
***
"Udah masuk belum pulsanya?" Suara bass dari arah samping mengejutkanku saat pandanganku lurus ke depan mencari sosok Mas Agung di antara kerumunan orang yang berlalu lalang di area terminal.
Kulihat sosok yang kucari sudah berdiri menjulang sambil menenteng botol air mineral yang isinya tinggal setengah.
"Gak tahu, belum dicek hapenya," jawabku mengangkat bahu.
"Dicek dulu, takutnya belum masuk nanti malah ribet."
"Udah masuk," ucapku setelah memastikan ada jumlah nominal pulsa yang sudah terisi.
"Nih, minum dulu!" Mas Agung menyodorkan botol air mineral yang berada di tangannya.
Aku menerima dan meminumnya karena sebenarnya tenggorokanku sudah terasa kering dari tadi.
"Serang, berangkat ... Serang, berangkat!"
Teriakkan dari bapak kondektur membuatku gugup karena sebentar lagi bus yang akan ditumpangin akan segera meninggalkan terminal. Mas Agung dengan sigap membawakan tas berukuran sedang menuju bus. Aku mengekor di belakangnya menjinjing keresek berisi barang yang lain.
Mas Agung mencari nomor kursi yang sesuai dengan yang tertera pada tiket yang dipesannya tadi. Setelah menemukannya ia menaruh tas di atas tempat penyimpanan barang yang berada tepat di atas kursi yang kududuki.
"Jangan lupa, nanti tasnya di sini, ya!" ucapnya mengingatkan.
__ADS_1
Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Setelah semuanya dipastikan tidak ada yang tertinggal. Aku mencium punggung tangannya sebelum Mas Agung menurunkan langkah dari tangga bus.
Perlahan tapi pasti bus yang kutumpangi mulai berjalan menjauh meninggalkan sosok lelaki di bawah sana. Samar kulihat dari kaca bus Mas Agung sudah mengendarai sepeda motornya mengenakan jaket hitam dan pelindung kepala menuju arah pulang.
Air mata yang sedari tadi kutahan luruh begitu saja membanjiri kedua belah pipi. Aku sudah tidak peduli lagi dengan penumpang yang duduk di sebelahku. Saat tak sengaja ia melirik dan melihatku sedang menangis.
Aku menyesali sikap Mas Agung yang tidak sekali pun keluar dari mulutnya untuk menahanku agar tidak pergi meninggalkannya. Ia seolah baik-baik saja saat aku meminta pulang tidak ada kalimat pencegahan sama sekali darinya.
'Ya Robb, kuatkan hati ini .... ' jeritku dalam hati. Sungguh sangat tersiksa dalam situasi seperti ini. Apalagi mengingat dari awal kehamilan pikiran selalu merasa tertekan oleh sikap lelaki yang awalnya sangat kubanggakan itu.
Tak terasa entah sudah berapa puluh menit aku menangis meluahkan semua rasa yang berkecamuk di dalam hati. Berharap yang kualami saat ini hanya mimpi buruk belaka.
Tenggorokanku mulai terasa kering mungkin karena terlalu lama mengeluarkan cairan dari setiap sudut mata dan juga hidung. Kuraih botol air mineral yang sudah berada di kantong plastik yang kuletakkan di sebelah pojok kursi. Hampir lima menit kuputar tutup botol berwarna biru itu tapi hasilnya nihil. Tidak membuahkan hasil sama Sekali. Botol air mineral itu masih tetap utuh dengan segel yang masih tertutup rapat. Tanganku seakan tidak memiliki tenaga dan kekuatan walaupun hanya sekedar membuka tutup botol minuman yang kubutuhkan untuk membasahi kerongkongan yang kering.
'Seandainya orang yang duduk di sebelah ini suamiku sendiri. Aku tidak akan segan untuk memintanya agar membukakan tutup botol ini' batinku dalam hati. Aku baru menyadari betapa lemahnya diri ini. Untuk urusan sepele seperti ini saja aku masih harus bergantung kepada orang lain. Dan disaat seperti ini biasanya Mas Agunglah yang selalu siap siaga menjadi dewa penolongku dalam urusan kecil yang aku sendiri tidak bisa melakukannya.
"Maaf, Mas, bisa minta tolong bukain tutup botol ini?" Aku memberanikan diri kepada seseorang yang duduk bersebelahan sambil menyodorkan botol air mineral ke arahnya.
Lelaki berusia dewasa itu pun tersenyum ramah meraih botol plastik yang kuberi lalu hanya dengan satu putaran terbukalah tutup yang sedari tadi tertutup rapat. Kemudian memberikannya kembali kepadaku.
"Makasih banyak, ya, Mas." Rasa segar nan sejuk menjalar ke seluruh bagian kerongkongan yang sedari tadi terasa kering setelah beberapa tegukan air masuk ke dalam tenggorokan.
__ADS_1
***
Menjelang pagi bus mulai memasuki area terminal kota Serang setelah kurang lebih dua belas jam menempuh perjalanan. Aku bersiap untuk turun dan akan menunggu jemputan dari seorang teman yang sudah kukabari sebelumnya.
"Lagi hamil kok, bepergian sendirian aja, Mbak, suaminya kemana?" Pertanyaan iseng dari kondoktur bus cukup membuat hatiku berdesir perih. Mungkin karena perutku sudah mulai terlihat membuncit hingga timbul pertanyaan semacam itu.
"Suami saya lagi kerja, Pak, jadi gak bisa ikut." Aku menjawab pertanyaan lelaki setengah baya itu sambil berusaha tetap tersenyum ramah menyembunyikan rasa pilu di dalam dada. Bergegas turun dari bus sebelum lelaki berperut buncit itu terus melanjutkan pertanyaannya.
Sepuluh menit kemudian yang ditunggu pun sudah datang menjemputku. Setelah saling berpelukkan melepas rindu karena sudah beberapa tahun tidak bertemu. Kami mulai melanjutkan perjalanan menggunakan taxi yang dipesan oleh Maria, teman seasramaku dulu saat kami kuliah bareng di daerah Serang.
"Jadi ceritanya kamu sekarang ini lagi kabur dari suami, ya, Dhin?" tanya Maria setelah kami sampai di tempat kostnya. Status Maria yang masih single dan bekerja sebagai pengajar di pondok pesantren membuat pergaulannya sedikit tertutup. Persis seperti saat dirinya waktu masih sama-sama menjadi mahasiswi beberapa tahun yang lalu.
"Enggak, lah, kalau aku kabur beneran mana mungkin kemarin diantar oleh Mas Agung sampai terminal," jawabku menyangkal pertanyaan Maria.
Maria mengajakku sarapan bareng dengan nasi uduk yang dibelinya di depan jalan gang tadi. Setelah itu menyuruhku istirahat di kamarnya. Sedangkan dia sendiri harus berangkat mengajar ke sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya ini.
Aku bersyukur disaat seperti ini masih mempunyai sahabat lama yang masih solid dan bersedia menampungku untuk sementara waktu tinggal di tempat kostannya. Karena aku sendiri belum siap kalau harus pulang ke rumah Emak dalam kondisi hati seperti ini. Biarlah aku akan mencari ketenangan dan solusi terbaik seorang sendiri tanpa harus melibatkan orang tua dan keluarga.
"Oya, Dhin, kebetulan hari Minggu besok di alun-alun nanti akan ada pengajian akbar yang akan diisi oleh penceramah kondang. Kamu mau ikut hadir, gak?" ajak Maria menawarkan.
"Biasanya kalau kondisi lagi galau begitu mendengarkan kajian akan jadi obat tersendiri, lho, nanti buat kita," sambungnya kemudian. Karena aku sudah menceritakan semua permasalahan ini kepada Maria. Berharap beban pikiran sedikit berkurang dan tidak terlalu berat.
"Yaudah, aku ikut aja kalau gitu," jawabku pasti.
__ADS_1
Bersambung ....