Cinta Tanpa Tapi

Cinta Tanpa Tapi
Menolak Dicukur Alis


__ADS_3

***


Suasana di rumah mulai sangat ramai. Tetangga sekitar sudah sibuk membantu memasak di dapur sejak beberapa hari kemarin untuk persiapan hari H. Sanak keluarga yang dari jauh sudah berkumpul dan datang untuk sekedar menyaksikan acara sakral ini.


Walaupun acara yang akan dilaksanakan cukup sederhana dan jauh dari kata mewah. Tetapi, semuanya harus berjalan dengan khidmat. Dinding rumah sederhana itu sudah ditutup oleh kain riasan berwarna pink dengan hiasan bunga di beberapa sudut ruangan. Tenda sederhana terpasang di depan dan samping rumah lengkap dengan beberapa kursi dan meja untuk tamu undangan.


Meja perasmanan tertata rapi dipenuhi berbagai ragam macam makanan untuk sekedar menjamu para tamu yang akan hadir.


Aku yang masih berada di dalam kamar mandi dipanggil Emak, karena katanya tukang  rias sudah datang dan sedang menungguku di kamar. Aku pun segera menyudahi aktifitas di kamar mandi dan segera menuju kamar.


"Ayo, Dhin, kita mulai sekarang!" ajak Teh Wulan tukang rias pengantin yang berasal dari tetangga desa sebelah.


"Iya, Teh, maaf, tadi sempat nunggu, ya?" ucapku sekaligus bertanya.


"Enggak, apa-apa, kok, Teteh juga baru datang." Teh Wulan berbasa-basi.


Aku melihat Teh Wulan mulai mengambil dan membuka alat tempurnya yang sedari tadi sudah dipersiapkan dan disimpan di dalam tas berukuran besar. Tangan terampil Teh Wulan mulai bekerja sesuai profesinya merias setiap calon pengantin di beberapa desa sekitar yang sudah sering memakai jasanya.


Mukaku mulai dibersihkan mengunakan kapas kosmetik dan cairan pembersih wajah, lalu dipoles dengan bedak padat dan beberapa alat make up lainnya yang aku sendiri pun tidak tahu dan tak paham. Karena memang tidak pernah memiliki alat make up sebanyak dan selengkap itu. Yang kutahu hanya bedak padat yang sudah biasa dipakai sehari-hari. Bibir ini pun tak luput dari polesan lipstik dengan warna merah merona.


Tangan Teh Wulan seperti mengambil alat pencukur dan mulai mengarahkannya ke alis mata kalau saja aku tidak berseru dan bertanya kepadanya.


"Itu buat apa, Teh?

__ADS_1


"Buat nyukur alis biar enak dan gampang nanti dandaninnya," jawab Teh Wulan menghentikan sebentar aksinya yang hendak mencukur bulu di atas mataku.


"Maaf, Teh, Dhinil minta alisnya jangan sampai dicukur," tawarku khawatir.


"Lha, memangnya kenapa, Dhin, kok, kelihatannya Dhinil takut banget kalau alisnya dicukur?" Teh Wulan bertanya keheranan.


"Iya, Teh, kan, gak boleh kita mencukur atau mencabut alis," jawabku kemudian. Masih terekam jelas dalam memori ingatan saat ustaz Sofyan, guru pelajaran fiqih sewaktu aku menimba ilmu di pondok pesantren menjelaskan tentang hukum mencukur alis dalam syariat islam.


Ustaz Sofyan menegaskan.


"Apa pun alasannya kalau sudah terdapat larangan dari aturan agama kita. Sebisa dan sekuat mungkin kita hindari dan jangan sampai dilakukan." Begitulah kurang lebih penjelasan dari ustaz Sofyan yang selalu kuingat.


Dalam hati kecil berniat tidak akan mencukur alis apa pun alasannya. Apalagi ini awal diriku akan menuju kehidupan baru dalam menjalani hidup berumah tangga yang harus dilandasi dengan niat ibadah semata mengharap keridhoan dari Sang Maha Kuasa.


"Dipesan sama si Masnya ya, Dhin, kalau alisnya gak boleh dicukur?" tanya Teh Wulan kemudian.


"Enggak, sih, Teh, tapi Dhinil sendiri yang gak mau kalau alisnya sampai dicukur."


"Gak, apa-apa kali Dhin, sekali-kali dicukur sedikit untuk sekedar dirapikan doang, kok." Teh Wulan masih benegosiasi denganku yang mungkin dianggapnya aneh.


"Iya, Dhinil, gak apa-apa tahu, kalau dalam keadaan darurat seperti ini, mah. Kan, dicukurnya juga hanya saat ini doang, mau dirias pengantin yang hanya seumur hidup sekali," timpal Fitry, temanku yang kebetulan menemani dari awal proses dandanan tadi.


"Alisku juga dulu dicukur pas waktu dirias saat mau jadi pengantin," sambung Fitry memastikan.

__ADS_1


"Sekali lagi Dhinil minta maaf, Teh, bukannya Dhinil menolak saran dan masukkan dari Teh Wulan dan Fitry. Tapi Dhinil sudah berniat dalam hati kalau tidak akan pernah mencukur dan mencabut alis dalam keadaan apapun. Sekalipun itu hanya sekali seumur hidup saat proses rias pengantin seperti saat ini, karena mencukur dan mencabut alis sudah jelas ada larangannya dalam syariat agama islam.


 


 “Allah melaknat wanita pembuat tato dan yang bertato, wanita yang dicukur alis, dan dikikir giginya, dengan tujuan mempercantik diri mereka mengubah ciptaan Allah Ta’ala. Annamishah (pencukur alis) dan Al Mutanamishah (orang yang alisnya dicukur) juga haram dan mendapatkan laknat Allah Ta’ala. Sesuatu yang sudah jelas ada larangannya tidak bisa kita langgar dan tidak bisa ditawar-tawar lagi." Aku berusaha memaparkan alasan yang panjang lebar, berharap bisa diterima oleh Teh Wulan dan Fitry.


"Ya, Allah, Dhin, bagaimana dengan Teteh yang sudah bertahun-tahun menggeluti pekerjaan ini. Teteh sebagai pelaku yang mencukur alis orang pun ikut berdosa dan haram, ya?"


"Iya, Teh, yang mencukur dan yang dicukur sama gak boleh. Hukumnya sudah jelas haram. Sesuatu yang sudah diharamkan kalau masih dilakukan berarti kita berdosa."


"Makasih, Ya, Dhin, ilmunya. Mulai dari sekarang Teteh tidak akan memakai ritual mencukur bulu alis orang yang akan Teteh rias. Teteh gak mau mendapatkan rezeki dari hal yang dilarang agama, takut gak berkah dan gak maslahat buat keluarga Teteh," pungkas Teh Wulan sungguh-sungguh.


"Iya, Teh, sama-sama. Dhinil hanya menyampaikan apa yang Dhinil tahu aja. Karena mungkin di sekitar kita masih ada yang belum tahu dan faham akan hal itu."


Setelah melewati sedikit perdebatan yang agak alot dan memakan waktu beberapa menit, akhirnya Teh Wulan bersedia merias tanpa mengganggu alis yang bertengger di atas kedua bola mataku.


Kebaya putih dengan kerudung warna senada yang dihias mahkota kecil serta untaian bunga melati yang menjuntai di depan dada sudah melekat di tubuh mungilku. Aku kesulitan saat hendak berjalan karena rok songket bermotif batik itu terasa membatasi ruang gerak. Sehingga aku harus dipapah oleh Teh Wulan dan Fitry di samping kanan kiri persis seperti orang yang sedang latihan berjalan.


Setelah kurang lebih memakan waktu satu jam proses riasan  pun sudah selesai dilakukan.


Waktu sudah hampir menunjukkan jam sepuluh tapi rombongan dari keluarga Mas Agung belum kunjung tiba. Ada perasaan cemas yang tiba-tiba menyergap dalam hatiku. Khawatir telah terjadi sesuatu hal buruk yang menimpa Mas Agung, yang sebentar lagi akan jadi kekasih halalku.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2