Cinta Tanpa Tapi

Cinta Tanpa Tapi
Kecelakaan Menuju Kampus


__ADS_3

***


Aku melongokkan kepala ke arah luar pintu kamar. Tidak ada siapa-siapa di sana yang kujumpai. Padahal tadi jelas terdengar suara ketukan di indera pendengaran saat sedang larut dengan pikiran sendiri.


 


Karena dirasa tidak ada siapa-siapa aku pun berniat hendak menutup pintu kamar kembali. Aku belum bersemangat untuk keluar kamar, lebih merasa nyaman mengurung diri tanpa ada orang lain yang menggangu.


Baru saja pintu kamar hendak menutup sempurna, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seseorang.


"Doorr ... hayoo, mau ngapain pintunya ditutup lagi? Aku ikut masuk, dong," Lyra menerobos pintu yang hampir tertutup itu dengan cepat, sebelum aku bisa mendorong tubuhnya keluar dan mengunci diri di dalam kamar.


"Ngapain, sih, lo, Ra, ngagetin gue aja?" gerutuku kesal.


"Lo, tuh, yang ngapain, dari tadi ngerem bae di dalem, lama-lama ntar lo kesambet baru tahu rasa," ucap Lyra ngasal.


"Lagian gue mah baru nemu ada orang mau jadi penganten, kok, bisa-bisanya jadi sedih dan pemurung kek, lo, Dhin. Di mana-mana juga orang mah kalau mau nikah, tuh, bahagia, senang, ceria, berbunga-bunga. Ini malah kek orang lagi patah hati, muka kucel, kusem, gak ada gairah, mata bengkak udah kek habis kesengat tawon, gitu," cerocos Lyra tanpa jeda.


"Lo, sih, Ra, gak bisa ngerasain apa yang saat ini gue rasain. Coba lo berada di posisi gue kek, gini, yakin lo gak bakalan dilema kek gue begini?"


"Gue, sih, ogah berada di posisi kek lo, bikin pening kepala gue aja lihatnya juga apalagi harus ngerasain sendiri," ucap Lyra menaikan bahu.


"Oya, Daripada lo mewek seharian di dalam kamar kek gini mending ikut gue ke kampus aja, yuk!" ajak Lyra bersemangat.


"Dengan kondisi muka gue yang bengep kek, gini?" tanyaku ragu.


"Ya, lo ke kamar mandi dulu sono, cepet! Cuci muka atau apa dulu kek, biar keliatan segeran dikit dan enak buat dilihat tuh, muka," titah Lyra sambil nyengir.

__ADS_1


"Yaudah, tungguin gue dulu bentar, yak!" pintaku sembari berlalu menuju kamar mandi.  Kuraih handuk yang tergantung di atas kastok kamar.


Usai mencuci muka dengan menggunakan facial foam dan gosok gigi. Aku keluar dari dalam kamar mandi dengan muka terasa sedikit lebih fresh. Sudah tidak terlihat lagi minyak yang mengkilat di wajah yang membuat mukaku tadi terlihat kusam, saat kulihat di depan cermin lemari kamar.


Mengelap dan mengeringkan muka menggunakan handuk aku mulai memoles pipi dengan pembersih muka dan mengoleskan pondation dan bedak padat di seluruh wajah secara merata. Tidak lupa memoles sedikit bibir dengan lipstik warna merah bata. Sekarang penampilanku sudah sedikit lebih baik dibanding dengan tadi saat pertama kali Lyra masuk ke kamar.


Dengan mengenakan rok panjang marun serta atasan dan hijab lebar warna senada aku mulai melangkahkan kaki keluar dari kamar diikuti oleh Lyra. Kemudian berpamitan kepada Emak yang sedang berada di dapur bersama ibu-ibu lainnya yang sedang membikin kue.


"Jangan sore-sore, ya, pulangnya nanti," pesan Emak sebelum kami melangkahkan kaki ke luar rumah.


"Iya, Mak, Insha Allah nanti kalau gak ada halangan," jawabku seraya mencium telapak tangannya penuh takzim.


Lyra mulai menyalakan mesin motor matic warna birunya perlahan. Setelah dirasa aku sudah duduk membonceng di belakangnya Lyra pun mulai melajukan kuda besinya menyusuri jalan perkampungan.


Jalanan yang kami lalui bukanlah jalan aspal mulus seperti di kota-kota. Melainkan jalanan tanah berbatu yang berliku. Dan harus melewati perkebunan sawit kurang lebih tiga kilo meter.


Baru beberapa meter melakukan perjalanan kami terjebak hujan deras yang datang secara tiba-tiba. Lyra menghentikan laju sepeda motornya di tepi jalan perkebunan milik warga. Terdapat gubuk kecil milik yang punya ladang di sana untuk sekedar berteduh agar tidak basah kuyup oleh guyuran air hujan.


"Ayo ... kita lanjutkan perjalanan lagi," ajak Lyra.


"Yakin bisa? Habis ujan gini, kan, biasanya jalanan jadi licin," tanyaku ragu.


"Bisalah, kan, gue udah biasa, jadi udah kebal dengan jalanan licin dan curam kek gini." Lyra menyahuti.


Memang, aku pun sangat mengakui dengan kelihaian Lyra dalam membawa kendaraan sepeda motornya itu, walaupun kami terbilang tinggal di pedalaman, tapi tidak menghalangi tekad untuk terus meraih bangku pendidikan. Lyra memang sudah jago menaklukan medan jalan yang curam dan licin, karena keterpaksaan yang membuatnya seperti itu. Dengan gayanya yang agak tomboy Lyra selalu pulang pergi keluar kampung demi menempuh bangku kuliah yang letaknya di perkotaan.


Diiringi rintik hujan yang masih sebagian turun kami melanjutkan perjalanan menuju arah keluar dari perkampungan. Sesekali aku berteriak histeris saat ban sepeda motor yang Lyra kendarai terpeleset saat melintasi tanah atau batu yang licin bekas terkena guyuran air hujan tadi.

__ADS_1


"Pelan-pelan, dong, Ra, jangan bikin gue jantungan kek, gini," sungutku.


"Baik, Tuan Putri," ledek Lyra terkekeh.


Perjuangan melewati jalanan yang butuh tenaga ekstra itu pun akhirnya bisa dilalui. Sebelum meneruskan perjalanan ke arah kampus. Lyra maembelokkan sepeda motornya ke tempat pencucian. Mungkin ia malu dengan kondisi motor yang sangat kotor dan belepotan lumpur kalau harus dibawa ke kampus dan terlihat oleh teman-temannya yang lain.


"Kenapa, sih, Ra, pake acara mampir-mampir lagi di sini," gerutuku.


"Udah ... jangan banyak tanya tinggal duduk manis aja, kok, di sana. Nanti kalau udah beres aku panggil. Lyra menyerahkan sepeda motornya kepada abang-abang untuk dicuci dan dibersihkan.


"Mau pada kemana, Neng, hujan-hujan begini?" tanya Abang yang berusia sekitar baru dua puluh tahun itu kepo.


"Ke kampus, Bang," jawab Lyra pendek sambil tersenyum manis.


"Biasanya sendirian Neng, Abang sering lihat lewat jalan sini," sambung si Abang.


"Iya, nih, kebetulan nenek saya hari ini maksa ngebet pengen ikut ke kampus," jawab Lyra sambil melirik ke arahku dengan ekor matanya. Sedangkan aku berpura-pura anteng menatap ke layar ponsel yang berada dalam genggaman


"Masak, neneknya masih muda kayak gitu, sih, ada-ada saja nih, si Neng."


"Iya, Bang, saya bercanda doang," ujar Lyra terbahak.


Kami berdua pun mulai meneruskan perjalanan lagi menuju kampus. jalanan yang dilalui kini sudah mulai rada mendingan, karena sudah beraspal walaupun tidak terlalu mulus seperti jalan tol. Tapi, jauh lebih baik dengan jalan yang menuju ke arah perkampunganku yang sangat licin jika tertimpa air hujan seperti tadi.


Motor matcik berwarna biru yang dikendarai Lyra mulai memasuki jalan raya yang ramai kendaraan.


Baru saja Lyra hendak membelokkan sepeda motornya yang ia kendarai menuju arah kampus. Rupanya dari arah belakang ada pengendara sepeda motor lain yang melaju kencang dan menyeruduk motor matick Lyra sehingga ambruk seketika.

__ADS_1


Orang-orang di sekitar kejadian seketika berlari berkerumun memberikan pertolongan. Samar kurasakan tubuhku dibopong oleh beberapa orang sebelum semuanya terasa gelap.


Bersambung ...


__ADS_2