
***
Entah kenapa setelah mengetahui kehamilanku. Sikap Mas Agung jadi sedikit berubah. Sikapnya yang dulu selalu hangat dan perhatian, kini berubah jadi dingin dan cuek. Atau mungkin hanya perasaanku saja.
Kemarin sore kami balik dari rumah Mbak Mila. Sekarang aku sudah berada di rumah Emak. Besok Mas Agung akan kembali pulang ke kampung halamannya sendiri tanpa aku. Sedih dan berat rasanya dalam keadaan hamil muda harus tinggal berjauhan dengannya.
Apalagi akhir-akhir ini rasa mual dan pusing sudah semakin intens. Mungkin ini yang dinamakan morning sick diawal trimester pertama kehamilan. Seharusnya saat dalam kondisi seperti ini selalu ada sosok suami yang selalu siap siaga.
Namun, karena sudah kesepakatan bersama untuk sementara waktu ini harus menjalani LDR-an. Aku harus kuat dan bisa melaluinya.
Status yang sudah masuk kategori 2 di tempatku mengabdikan diri sayang kalau harus ditinggalkan begitu saja. Apalagi empat bulan ke depan ada informasi akan ada pembukaan tes CPNS serentak khusus untuk yang sudah masuk K2. Aku pun harus bersabar minimal sampai menunggu bisa ikut tes dulu. Setelah itu baru menentukan pilihan. Kalau nanti sampai tidak lulus tes aku harus ikut Mas Agung dan menetap bersama di kampung halamannya. Sedangkan jika nasib baik berpihak maka dirinya akan bersedia
untuk tinggal di sini hidup bersama.
Sudah hampir jam sepuluh malam, Mas Agung belum juga ada tanda-tanda akan memasuki kamar. Ia masih terdengar asyik mengobrol di teras depan dengan beberapa orang yang masih nongkrong di luar rumah.
Aku yang dari tadi menunggunya hampir ketiduran sendiri. Suara derit pintu mulai terdengar ada yang membuka dari arah luar. Kulihat jarum jam yang menempel di dinding kamar sudah menunjukkan angka sebelas lewat lima belas menit. Sudah hampir setengah dua belas malam ia baru mau beranjak ke tempat tidur. Padahal besok pagi dirinya akan pergi meninggalkanku. Tadinya aku berharap kalau malam ini kami bisa memanfaatkan waktu terakhir ini dengan mengisi waktu berdua seperti layaknya suami istri yang akan berpisah walaupun hanya untuk sementara waktu. Tapi nyatanya ia malah memilih menghabiskan waktu mengobrol dengan orang lain. Tanpa mempedulikan perasaanku yang sedari tadi menunggunya.
__ADS_1
Aku berpura-pura terlelap setelah kutahu ia mulai memasuki kamar dan merebahkan tubuhnya di sisi tempat tidur. Tubuh tingginya terlentang dengan tangan menyangga kepala bagian belakang. Sedangkan tangan sebelahnya ditempelkan di atas dahi. Seolah-olah ia tidur seorang diri di kamar ini. Tanpa mempedulikan keberadaanku di sampingnya.
'Kenapa Mas Agung sikapnya jadi berubah seratus delapan puluh derajat menjadi kaku, dingin dan tidak peka seperti ini.' Aku hanya bisa membatin dalam hati. Kemana sikapnya yang dulu romantis dan selalu agresif saat berduaan denganku.
***
Subuh menjelang. Seperti biasa Mas Agung selalu bangun lebih awal dariku. Setelah ia selesai membersihkan diri dari kamar mandi. Ia baru akan menepuk-nepuk pelan membangunkanku dari tidur lelap.
Usai salat Subuh aku mulai menyiapkan semua pakaian dan barang-barangnya yang akan dibawa pulang oleh Mas Agung. Selama mengemasi baju-bajunya ke dalam tas yang akan dibawa. Mataku mulai mengembun dan dengan perlahan aku mulai terisak. Merasa berat saat hendak melepas kepergiannya seakan akan berpisah untuk selamanya. Padahal aku tahu ini hanya untuk sementara.
Tidak ada tanda perpisahan yang berkesan sama sekali yang ia berikan untukku sebagai istrinya. Aku hanya bisa menahan gejolak batin dalam hati tanpa mampu berucap sepatah kata pun.
"Bu, Pak, untuk sementara saya titip Dihinil, dulu ya, di sini," pamitnya menyalami Emak dan Abah.
"Iya, Nak, Agung. Semoga ada jalan terbaiknya agar kalian nanti bisa cepat tinggal bersama kembali," jawab Emak menoleh ke arahku.
"Hati-hati di jalan, ya, salam buat semua keluarga besarnya di sana." Abah menambahkan.
__ADS_1
Iya, Bah, Mak, mari .... !"
Perlahan ia mulai menyalakan mesin kendaraan roda dua lalu melaju setelah sebelumnya menganggukkan kepala ke arah Emak dan Abah yang masih berdiri mematung melepas kepergian menantunya. Setelah kupastikan sosoknya sudah tidak terlihat lagi. Setengah berlari aku menghambur ke arah kamar. Setelah berada di dalamnya sambil berlutut aku tergugu di balik pintu seorang diri. Menahan suara tangis agar tidak sampai pecah dan terdengar oleh Emak dan Abah.
Aku tidak ingin mereka tahu kalau tadi pagi sebelum keberangkatan Mas Agung. Aku dan dirinya sempat adu mulut dan bersitegang satu sama lain. Aku berusaha untuk menahannya agar tidak jadi berangkat hari ini. Tapi Mas Agung sendiri bersikokoh harus pergi saat ini juga. Beruntung kedua orang tuaku dua-duanya sedang tidak ada di rumah. Sehingga tidak mengetahui pertikaian anak dan menantunya. Abah dan Emak tahunya kami sedang baik-baik saja.
'Ya, Robb ... hamba menikah baru seumur jagung. Baru menginjak dua bulan sudah diberikan ujian rumah tangga seperti ini.' Dalam hati aku hanya bisa mengadu kepada Sang Pemberi Takdir.
***
Walaupun ada rasa enggan dan gengsi untuk memulai menanyakan kabarnya. Karena sudah hampir empat belas jam aku sengaja menonaktifkan ponsel. Menghindari untuk tidak berkomunikasi dengannya. Apalagi harus memulainya lebih dulu. Tapi naluriku sebagai istri yang tidak bisa berlama-lama dengan keegoisan. Akhirnya hati ini luluh juga. Ada perasaan khawatir dan bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana kabarnya saat ini. Sudah sampai tujuan kah, apa masih dalam perjalanan. Atau ... Ah, kenapa pikiran buruk ini kadang suka datang dengan sendirinya. Rasa khawatir yang tinggi ini pun akhirnya menggiringku untuk meraih benda pipih yang sedari tadi tersimpan di atas nakas kamar.
Aku mulai mengetik chat menanyakan keberadaannya.
[Assalamualaikum. Gimana kabarnya Kak, sudah sampai rumah belum sekarang?]
Setelah melewati pertimbangan yang hampir matang. Akhirnya kukirim juga pesan singkat itu. Tak apa kalau harus memulai bertanya kabar duluan kepadanya. Dari pada menunggu dan terus berharap kalau dirinya yang terlebih dulu menghubungiku. Karena kurasa mustahil. Terbukti sudah hampir lima belas jam setelah keberangkatannya tadi tidak ada satu pesan pun yang ia kirimkan ke nomorku.
__ADS_1
Sudah hampir dua jam kukirim pesan kepada Mas Agung. Tapi, tak kunjung juga ada balasan darinya. Hatiku kembali pilu.
Bersambung.