Cinta Tanpa Tapi

Cinta Tanpa Tapi
Akhir yang Bahagia


__ADS_3

"Saat Kakak dipanggil menghadap kepala sekolah itu memang benar adanya, Dek .... "


"Kalau sampai dipanggil dan disidang berarti benar, kan, kalau Kakak bermasalah?" Aku memotong pembicaraannya.


"Enggak, Dek, bukan seperti itu. Kronologisnya memang mengaju ke pemikiran seperti itu. Tapi sebenernya hanya salah paham."


Mas Agung pun mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya tanpa kuminta.


Ketika itu Mas Agung pulang dari mengikuti acara MGMP yang diadakan di luar sekolah, karena jam dua siangnya ia harus mengisi kegiatan ekstra di sekolah ia pun berinisiatif langsung kembali ke sekolah. Saat masuk ke dalam ruang guru dirinya langsung buka baju kemudian menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Karena ia pikir sudah tidak ada orang selain dirinya. Ternyata di situ ada Bu Mega yang sama-sama akan mengisi kegiatan ekstra juga sedang tiduran di sofa panjang yang berada di situ dan kebetulan juga oleh penjaga sekolah semua gorden kaca ruangan sudah ditutup. Kemudian ada salah satu rekan kerja Hariz melihatnya sedang buka baju dan di situ ada Bu Mega juga sedang tiduran. Sayangnya temannya itu langsung menyimpulkan sendiri tanpa bertanya dulu kejadian yang sebenarnya dan langsung diadukan kepada kepala sekolah. Mas Agung dan Bu Mega sendiri tidak menyaka jika mereka berdua sudah jadi bahan gunjingan di belakangnya.


Setelah dipanggil ke ruang khusus kepala sekolah barulah Mas Agung menyadari permasalahannya lalu menceritakan kronologi yang sebenarnya dan diiyakan oleh Bu Mega sendiri yang merasa risih dan tentunya beban moral karena sudah mendapat gosip miring di belakang tanpa sepengetahuannya. 


Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Mas Agung aku menghela napas lega dan berucap syukur karena semua tidak seburuk dengan yang selama ini kuduga. Walaupun saat itu aku hampir putus asa dan kehilangan arah waktu pertama menerima berita menyakitkan itu.


***


Menjelang tidur dengan posisi tiduran saling berhadapan aku mulai mengajak Mas Agung berbicara dari hati ke hati. Mengutarakan semua perasaan yang mengganjal penuh dalam rongga dada. Karena selama ini rasa risau itulah yang selalu menjadi beban di hati.


"Kak, Kakak tahu gak alasan Adek waktu itu maksa untuk minta pulang dari sini?" pancingnya memulai obrolan.

__ADS_1


"Pasti karena menyangka Kakak main perempuan di belakang Adek, kan?" tebaknya.


"Itu salah satunya juga. Tapi ada masalah yang Kakak harus tahu dan bisa merubahnya," sambungku menambahkan.


"Apa, tuh?"


"Adek merasa sikap Kakak dari awal kehamilan jadi berubah menjadi makhluk yang menyebalkan. Jadi acuh tanpa kehangatan. Padahal yang diharapkan oleh semua istri apalagi dalam keadaan mengandung itu diberi perhatian lebih bukan sebaliknya."


"Contohnya?" tanyanya kemudian.


"Perlakukan Adek sebagai istri. Biar Adek merasa dibutuhkan dan dihargai oleh suami. Jangan malah keberadaanya seolah dianggap tidak ada," ucapku penuh harap.


"Karena yang Adek rasakan selama ini sikap Kakak hambar, dingin, acuh tanpa rasa kepada istrinya di rumah. Kakak beraktivitas di dalam rumah ini seolah hanya hidup seorang diri tanpa mau peduli dengan perasaan dan apa maunya istri. Tidur, makan, mandi, salat, berangkat kerja tanpa beban. Asal Kakak tahu setiap malam saat Kakak terlelap dibuai mimpi Adek menangis seorang diri menumpahkan air mata merasa tersiksa dengan sikap Kakak seperti itu," sambungku panjang lebar. Berharap semua yang kuutarakan bisa diterima oleh sang lelaki yang kini telah menjadi imamku.


"Mulai sekarang Kakak janji akan mencoba belajar untuk bisa memahami kemauan istri dan juga belajar mencari tahu bagaimana caranya memperlakukan istri dengan baik," ucapnya lirih tepat di belakang telinga yang sukses membuatku terharu bahagia.


Mendengar penuturannya yang tulus air mataku pun luruh membasahi pundak dan tangan pria bermata teduh itu yang kini semakin erat memelukku.


"Makasih banyak, Kak, sudah menjadi suami yang baik buat Adek. Adek juga minta maaf selama ini belum bisa menjadi istri yang sempurna buat Kakak. Masih sering meninggikan ego dan kurang bersyukur dengan keadaan." Aku berkata sembari terisak menahan haru.

__ADS_1


"Adek gak mau menjadi istri yang kufur nikmat dengan suami sendiri karena hanya melihat dan menilai satu sisi kejelekan dan kesalahan suami. Sedangkan kebaikan dan kelebihan dari diri suami jauh lebih banyak yang telah Kakak berikan untuk Adek," ungkapku tulus.


Aku kembali terisak dalam pelukan hangat Mas Agung. Tak lama kemudian tangan kekar pria itu membingkai wajahku dengan kedua telapak tangan. Kini muka kami saling berhadapan. Saling menatap kedua bola mata masing-masing.


"Kakak janji akan belajar jadi suami yang lebih peka dan belajar untuk bisa bersikap lebih romantis lagi kepada istri. Kakak sadar, ternyata membangun sebuah rumah tangga yang harmonis itu kita harus banyak belajar dari pengalaman dan kesalahan. Sebaik-baiknya teladan yang bisa ditiru oleh kita yaitu menjalani rumah tangga yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau kita berpacu kepada tuntunan-Nya, Insya Allah akan meraih ketentraman menuju kebahagiaan yang hakiki yaitu pernikahan sakinah mawadah warrahmah." Mas Agung berusaha meyakinkanku.


"Iya, Kak, Adek setuju." Aku mengangguk cepat menanggapi pemicaraannya yang panjang lebar.


Aku kembali terbuai dalam pelukan panjang laki-laki terbaikku. Menumpahkan air mata bahagia berbaur dengan rasa haru yang membuncah di dalam rongga dada. Aku merasa ingin selalu seperti ini. Selalu berada dalam dekapan hangat suami yang mampu memberi kedamaian.


Aku pun semakin yakin dengan semua yang dikatakan oleh orang-orang yang berilmu. Bahwa mencari pasangan itu harus berani memilih. Dan pilihan yang terbaik itu saat kita menjatuhkan pilihan kepada orang yang sama-sama hanya mengharapkan ridha-Nya. Menjatuhkan pilihan kepada seseorang yang bisa membawa kita lebih dekat kepada Sang Pencipta.


Dan janji Allah itu benar adanya. Bahwa:


"Perempuan yang baik untuk lelaki yang baik, dan begitu pula sebaliknya. Lelaki yang baik akan dipertemukan dengan perempuan yang baik."


Jauh di lubuk hatiku sangat berharap agar rumah tangga kami akan selalu bahagia dan dijauhkan dari godaan dan ujian yang di luar batas kemampuan.


Yang paling kutakutkan dan khawatirkan selama menjalani pernikahan yaitu orang ketiga. Bagiku orang ketiga yang sengaja atau tidak sengaja masuk dalam rumah tangga merupakan sesuatu yang sangat tidak diinginkan. Mungkin bukan hanya aku sendiri saja yang mempunyai perasaan seperti itu. Aku yakin semua wanita atau istri di seluruh belahan dunia manapun pasti mempunyai perasaan yang sama. Sangat tidak mau dirinya dinomor duakan oleh pasangan masing-masing.

__ADS_1


END


                                     


__ADS_2