masih terus menyelimutiku. Hingga mulut pun terasa berat untuk mengutarakan tujuan awal tadi untuk datang ke sini.


"Sepertinya ada yang penting Neng Dihinil menyempatkan mampir ke sini, apa mau ngasih surat undangan?" Pertanyaan Abi membuyarkan lamunanku.


"Emh ... i, iya ... Bi," jawabku tergagap.


"Waah, perasaan baru kemarin Neng Dihinil memakai seragam putih biru sekarang udah mau nikah, tho?"

__ADS_1


"Iya, Bi," jawabku sambil menunduk tersipu.


Aku pun berusaha mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan kegelisahan dan keraguan yang menggangu perasaanku akhir-akhir ini. Abi mulai menyimak setiap kalimat yang keluar dari bibirku. Sesekali kulihat kepalanya mengangguk-angguk pertanda beliau sangat memahami dengan apa yang kurasakan.


"Owh, begitu masalahnya," ucap beliau. Lalu Abi meneruskan perkataannya. "Memilih pasangan hidup memang tidak boleh sembarangan. Kalau sampai salah pilih nanti bisa jadi malapetaka dunia akhirat. Karena pasangan adalah orang yang akan menentukan suka dan duka hidup kita sepanjang kehidupan yang dijalani kelak bersama-sama dengannya." Abi mengambil gelas besar berisi air putih di meja lalu meneguknya perlahan. Sambil mempersilahkan aku dan Lyra untuk meminum teh hangat yang tadi disajikan oleh Teh Nining yang sudah bekerja lama di rumah beliau. Abi mulai melanjutkan wejangannya.


"Untuk seorang wanita, maka pilihlah calon suami yang bisa menjadi imam yang baik.


Caranya agar bisa memilih pasangan yang tepat, selain karena harta, rupa, dan keturunan, maka hendaklah kita pilih yang bagus agamanya. Itulah kriteria yang tepat untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih pasangan hidup," pungkas Abi setelah beliau memberi penjelasan panjang lebar.


"Iya, Bi, nanti akan Dhinil pertimbangkan lagi," ujarku mantap. Entah kenapa setelah mendengar arahan dan wejangan dari beliau hatiku merasa jauh lebih baik dan merasa tenang. Rasa ragu yang semula mengganjal dalam hati seakan hilang seketika. Rasa ingin untuk segera menikah pun semakin menggebu kembali.


"Yakinlah dengan janji Allah, bahwa laki laki yang baik untuk wanita yang baik, wanita yang baik untuk laki laki yang baik pula. Seorang lelaki  yang taat agama akan menjaga diri dan keluarga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ia akan berpikir seribu kali untuk melakukan hal maksiat dan yang bisa menyakiti pasangan dan keluarganya nanti, karena akan ada perasaan takut dengan dosa kalau dia sampai melakukannya. Harta, keturunan, dan ketampanan atau kecantikan bukanlah jaminan kebahagiaan, tapi agama bisa menjadi pegangan yang kokoh untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat."


"Insya Allah, nanti Abi sama Umi akan datang di hari pernikahannya Dhinil." Abi mengakhiri pembicaraannya setelah sebelumnya aku meminta beliau untuk berkenan hadir di hari H pernikahanku yang sudah beberapa hari lagi.


Aku dan Lyra pamit undur diri dan mencium punggung tangan beliau dengan takzim setelah dirasa semuanya sudah cukup dan selesai. Aku mengajak Lyra berkeliling di sekitar pondok melihat gedung asrama yang masih berdiri kokoh masih sama persis dengan saat aku tinggal di sana beberapa tahun yang lalu. Karena bertepatan dengan hari libur suasana pondok yang biasa riuh oleh suara para santri kini terlihat sepi dan hening. Aku sempat ngobrol dengan Teh Nining yang masih setia membantu Umi sampai saat ini.


Setelah dirasa cukup bernostalgia dengan melihat dan mengitari lingkungan pondok aku mengajak Lyra untuk pulang.


Sebelum Lyra menyalakan mesin motornya ia sempat berbisik di telingaku. "Dhin, gue tahu alasan lo lebih milih Mas Agung daripada Kak Iwan," ucapnya sambil senyum-senyum gak jelas.


"Apa emang?" selidikku.


"Lo milih Mas Agung karena fisiknya, kan, yang lebih ganteng dan lebih tinggi dari Kak Iwan?" jawab Lyra so tahu.


"Kagak, lah, Ra ... Insya Allah gue milih Mas Agung karena dia juga lelaki yang baik. Walaupun setatusnya bukan santri tapi aku tahu Mas Agung rajin dan suka datang ke tempat pengajian seminggu sekali di kampungnya. Salatnya juga rajin." Aku menyangkal ucapan Lyra.


"Lo sendiri tahu dari mana?"


"Dari Tetehnya. Gue pernah ngobrol via telepon dulu."

__ADS_1


"Udah, hayu berangkat! keburu kesorean nanti sampai rumah. Mau Lo kena semprot emak gue?" pungkasku agar Lyra tidak meneruskan pertanyaannya.


Bersambung ...


__ADS_2