Cinta Tanpa Tapi

Cinta Tanpa Tapi
Pertemuan tak Terduga


__ADS_3

***


Usai salat Subuh aku dan Maria mulai berangkat menuju alun-alun kota Menes. Jarak yang harus ditempuh ke sana kurang lebih memakan waktu dua jam menggunakan bus Jakarta-Labuan atau mobil lainnya yang searah ke sana. Kami sengaja berangkat lebih awal karena acara akan dimulai pukul sembilan pagi. Berharap bisa mengikuti pengajian dari awal.


Alun-alun kota Menes dan sekitarnya sudah dipadati oleh jamaah yang berdatangan dari berbagai daerah. Mulai dari yang terdekat sampai daerah terjauh seperti aku dan Maria. Lautan manusia terlihat berjubel hampir memenuhi jalan dan pasar Menes yang tidak jauh dari alun-alun. Aku dan Maria memilih tempat yang agak longgar dari kerumunan agar tidak terasa terlalu sesak karena harus berdesakkan.


Sudah hampir tiga jam menyimak tausiyah dari penceramah yang familiar karena sering tampil mengisi pengajian pagi di salah satu setasiun televisi swasta. Setelah acara Akbar itu ditutup kami menuju masjid terdekat untuk menjalankan salat Zuhur.


Usai salat, Maria memintaku untuk menunggunya di area masjid karena ia ada keperluan dengan seseorang yang katanya masih rekan kerja di tempat ia mengajar.


"Iya, gak apa-apa aku nunggu di sini aja. Tapi, jangan lama-lama ya, Mar," pesanku sebelum Maria beranjak meninggalkan halaman masjid.


Mengisi waktu sambil menunggu Maria aku duduk di teras masjid sambil membaca novel favorit karya Asma Nadia.


"Dhinil ... lagi ngapain di sini?" Pertanyaan dari seseorang yang tidak asing lagi di telinga membuatku terkejut. Reflek aku mendongakkan kepala ke arah sumber suara.


Sepersekian detik netraku tidak berkedip saat kedua bola mata kami saling bertemu. Detak jantung berdebar kencang. Karena aku tak pernah menyangka sebelemumnya akan bertemu dan bertatap muka dengannya saat ini.


"Kak Iwan .... ," gumamku tertahan.


Iwan melangkah semakin dekat ke arahku. Menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku berusaha menutupi bagian perut yang sudah mulai terlihat membuncit dengan sebagian hijab lebar yang kukenakan. Entah kenapa seketika rasa percaya diriku jadi menghilang saat pertemuan tak terduga dengan lelaki yang dulu sempat memberi harapan kepadaku, saat kondisiku seperti ini.


"Gimana kabarnya? Lagi ngapain di sini?" tanyanya mengulang pertanyaan yang tadi.


"Kabar Dhinil baik. Owh, emh ... anu, Kak, Dhinil lagi nunggu teman," jawabku terbata tidak mampu menutupi rasa gugup.


"Suaminya mana? Kok, nunggu teman?" Iwan memutar kepalanya seolah mencari keberadaan seseorang yang ia cari.

__ADS_1


"Mas Agung lagi di Jawa."


"Kok, bisa saling berjauhan bukannya dulu tinggal bareng di sana?"


"Dhinil lagi pengen tinggal di sini dulu." Aku menjawab sekenanya.


"Kabar Emak dan Abah gimana, pada sehat semua, kan?"


'Ya Allah ... sebegitu pedulikah lelaki ini terhadap keluargaku? Sudah hampir setahun tidak berkomunikasi sejak pernikahanku ia masih sempatnya menanyakan kabar Emak dan Abah. Sedangkan Mas Agung selama kemarin kami menjalani LDR-an jangankan bertanya kabar kedua orang tuaku. Menanyakan kabar istri sendiri pun ia seolah enggan mengucapkannya,' batinku dalam hati.


"Hey ... ditanya, kok, malah bengong," tegurnya membuyarkan lamunanku.


"Owh, iya, Kak, Emak dan Abah sehat, kok."


Terdengar suara dering ponsel dari dalam tas. Segera kuraih benda pipih itu untuk memastikan siapa yang menelepon. Hati kecilku berharap itu dari Mas Agung. Karena semenjak aku meninggalkannya tidak ada chat atau telepon satu kali pun darinya walaupun sekedar menanyakan keberadaanku.


"Telepon dari siapa? Mas Agung, ya?" tanya Iwan so, tahu.


"Bukan. Dari teman," jawabku pendek.


"Teman, teman, terus dari tadi."


"Memang kenyataannya dari teman, kok, mau gimana lagi."


"Kak Iwan sendiri di sini lagi ngapain? Sama siapa?" tanyaku penasaran karena tiba-tiba barusan ia berada di hadapanku.


"Yang jelas di sini bukan lagi nyari jodoh, walaupun sampai saat ini masih ditakdirkan ngejomblo," jawabnya setengah bergurau.

__ADS_1


"Sudah makan siang belum? Kalau belum yuk, sekalian!" ajaknya antusias.


"Tapi, Kak .... ," ucapku ragu.


"Gak usah takut, di sini kan, tempat ramai. Banyak orang, kecuali cuman kita berdua saja," ujarnya meyakinkan.


Aku pun mulai mengekor di belakangnya. Lagi pula perutku memang sudah terasa melilit sejak tadi. Karena hanya sempat sarapan waktu pagi sebelum berangkat ke sini bersama Maria.


Iwan melangkahkan kakinya ke arah rumah makan seafood. Selera makanku semakin meningkat saat melihat aneka olahan seafood yang terpajang di dalam rak kaca transparan. Mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat aku minta dibelikan seafood kepada Mas Agung tapi ia tak menghiraukannya membuat hati ini kembali perih.


Setelah perut terisi kami tidak langsung beranjak dari tempat duduk. Tanpa dimintanya aku menceritakan semua kegundahan hati ini kepada lelaki yang berada di hadapanku. Iwan hanya menyimak setiap kata yang keluar dari bibirku. Pikiran sudah buntu hingga tanpa ragu aku mengajukan permintaan yang mungkin sudah diluar batas normal atau bisa juga disebut gila.


"Kak, Dhinil sudah tidak tahan lagi kalau harus terus seperti ini. Kalau sekiranya Kak Iwan masih mengharapkan Dhinil untuk menjadi istri. Insya Allah Dhinil siap minta cerai dari Mas Agung dan kita bisa menikah setelah melahirkan nanti," ungkapku penuh harap tanpa ragu.


"Istighfar, Dhin ... jangan jadikan pernikahan menjadi bahan permainan. Lagi pula mana bisa wanita yang sedang hamil minta cerai atau diceraikan.


"Tapi, Kak, bisa-bisa aku stress kalau harus merasakan tekanan seperti ini terus. Kalau memang Kak Iwan kasihan sama Dhinil harusnya bisa menerima keadaan Dhinil walaupun statusnya nanti sudah menjadi janda sekalipun!" Aku masih bersikeras dengan keegoisan diri.


"Tidak semudah itu mengambil keputusan yang akan hanya merugikan diri sendiri dan orang lain. Dulu waktu Dhinil memutuskan untuk menerima lamaran lelaki itu dan meninggalkan Kak Iwan, ke mana aja? Lalu setelah merasa gagal dengan gampangnya meminta Kak Iwan untuk bisa menerima kembali. Ini bukan hanya tentang perasaan Kak Iwan sendiri. Tapi menyangkut perasaan semua keluarga terutama Ifa dan juga Ibu. Ibu dulu sempat jatuh sakit saat pertama mendengar kabar Dhinil sudah menikah dengan lelaki lain. Lelaki yang ternyata sempat akan menjadi calon menantunya sendiri."


Baru sekali ini menyaksikan seorang lelaki berbicara dengan menahan air mata agar tidak jatuh di hadapanku. Hati ini semakin hancur dibuatnya. Rasa bersalah dan penyesalan seketika menyelimuti rasa.


'Perempuan macam apa aku ini yang sudah mendzolimi hati yang bukan hanya satu orang, tapi ternyata satu keluarga sekaligus mereka pernah terpuruk dengan sikap dan keputusanku dahulu yang hanya mementingkan kebahagiaan sendiri.' Aku hanya mampu merutuki diri.


"Kalau misal hanya masalah kekurangan materi atau yang lainnya Kak Iwan masih bisa mengusahakan untuk bisa membantu. Tapi kalau sudah menyangkut perasaan sepertinya sudah tidak bisa. Lagi pula setelah tiga bulan Dhinil menikah dengan Agung Kak Iwan sudah dijodohkan oleh pak kiyai dengan salah satu keponakannya. Sekarang ini sedang menjalani tahap pengenalan dan sebentar lagi menuju persiapan untuk ke pernikahan," tuturnya tanpa mempedulikan perasaanku.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2