
***
[Kakak baru sampai rumah. Sekarang mau mandi dulu]
Balasan chat dari Mas Agung membuat rasa khawatirku berganti lega setelah hampir dua jam menunggu balasan darinya.
Aku pun mulai bisa berpikir normal kembali. Tidak seperti sebelumnya tadi. Semua perasaan buruk tentang Mas Agung lenyap seketika. Karena dilihat dari isi chat yang ia kirim aku menyimpulkan sikapnya sudah kembali seperti biasa lagi. Tidak acuh seperti hari kemarin saat dirinya meninggalkanku.
***
Enam bulan sudah aku dan Mas Agung saling berjauhan. Menikah baru beberapa bulan sudah harus LDR-an rasanya tidak enak sekali. Karena tidak ada banyak waktu untuk sekedar menjadikannya tempat berkeluh kesah dan berbagi rasa. Tak urung juga sering terjadi kesalahpahaman antara kami saat aku merasa tidak diperhatikan lagi.
Seperti pagi ini seperti ada perasaan mengganjal karena menahan rasa kesal juga sedih dengan sikapnya yang menurutku tidak seperti biasanya. Tidak ada lagi alarm chat darinya yang selalu rutin ia kirimkan hampir setiap sebelum masuknya waktu Subuh untuk membangunkanku. Terkadang sampai sehari semalam tanpa ada kabar seakan kesibukan dirinya di sana sangat menyita waktu sehingga ia lupa kalau di sini ada sosok istri yang sangat membutuhkan perhatiannya.
[Dhin, mau ikut ke Jawa gak? Kalau mau nanti hari Selasa besok Mbak tunggu di sini, ya! Nanti kita berangkat bareng dari sini]
Chat dari Mbak Mila membuatku sedikit terlonjak. Hatiku berbunga-bunga karena ada harapan bisa bertemu dengan sang suami.
[Iya, Mbak, nanti Dihinil nyamper ke sana besok, ya] Aku membalas chat Mbak Mila.
__ADS_1
Memberanikan diri menyampaikan ajakan dari Mbak Mila kepada Emak. Agar wanita yang sebagian rambutnya sudah memutih itu tidak keberatan dan bisa memberikan ijin kepada anak perempuannya ini untuk menyusul sang suami.
Harapanku setelah aku dan Mas Agung bertemu kembali jadi bisa menghalau rasa kecewa karena selalu merasa tidak diperhatikan selama aku berjauhan dengannya. Setelah aku menunjukkan chat Mbak Mila yang langsung dibaca oleh Emak. Emak pun mengiyakan dengan catatan berangkat ke Jawanya harus bareng bersama keluarga Mbak Mila.
***
Aku sempat mengutarakan isi hati yang sedikit kecewa dengan sikap Mas Agung akhir-akhir ini kepada Mbak Mila. Entah disengaja atau tidak. Tanpa kumita perempuan beranak satu itu menceritakan masa lalu Mas Agung dulu sebelum menganl dan bertemu denganku.
Mbak Mila bercerita. Kalau Mas Agung dulu sudah hampir satu langkah lagi menuju ke arah pelaminan bersama Ifa. Pertemuan diawali saat di kampus yang sama mereka dipersatukan dalam satu kelompok kegiatan KKN menjelang kelulusan. Mungkin karena intensnya kebersamaan antar mereka saat itu hingga muncul perasaan saling suka dan saling menggamumi hingga Mas Agung berniat langsung untuk meminang Ifa setelah selesai sidang skripsinya. Tapi, takdir berkata lain. Pinangannya ditolak keluarga Ifa dengan alasan Mas Agung tidak bisa memberikan mahar dan biaya resepsi sesuai permintaan bapaknya Ifa.
"Saat itu Agung sempat down dan tidak keluar rumah sampai satu Minggu," terang Mbak Mila.
Rasa cemburu menyelimuti hati ini mendengar penuturan Mbak Mila. Aku baru tahu sebegitu dalam ternyata perasaan Mas Agung kepada gadis pujaannya sebelum dulu ia mengenalku. Sampai rasa kehilangannya sangat membuatnya seperti itu. Lalu sikapnya yang akhir-akhir ini berubah terhadapku ada kaitannya dengan perasaan masa lalunya itu? Ah ... entahlah aku sendiri hanya sekedar mampu mengira-ngira sendiri tanpa bukti yang pasti. Walaupun sebenarnya aku sangat merasa tersiksa dalam kondisi hati seperti saat ini.
"Oya, Dhin, kalau mau istirahat langsung ke kamar aja, gak apa-apa, biar bisa langsung tiduran ngelurusin badan" saran Mbak Mila kepadaku. Aku mengiyakan dan langsung beranjak menuju kamar. Yang ternyata diikutin oleh Mas Agung dari arah belakang.
"Kangen istri .... " bisiknya di belakang telinga yang membuat pipi ini seketika terasa memanas. Aku sangat bersyukur dalam hati ternyata setelah bertemu dengan pria bertubuh tinggi itu sikap acuhnya bisa hilang begitu saja. Tidak seperti saat berjauhan seperti beberapa bulan kemarin.
Menjelang siang Mas Agung membawaku kembali ke rumah kosong yang pernah kami tempati saat aku pertama kali diboyong ke sini. Karena Mbak Mila bersama anak dan suaminya berencana hendak menetap hingga empat belas hari ke depan nanti di rumah Bapak.
__ADS_1
***
"Kak, Adek kok, ngedadak pengen makan seafood, ya, sekarang ini," ungkapku kepada Mas Agung yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Seafood apa?" tanyanya acuh. Tanpa beralih dari benda yang berada di genggaman.
"Ya, apa aja, Kak, seperti cumi bakar atau yang lainnya, gitu. Yang penting seafood."
"Emang harus, ya, makan gituan?" tanyanya lagi.
"Ya, lagi kepingin aja, sih," ucapku berharap dirinya mengiyakan apa yang barusan kuminta.
"Di sini tuh, susah nyari makanan seperti itu. Mau nyari di mana? Kalau nasi goreng sama batagor banyak tuh, di perapatan," sambungnya beralasan. Karena aku tahu pasti kalau di sekitar pantai Suwuk yang hanya berjarak tiga kilo meter dari rumah ini ada rumah makan yang menyediakan menu seafood. Atau di daerah pasar Gombong yang ramai pasti bisa menemukannya. Tapi, jawabannya barusan sungguh membuatku seketika merasa kecewa. Entah karena bawaan dari hormon kehamilan atau karena memang perasaanku yang gampang banget baper. Sehingga disaat keinginan hati ini ditolak olehnya langsung merasa sedih.
"Ayo, Kak, cari dulu. Nanti belinya juga pakai uang Adek, kok, bukan uang Kakak." Aku masih berusaha merajuk.
"Kalau memang punya uang daripada buat beli makanan begituan mending disimpan untuk keperluan atau dibelikan yang lain saja," sangkalnya tanpa mempedulikan perasaanku.
Aku merasa sikap Mas Agung mulai terasa janggal kembali. Tidak seperti kemarin saat pertama aku datang ke sini. Dalam hitungan hari sudah kembali acuh seolah tidak mengindahkan suasana hati sang istri yang merasa kecewa dengan sikapnya.
__ADS_1
Karena semua bentuk keinginan dan harapan yang sifatnya sepele ini tidak membuahkan hasil. Untuk menghalau rasa yang berkecamuk di hati aku memilih mengurung diri di dalam kamar. Hanya mampu berurai air mata menumpahkan rasa yang berkecamuk di dalam rongga dada.
Bersambung ....