
***
Karena pikiran ini sudah buntu dan merasa sangat kecewa dengan sikap Mas Agung yang sekarang berubah seratus delapan puluh derajat jadi cuek dan dingin terhadapku. Ditambah mendapat kabar dari teman kerjanya kalau ia ada hubungan khusus dengan rekan wanita.
Aku bersikeras minta pulang saat ini juga daripada harus merasa kecewa lebih dalam lagi. Apalagi sikap Mas Agung tidak ada tanda-tanda untuk menahanku agar tidak pergi dari sini. Malah seakan dirinya berharap aku benar-benar pergi.
Orang tua Mas Agung pun akhirnya menyerah. Mengijinkan pulang karena aku terus bersikeras dengan keputusanku. Menggunakan roda dua aku diantar menuju terminal oleh Mas Agung.
Selama perjalanan yang hampir memakan waktu tiga puluh lima menit itu kami hanya saling membisu. Berdiam diri sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya deru suara motor yang kami tumpangi dan suara kendaraan lain yang sekali-kali melintas mengisi indera pendengaran. Hingga tidak terasa sepeda motor yang dibawa oleh Mas Agung sudah mulai memasuki area terminal. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutku begitu juga Mas Agung.
Aku dan Mas Agung masih saling mempertahankan rasa keegoisan masing-masing. Tanpa ada salah satu pun yang bersedia mengalah. Apalagi aku sendiri yang merasa sudah dikecewakan olehnya.
Kalau sedang dalam kondisi hati seperti ini. Pikiranku langsung tertuju kepada Iwan. Apakah ini salah satu balasan dari sikapku yang dulu secara tidak langsung sudah mengecewakan dan membuat luka di hati Iwan dan Ifa? Entah ... aku sendiri hanya bisa menyesali pernikahan dan keputusanku dulu yang sudah memilih lelaki yang saat ini menjadi suami dan meninggalkan Iwan yang sempat diharapkan oleh Emak dan Abah untuk menjadi menantunya.
Karena dari rumah tadi belum masuk waktu Ashar dan belum sempat salat. Mas Agung memarkirkan sepeda motornya tepat di samping musala yang berada di sekitar terminal Gombong. Setelah menerima karcis dari penjaga parkir, tanpa mengajakku ia langsung menuju tempat wudhu khusus laki-laki. Sedangkan aku hanya duduk di teras depan musala menjaga tas dan jaket yang ia letakkan begitu saja di sana.
"Udah cepet sana salat, gantian!" titahnya setelah ia keluar dari pintu musala usai melaksanakan kewajibannya.
Tanpa menjawab sepatah kata pun aku langsung bergegas menuju toilet khusus wanita untuk mengambil wudhu lalu memasuki musala melewati pintu samping.
Terlihat ada beberapa potong setel mukena yang dilipat di dalam rak lemari khusus.
__ADS_1
Meraih salah satu mukena lalu mengenakannya dan mengarahkan sajadah ke arah kiblat. Kunikmati setiap gerakan dan bacaan sampai akhir. Selesai salam kuluahkan semua isi hati yang sedang kalut ini kepada Sang Pemberi Kedamaian Hati. Karena hanya kepada-NYA lah aku bisa mengadu dan berdoa berharap diberikan jalan keluar dan terbaik untuk langkah ke depannya nanti. Tidak ingin berlama-lama dalam keterpurukan masalah rumah tangga yang baru seumur jagung kujalani ini. Karena yakin dalam hati seberat dan sesusah bagaimana pun pasti menemukan solusinya selama kita berusaha dan berdoa dan bertawakal kepada Sang Maha Pengatur.
Ada rasa lega dan damai menyusup di dalam sanubari setelah usai mengadu dan bercengkrama dengan Sang Maha Pemilik Hati. Kini semua terasa menjadi jauh lebih baik lagi. Semua rasa sedih dan kecewa hilang seketika berganti dengan kedamaian memenuhi rongga dada yang sebelumnya terasa menyesakkan.
"Biar Adek nanti pulang sendiri aja, Kakak cukup nganterin sampai sini," saranku kepada Mas Agung saat aku menghampirinya di depan musala.
"Tapi, tadi sudah bilang sama Bapak dan Ibu mau nganterin sampai rumah, kan?"
"Gak apa-apa, Kak, Adek masih bisa pulang sendiri, kok, lagipula cukup naik bus satu kali doang. Gak harus naik turun mobil lagi."
"Gimana nanti kalau ditanya sama Bapak dan Ibu di rumah? Kalau Kakak Balik lagi sendiri?"
"Yasudah, terserah. Kalau memang itu maunya!" ungkapnya frustasi. Mungkin ia merasa serba salah dengan permintaanku yang mendadak. Karena saat masih di rumah tadi kesepakatannya aku harus diantar oleh Mas Agung sampai rumah. Menurut Bapak, agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan kedua orangtuaku di sana nanti kalau aku sampai pulang sendiri.
Namun, aku pun mempunyai alasan kenapa tidak mau diantar dan memutuskan pulang seorang diri. Yang pasti aku ingin menenangkan hati di suatu tempat yang satu orang pun tidak mengetahuinya tentang keberadaanku. Karena aku tidak mau permasalahan ini sampai diketahui oleh Emak dan Abah. Apa kata mereka nanti? Aku tidak ingin membebani pikiran mereka dengan masalah rumah tanggaku.
"Ini uang untuk bekal di sana nanti," ucapnya menyodorkan beberapa lembar kertas berwarna merah di hadapanku.
"Ambil!" titahnya saat melihat keraguan di sorot mataku untuk mengambil lembaran merah di tangannya.
"Buat bekal Kakak di sini ada gak?" tanyaku ragu.
__ADS_1
"Udah ambil saja!" ucapnya meyakinkan.
Mas Agung memasukkan lembaran kertas itu ke dalam tas selempangku. Karena dari tadi aku masih bergeming tidak langsung menerima pemberian darinya. Karena aku tahu gajinya yang diterima dari tempatnya bekerja tidak terlalu banyak apalagi kalau harus dibagi dua denganku. Pasti tidak akan cukup sekedar untuk menutupi kebutuhannya sendiri.
"Makasih," jawabku pendek tanpa bisa menolak pemberiannya.
"Air mineral dan beberapa potong roti sudah dimasukin di dalam tas yang ini, buat nanti bekal di dalam bus," ucapnya menunjuk tas jinjing berisi pakaian. Rupanya saat aku di dalam musala tadi Mas Agung sengaja belanja minuman dan beberapa cemilan buat persediaan selama perjalanan di atas bus malam yang tadinya akan kami tumpangi sebelum aku memutuskan untuk pulang sendiri.
"Iya, makasih." Lagi-lagi aku hanya menjawabnya pendek.
"Pulsanya masih cukup, gak? Buat nanti sewaktu-waktu perlu," tanyanya kemudian.
Tanpa diperintah aku mulai mengecek isi pulsa dengan mengetik bintang dengan angka delapan tiga digit serta tanda pagar di sampingnya melalui ponsel yang kupakai. Terlihat hanya sisa tujuh puluh lima rupiah yang tertera di sana. Aku pun menunjukkan layar ponsel ke arahnya biar terlihat langsung oleh pria yang berada di hadapanku.
"Tunggu sebentar, ya, jangan kemana-mana. Kakak mau nyari counter di sekitar sini dulu!" pintanya dan langsung berlalu menuju gerbang musala.
Sudah ada beberapa bus malam yang mulai memasuki terminal untuk membawa penumpang dan mengantarkannya ke tempat tujuan masing-masing.
Namun, Mas Agung belum juga menampakkan batang hidungnya sama sekali setelah hampir lima belas menit aku menunggunya di sini.
Bersambung ....
__ADS_1