Cinta Tanpa Tapi

Cinta Tanpa Tapi
Diikuti Orang Asing


__ADS_3

***


Memasukki usia kehamilan ke delapan bulan ini aku berinisiatif untuk menyusul Mas Agung ke kampung halamannya. Aku ingin saat waktu persalinan nanti ia bisa menemani dan melihat prosesnya langsung. Harapanku setelah ia menyaksikan perjuangan seorang istri saat melahirkan hatinya akan luluh dan bisa menghalau sikap acuh dan dinginnya terhadapku.


Sempat tidak mendapatkan ijin dari Emak dan Abah mengingat aku harus melewati perjalanan jauh lintas provinsi dalam keadaan  perut besar tanpa ada yang mendampingi.


Emak menyarankan agar aku tinggal bersamanya sampai tiba waktunya melahirkan. Tapi aku mencoba memberikan pengertian dan alasan kenapa aku bersikeras tetap harus berangkat menyusul Mas Agung.


Kini aku sedang berada di dalam bus yang akan membawaku ke terminal Serang tempat agen bus antar provinsi berada. Setelah turun dari bus dengan tergesa aku menuju loket agen bus langganan.


"Maaf, Mbak, bus yang jurusan Merak-Yogya sudah berangkat beberapa menit yang lalu," ucap penjaga tiket memberitahu.


Badanku lemas seketika. Membayangkan nasibku yang akan terlunta-lunta di tengah keramaian terminal rawan dengan orang-orang berpenampilan preman yang sering dijumpai.


"Gak ada bus lain lagi, ya, Mas?" tanyaku memastikan. Berharap masih ada bus yang bisa membawaku ke tempat tujuan.


"Kalau yang ngelewatin jalur Gombong-Kebumen gak ada Mbak. Tadi yang barusan berangkat bus terakhir yang beroperasi hari ini. Tapi kalau Mbaknya maksa mau berangkat saat ini juga paling bisa ikut bus yang jalur Purwokerto saja. Nanti dari terminal Purwokerto Mbak tinggal naik bus satu kali lagi yang jurusan Purwokerto- Purworejo. Mbak bisa minta turun di pasar Gombong." Lelaki berkacamata yang berada di hadapanku itu menjelaskan panjang lebar sekaligus memberi saran.


Aku tercenung beberapa menit. Memastikan keputusan yang sekiranya nanti tidak menyulitkan diri sendiri. Mengingat hari sudah semakin sore hampir menjelang waktu Maghrib. Sedangkan untuk balik arah ke rumah Emak sangat tidak mungkin karena sudah tidak ada lagi bus arah Labuan yang melintas karena hari sudah mulai gelap.


"Yaudah, gak apa-apa Mas, saya pesan tiket yang ke arah Purwokerto saja daripada saya bingung sendiri di sini," ujarku menerima arahan dari lelaki berkacamata itu.


"Iya, mobilnya beberapa menit lagi nanti langsung berangkat, Mbak, tunggu saja di depan sini," imbuhnya kemudian.


Setelah membayar harga tiket aku mulai bersiap menaiki tangga bus karena ternyata mobil yang dimaksud sedang ngetem menunggu penumpang.

__ADS_1


"Purwokerto, ya, Mbak?" tanya kondektur sebelum aku duduk di kursi dengan nomor sesuai yang tertera di tiket yang kupegang.


"Iya, Mas."


"Suaminya kemana, Mbak, kok, gak ikut?"


"Emh ... saya sendirian, Mas."


"Lagi hamil besar kok, bepergian sendiri Mbak, emang gak takut?"


Aku menggelengkan kepala sembari tersenyum kecut menanggapi pertanyaan lelaki bertubuh gempal itu.


Seperti biasa aku duduk tepat di pinggir kaca bus agar bisa melihat pemandangan di luar jendela sepanjang jalan.


[Assalamualaikum, Kak, sekarang Adek lagi berada di bus mau ke Jawa].


Kukirim pesan untuk Mas Agung agar ia tahu kalau aku sedang dalam perjalanan hendak menemuinya.


Tidak sampai satu menit ia langsung membalas pesanku tidak seperti biasanya.


[Kok, ngedadak sih? Kenapa gak memberitahu sebelumnya?]


[Iya Kak, maaf, tadi Adek gak sempat dan baru bisa ngabarin sekarang]


Tidak ada balasan lagi sampai mataku hampir terpejam dilanda kantuk. Deru suara mesin bus membelah gelapnya malam. Tanpa sadar aku terlelap dibuai mimpi.

__ADS_1


Aku dikejutkan oleh suara teriakan pak kondektur yang memberitahukan kalau sebentar lagi bus akan memasukki area terminal Purwokerto. Semua penumpang disarankan segera bersiap untuk turun dan membawa barang bawaannya masing-masing.


Jam di layar ponsel baru menunjukkan pukul tiga dini hari. Ada perasaan was-was dan takut menyelimuti hati saat mengingat diri sendiri tengah berada di daerah asing tanpa ada yang mendampingi ditambah dalam keadaan perut membuncit.


Aku pun ikut berbaur dengan kerumunan para penumpang lainnya saat turun dari bus untuk melanjutkan tujuan masing-masing.


Saat aku sedang berjalan tergesa di tengah terminal yang situasinya sudah mulai lengang karena hanya ada beberapa orang saja yang melintas ditambah dengan cahaya lampu yang temaram bahkan cenderung gelap karena kurangnya penerangan yang berada di area terminal menambah rasa khawatirku semakin bertambah.


"Sendirian aja ya, Mbak?" tanya seorang lelaki yang membuntuti dan seolah terus mengejarku dari arah belakang membuat hatiku berdebar tak karuan.


"Mbak, mau kemana? Ayo saya antar," sambungnya lagi masih terus berusaha mensejajarkan langkahnya denganku yang berjalan sudah setengah berlari.


"Saya gak sendirian, kok, Pak, ada suami saya dan rombongan yang lain, tuh, di belakang," jawabku terpaksa berbohong untuk menutupi rasa takut berharap lelaki itu cepat berlalu dan menjauh dariku.


"Gak ada siapa-siapa lagi kok, di belakang. Di sini hanya ada Mbak sama saya berdua," sanggahnya membuatku merasa semakin terpojok.


Kulihat sekeliling memang tidak ada satu orang pun yang kebetulan melintas. Hanya ada beberapa orang yang berkerumun dan itu pun jaraknya cukup lumayan jauh dari tempatku saat ini berada. Walau sekiranya terjadi hal-hal buruk yang menimpaku di sini dan berteriak minta tolong, aku yakin tidak akan terdengar oleh siapapun.


"Mbak ... Mbak, gak boleh bohong gitu, sama saya. Mbak sendirian aja, kan?" cecarnya kemudian.


Hampir menangis aku dibuatnya karena sekarang kedua tangan lelaki bertubuh tinggi besar itu direntangkannya di hadapanku.


***


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2