
***
Hatiku semakin terpuruk. Tidak ada lagi orang yang bisa kuharapkan memberikan dan mengangkatku dari keterpurukkan. Semua seakan menyalahkan dan menyudutkanku. Aku sudah tidak peduli bahkan mungkin sudah lupa kalau saat ini di dalam rahimku sedang ada janin yang sedang berkembang mengharapkan haknya untuk diperhatikan oleh calon ibunya.
Sinar mentari sudah mulai condong ke arah barat. Pertanda hari sudah mulai beranjak sore. Azan Ashar mulai terdengar dikumandangkan dari masjid terdekat. Kak Iwan mengajakku untuk beranjak dari tempat duduk kami setelah sebelumnya ia membayar semua makanan yang kupesan tadi.
Berjalan beriringan menuju masjid yang letakknya berada di sebrang jalan. Mungkin karena pikiran sedang kacau hingga aku tidak memperhatikan keadaan sekeliling saat hendak menyebrang jalan raya yang sedang ramai dipadati kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintas silih berganti.
Baru beberapa langkah menyebrang jalan, aku dikejutkan oleh teriakkan seseorang dari arah belakang. "Dhiniiil ... awas ada motor!" Belum hilang rasa kaget tubuhku sudah disambarnya lalu dibawa berguling ke arah bahu jalan. Aku terduduk lemas. Rasanya tak ada tenaga lagi yang tersisa bahkan hanya sekedar mengangkat pergelangan tangan saja aku sudah tak sanggup.
"Dhinil! kamu kenapa? sengaja ingin mencelakai diri sendiri dan calon bayi yang ada dalam kandunganmu?" Pertanyaan Kak Iwan membuatku tersedu pilu.
"Kenapa Kak Iwan tadi malah menolongku? Bukannya Kakak sudah tidak peduli dengan keberadaan dan perasaanku?" teriaku frustasi. Padahal dalam hati aku sendiri bergidik ngeri seandainya tadi Kak Iwan tidak berlari kencang dan menarikku ke sisi jalan. Entah bagaimana nasibku.
Sungguh aku selain merasa berhutang budi juga berhutang nyawa kepada pria yang dulu pernah kusia-siakan keberadaannya ini demi memilih lelaki yang nyatanya malah membuatku kecewa dan terpuruk seperti sekarang ini.
Lelaki itu menarik nafas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Sambil menggeleng-gelengkan kepala ia berucap, "Tapi, tidak seharusnya kamu melakukan hal konyol dan berbahaya seperti tadi, Dhin. Ingat di dalam rahimmu ada bayi yang tak berdosa. Kasihan kalau harus mengalami hal buruk karena ulah ibunya."
Hatiku kembali menjerit pilu. Kenapa malah lelaki lain yang harus memberi perhatian dan mengkhawatirkan kandunganku. Sedangkan Mas Agung, suamiku sendiri dari semenjak awal kehamilan sampai kini perutku membuncit ia seolah tak perduli. Jangankan mengelus perut yang sedang dihuni oleh calon anaknya ini, bahkan sekedar menanyakan perkembangan kehamilannya pun sama sekali tak pernah ia berikan.
__ADS_1
Kak Iwan mengajakku untuk segera memasuki area masjid, mengikuti jamaah salat Ashar yang sebentar lagi akan dimulai.
"Masih kuat berjalan sendiri, kan?" tanyanya setelah tadi sebelumnya ia menyodorkan air mineral untuk kuminum agar sedikit hilang rasa shok karena tragedi mengerikan yang hampir menghilangkan dua nyawa sekalian.
Tertatih walau dengan lutut bergetar lemas, aku mencoba memaksakan diri berdiri lalu menyeret kaki ke arah toilet khusus wanita untuk bersih-bersih diri sekaligus mengambil air wudhu di sana. Setelah itu ikut bergabung dengan jamaah perempuan yang sudah memenuhi ruangan masjid.
"Pulang sama siapa?" tanya Kak Iwan yang sudah berada di sampingku setelah keluar dari masjid.
"Sendiri," jawabku pendek.
"Maaf, ya, bukannya Kak Iwan gak mau ngantar, khawatir nanti malah timbul fitnah bagi kita," ujarnya kemudian.
"Iya, Kak, Dhinil ngerti.
'Stop, Kak, jangan terus menunjukkan sikap seperti ini terus terhadapku! Bisa-bisa gila aku dibuatnya. Karena yang selama ini diharapkan oleh seorang istri itu perhatian dan rasa khawatir yang tulus dari sosok suaminya sendiri bukan malah dari lelaki lain yang jelas- jelas tidak ada suatu ikatan apa pun.' Batinku menjerit tanpa mampu berucap.
***
Emak dan Abah terlihat terkejut saat melihat anak perempuannya kembali ke rumah seorang diri tanpa Mas Agung menyertaiku. Tapi, setelah kujelaskan semua baik-baik saja, walaupun dengan menutupi kejadian yang sebenarnya, akhirnya mereka pun bisa menarik nafas lega. Semua kekhawatiran tentang hal buruk yang terjadi kepada anaknya seketika menguap begitu saja. Aku pun ikut lega melihatnya dan kembali bisa menikmati kepiluan hati ini seorang diri. Setidaknya tidak ikut membebani pikiran kedua orang yang sangat kukasihi itu.
__ADS_1
Menjalani hubungan dengan LDR-an sulit sekali rasanya. Benar sekali dengan apa yang sering orang lain katakan bahwa hubungan jarak jauh memang rentan sering terjadi kesalahpahaman dan tekanan saat merasa diri ini sudah tidak diperhatikan lagi.
Selalu ada rasa nyeri merasuki hati kala pesan-pesan yang kukirimkan pada Mas Agung sama sekali tak digubrisnya.
Akhir-akhir ini aku baru tahu kalau ternyata Mas Agung sikap aslinya sepaerti itu.
Aku kira dengan LDR, Mas Agung akan lebih bisa menunjukkan perhatian dan rasa perdulinya kepadaku dengan membalas pesan-pesanku atau sekedar menelpon bertanya kabar. Tapi semuanya tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan selama ini.
Bahkan saat kuceritakan kejadian sore tadi yang hampir membuatku celaka kepada sang suami melalui pesan chat. Tak satu pun yang ia respon. Membuat pikiranku melayang ke mana-mana.
"Hidup ini jangan dibuat terlalu dramatis, Dhin, jalani saja seperti air mengalir ke mana arahnya, ya, ikutilah!" saran Lyra saat aku ke rumahnya dan menceritakan semua beban pikiran yang kurasa. Termasuk tentang pertemuanku dengan Kak Iwan di alun-alun Menes beberapa hari yang lalu. Karena hanya kepada sahabatku yang satu ini aku bisa terbuka dan tempat berbagi rasa yang sering kulakukan baik itu dulu saat masih berstatus gadis maupun setelah mempunyai pasangan seperti saat ini.
"Lo bisa aja Ra, bicara seperti itu terhadapku. Karena Lo sendiri gak pernah ada di posisi kayak gue seperti sekarang ini, kan?" sangkalku kesal seolah Lyra ikut memojokkan dan menyalahkan sikap dan keputusanku.
"Bukan begitu, maksud akutu, kawan .... ! Tapi, sebaiknya kita tetap berpikir positif walau dalam keadaan stres bagaimanapun juga." Ucapan Lyra hampir sama persis dengan apa yang dikatakan Kak Iwan tempo hari. Membuat perasaanku menjadi semakin down seolah semua orang tak berpihak kepadaku.
"Lo sendiri sudah berhasil buktiin dengan mata kepala sendiri belum, kalau Mas Agung itu benar-benar ada main dengan teman perempuan di tempat kerjanya?" Pertanyaan dari Lyra membuatku sedikit terhenyak.
Aku hanya menggelengkan kepala lemah sebagai jawaban atas pertanyaannya.
__ADS_1
"Tuh, kan, harusnya jangan suka menyimpulkan sendiri sebelum ada bukti yang akurat," sambung Lyra kemudian.
Bersambung ....