
***
Mualnya belum hilang juga?" tanya Mas Agung saat aku keluar dari kamar mandi dan langsung merebahkan tubuh yang lemas di tempat tidur.
"Iya, Kak, pusing sama terasa panas dingin juga," jawabku lemah.
"Kakak ke toko obat dulu, ya, Dek, buat beli antangin. Siapa tahu nanti kalau udah minum obat bisa sembuh," pamit pria berhati lembut itu. Ia pun langsung menyambar jaket dan kunci motor yang tergeletak di atas nakas. Lalu keluar pintu kamar setelah sebelumnya menyelemuti seluruh badanku.
"Jangan lama-lama, ya, Kak!" Aku berseru sebelum punggungnya hilang dari pandangan.
"Iya, Dek." Mas Agung menutup rapat pintu kamar.
Setelah meminum obat masuk angin sampai dua bungkus sekaligus dan sebelumnya sudah kerokan juga, namun untuk ketiga kalinya aku harus muntah-muntah hebat seluruh badan terasa lemas seperti tak bertulang. Air mata mulai merembes di setiap sudut netra. Aku terhuyung dan kembali menjatuhkan diri di atas tempat tidur.
Mbak Mila yang mengetahui kalau aku masih terus muntah-muntah tak berhenti dari sore sampai malam, menyarankan agar Mas Agung membawaku untuk diperiksa ke tempat dokter praktek terdekat.
"Ajak periksa aja kali, Gung, kasian Dhinil dari tadi muntah-muntah terus gak berhenti dari pertama datang ke sini."
"Iya, nanti paling besok pagi, Mbak, sekarang udah hampir jam sepuluh malam," ujar Mas Agung kemudian. Lalu kembali memasuki kamar karena sudah larut malam.
Mas Agung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur persis di sampingku. Ia menatap lekat wajahku yang baru lima minggu dihalalkan olehnya. Bibir tipisnya mengulas senyum sembari meletakkan punggung tangan di atas dahiku. "Masih kerasa panas dingin, gak?" tanyanya penuh perhatian.
Aku hanya mampu menggelengkan kepala lemah, menjawab pertanyaan yang barusan diajukannya. Hampir tengah malam, tapi mata ini belum bisa terpejam hanya tergolek lemah tak berdaya di atas pembaringan sejak tadi. Sedangkan lelaki bertubuh tinggi yang berada di sampingku itu sudah terlelap. Tangan kanannya memeluk tubuhku. Dengkuran halusnya mulai terdengar teratur.
***
Bunyi alarm yang berdering di atas nakas membuatku terjaga. Kelopak mata belum bisa terbuka sempurna karena rasa kantuk yang masih menguasai. Aku bangkit dari tempat pembaringan lalu duduk sebentar di sisi tempat tidur untuk sekedar mengumpulkan kesadaran yang belum menyatu sempurna.
Terlihat lelaki berjenggot tipis itu masih terpejam. Pertanda ia sedang dibuai mimpi. Perlahan kuturunkan kedua belah kaki dan berjalan ke arah kamar kecil.
Setelah hampir tiga puluh menit membersihkan diri, aku mendorong dan membuka pintu kamar mandi dengan balutan handuk yang melekat di badan. Sengaja tadi bangun dan langsung mandi sebelum azan Subuh berkumandang. Berharap rasa pusing dan mual yang semalam kurasakan bisa hilang setelah kepala diguyur dengan kucuran air dingin.
Di sisi tempat tidur sudah terlihat sang suami sedang duduk sambil mengecek ponselnya. Kedua pasang mata kami saling bertemu saat saling menatap satu sama lain. Lalu saling melempar senyum.
"Gasik temen jam saiki wis adus," tanya Mas Agung melihat rambutku dibalut dengan lilitan handuk yang bertengger di atas kepala.
__ADS_1
"Iya, dong, biar seger. Kakak baru bangun? Cepet sana ke kamar mandi dulu, udah azan tuh, nanti kesiangan salat Subuhnya."
"Baik, istri Solehahku .... " selorohnya sembari mengulum senyum. Bangun dari duduknya lalu melangkahkan kaki ke arah pintu kamar mandi.
Usai membersihkan diri dan berwudhu Mas Agung keluar dari kamar mandi kemudian mengenakan baju koko dan sarung untuk segera melaksanakan salat Subuh berjama'ah bersamaku. Kebiasaan rutin itu sudah dibiasakan beberapa hari setelah kami menikah. Saat sudah bersih dari haid. Karena seminggu sebelum ijab kabul aku sedang mendapat tamu bulanan.
Lelaki bertubuh tegap itu kini berdiri menjulang beberapa langkah dari hadapan. Telah siap menjadi imam salat dan imam sepanjang hidupku. Aku bersyukur telah dipersatukan dengan pria yang taat dan soleh seperti sosok lelaki yang kini hidup bersamaku. Allah telah menjawab semua doa dan harapan untuk bisa diberikan jodoh yang bisa membawa untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.
Suara takbir mulai terdengar dari Mas Agung pertanda ritual salat Subuh sudah dimulai. Aku mengikuti dari belakang setiap gerakannya dan menyimak dengan penuh penghayatan setiap lantunan bacaan salat yang dibaca oleh imamku dengan fasih dan tartil.
***
Usai sarapan Mas Agung mengajakku ke tempat bidan praktek terdekat. Tidak sampai sepuluh menit kami sudah berada di depan rumah bidan desa itu.
Beberapa menit menunggu antrian terdengar namaku dipanggil dan dipersilakan memasuki ruang periksa. Bidan muda itu menanyakan apa saja keluhan yang dirasakan. Setelah mendengar semua keluhan yang diceritakan olehku secara detail. Bu Bidan tersenyum tipis seraya bertanya, "Tanggal berapa waktu bulan kemarin dapet hari pertama haid terakhir?"
"Maaf, Bu, maksudnya gimana, ya? Keningku mengernyit pertanda belum paham dengan pertanyaan yang diajukan oleh Bu bidan barusan.
"Terakhir si Neng dapet haid kapan? tanggal berapa? Bu bidan mengulang pertanyaannya.
"Berarti seminggu sebelum acara akad nikah, ya, Neng, hari pertama haid terakhirnya?" tanya Bu bidan memastikan.
"Iya, Bu, betul. Bahkan waktu acara akad nikah itu saya masih dalam keadaan haid, belum suci dari haid," jawabku gamblang.
Bu bidan lalu menyuruhku menuju kamar mandi, meminta untuk buang air kecil dan menampungnya menggunakan mangkuk kecil. Serta meminta urine dibawa ke ruang periksa untuk ditespack menggunakan alat deteksi kehamilan.
Aku mematuhi semua intruksi dari Bu bidan, walaupun hati sedikit merasa risih karena harus buang air kecil sambil ditampung menggunakan benda kecil itu.
"Maaf, Bu, ini urinenya mau diapain, ya?" tanyaku tersenyum rikuh. Menyerahkan mangkuk kecil berisi air seni lalu diterima oleh Bu bidan dan meletakkannya di atas meja.
Tangan Bu bidan mengambil benda untuk tes kehamilan, setelah membuka bungkusnya lalu dicelupkan ke dalam mangkuk yang berisi urine. Beberapa menit kemudian terlihat garis dua berwarna merah dari benda kecil memanjang itu.
"Positif, Neng," ucap Bu bidan tersenyum ramah.
Mendengar penuturan Bu bidan perasaanku berkecamuk antara terkejut dan bahagia. Tidak menyangka sama sekali kalau akan secepat itu akan langsung dititipkan kepercayaan oleh Sang Maha Kuasa. Saat usia pernikahan memasuki ke lima minggu aku sudah dinyatakan positif hamil.
__ADS_1
Setelah dihitung dari HPHT(hari pertama haid terakhir) Bu bidan menyatakan kalau usia kehamilanku saat ini sudah enam Minggu. Yang seketika membuatku terkejut dan langsung berkomentar.
"Tapi, Bu, saya nikah tanggal 5 Juli bulan kemarin jadi baru lima mingguan, masa udah hamil enam minggu?" sangkalku terheran.
"Iya, Neng, karena usia kehamilan itu dihitung dari semenjak HPHT atau biasa disebut hari pertama haid terakhir, bukan dihitung pas waktu melakukan hubungan intim atau hari pernikahan." Bu bidan menjelaskan dengan gamblang.
"Tapi, waktu hari pertama saya dapat haid tanggal 29 Juni, Bu, sedangkan saya nikah tanggal 5 Juli, gimana bisa dihitung udah hamil? Masa dalam keadaan haid dan belum akad nikah udah dihitung hamil?" protesku masih tetap kekeuh.
"Iya, Neng, memang begitu cara menghitung usia kehamilan. Dari hari pertama haid terakhir bukan dari hari pernikahan." Bu bidan mengulang penjelasannya.
"Ibu kasih obat mual dan vitamin penambah darahnya yang harus diminum selama kehamilan, ya," sambung Bu bidan.
"Iya, Bu," jawabku pendek. Masih belum bisa menerima penjelasan dari Bu bidan tadi.
Setelah selesai aku berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Bu bidan. Keluar dari ruang periksa langsung disambut oleh Mas Agung.
"Gimana, Dek, Adek kenapa kata Bu bidan?" tanyanya penasaran.
"Adek gak kenapa-napa, Kak." Aku menjawab pelan.
"Terus kemarin kenapa sampai muntah-muntah seperti orang lagi masuk angin?" cecarnya kemudian
Aku merasa ragu untuk menyampaikan kabar kehamilan ini kepada sang suami. Karena beberapa hari setelah menikah dirinya pernah berkata kalau bisa untuk menunda kehamilan dulu untuk sementara sampai waktunya merasa sudah siap. Dengan mengumpulkan keberanian akhirnya aku pun memberitahunya.
"Adek positif hamil, Kak."
Aku melihat ekspresi datar dari wajah pria berusia tiga puluh tahun itu saat barusan memberi kabar kehamilan. Ada rasa sesak di dalam dada saat melihat sikap sang suami yang biasa saja mendengar berita yang lumrahnya selalu diharapkan oleh sepasang suami istri baru menikah untuk cepat mendapatkan sang buah hati.
"Kakak gak suka ya, kalau Adek hamil sekarang?" tanyaku perlahan.
"Ya, mau gimana lagi, kalau sudah dikasih, ya, harus diterima." Mas Agung menjawab masih dengan ekspresi datar membuat hati ini terenyuh.
"Udah selesai semua, kan, ayo pulang," ajaknya berjalan ke arah sepeda motor yang terparkir di depan rumah Bu bidan. Aku pun mengekor di belakangnya tanpa berucap sepatah kata pun.
Bersambung ...
__ADS_1