
***
Tepukan lembut di bagian lengan membuatku sedikit terkejut karena masih dibuai mimpi. Perlahan kubuka kelopak mata yang masih terasa rapat dan sedikit perih.
"Bangun, Dek, udah Subuh. Salat dulu sana, gih!"
Persis di pinggir tempat tidur berdiri sosok lelaki tinggi bertubuh tegap menyambutku dengan senyuman. Aku melihat Mas Agung sudah rapi dengan balutan koko putih dengan sarung berwarna maroon. Peci hitam yang bertengger menutupi sebagian rambutnya menambah lelaki tampan itu terlihat lebih berkharisma.
"Kakak udah salat?"
"Udah, di masjid."
"Kok, gak, bangunin Adek?"
"Ini udah Kakak bangunin. Buruan sana ke kamar mandi!"
Seperti biasanya, Mas Agung selalu bangun lebih awal dariku. Ia akan membangunkanku setelah dirinya membersihkan diri dan usai melaksanakan salat jama'ah Subuhnya di masjid.
Pernah suatu hari aku meminta ikut salat ke masjid bersamanya.
"Seorang perempuan boleh saja ikut salat berjama'ah di masjid, tapi salat di rumah itu lebih afdhol bagi wanita." Begitulah ia menjelaskan kepadaku tentang salat berjama'ah untuk kaum hawa.
Aku pun beranjak dari tempat tidur dan menyeret kaki ke arah pintu kamar mandi yang berada di bagian belakang
***
Usai melaksanakan kewajiban aku bergegas menuju dapur menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Aku ingin Mas Agung berangkat kerja dalam keadaan perut terisi. Mas Agung dulu pernah bercerita kalau dirinya sering telat makan saat tinggal sendiri di tempat kost karena tidak ada yang menyiapkan. Saat statusnya belum punya istri.
Setelah menata makanan di atas meja. Tak lupa secangkir teh hangat kusajikan pula di sana. Lalu menyusul Mas Agung yang masih terlihat sibuk di dalam kamar sedang berganti pakaian. Kening ini berkerut saat bola mata melihat pemandangan yang menurutku janggal.
"Kak, kalau pake pakaian tuh, jangan sambil ngelamun."
__ADS_1
"Emang kenapa, Dek? Ada yang salah dengan Kakak?"
"Itu ... masa pake kaos dan ****** ***** aja kebalik. Kayak anak TK yang baru belajar pake baju sendiri." Aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang menurutku lucu.
"Enggak, kok, emang begini makenya." Mas Agung tak menggubris teguran dariku.
"Coba, deh, Kakak berdiri di sini!" ajakku menarik tangan kekarnya tepat di depan kaca lemari pakaian.
"Tuh, coba lihat! Ada yang aneh, gak?"
"Enggak."
"Ya, ampun ... Kak, masih belum kelihatan? Ini jahitannya ada di bagian luar. Kakak tadi makenya kebalik."
"Owh, itu. Gak apa-apa, Dek. Emang Kakak bias seperti ini. Kan, makenya juga di bagian dalam gak kelihatan langsung dari luar," paparnya menjelaskan.
"Kakak udah biasa dari dulu, kok, kalau pakai daleman itu harus dibalik. Kalau jaitannya yang di dalam langsung kena kulit bikin gatal," pungkasnya tersenyum ke arahku.
Mendengar penjelasannya aku hanya bengong tak habis pikir dengan keunikan yang punya kebiasaan seperti itu. Beda dari yang lain dalam hal memakai pakaian dalam. Entah keanehan dan perbedaan apa lagi yang nanti bakal kutemui dari lelaki berusia tiga puluh tahun itu.
Aku menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan kesibukannya. Ternyata bukan hanya kaum hawa saja yang seperti itu. Selalu ribet dandan lama demi ingin terlihat perfect. Dan itu semua kutemukan dalam dirinya yang selalu memperhatikan penampilan agar selalu terlihat bersih dan rapi sempurna.
"Kakak, kok, mau kerja dandannya lama, sih, kan, udah laku. Biar ada yang naksir lagi, ya?" godaku saat Mas Agung baru saja duduk berhadapan di kursi meja makan. Kusendokkan sepiring nasi dan meletakkan di hadapannya.
"Ya ora, kan, Kakak kerjanya memang harus seperti ini. Mesti selalu rapi dan bersih buat contoh anak-anak lainnya. Masa bapak guru terlihat kucel dan kumel, kan, gak etis." Lelaki beralis tebal itu tertawa pelan menanggapi pertanyaanku. Tangannya mulai menyendok orek tempe serta oseng buncis yang terhidang di atas meja.
Pernah beberapa hari yang lalu aku memasak ayam goreng yang kubeli dari Kang sayur keliling, tap Mas Agung tak menyentuhnya sama sekali. Menurut yang ia dapat dari hasil ngaji di MTA kita harus menghindari suatu makanan yang di dalamnya mengandung keraguan. Karena kita sendiri tidak pernah tahu hasil dari sembelihan itu halal atau subhat. Saat proses pemotongan diawali dengan asma Allah atau tidak. Untuk kehati-hatian sebaiknya kita memilihi makanan yang sudah jelas kehalalannya. Karena salah satu untuk mendapatkan keturunan yang soleh, solehah dan terkabulnya do'a kita harus memperhatikan apa yang masuk ke dalam perut.
Sejak saat itu aku pun berusaha memilihkan makanan yang sekiranya ia sukai, seperti ikan laut atau tawar, tahu, tempe, dan sayuran yang tidak melalui proses penyembelihan. Rasa kagumku semakin bertambah kepada lelaki yang kini sudah menjadi imamku. Suami yang tak pernah bosan mengajak dan mengarahkanku untuk lebih baik dalam meniti hidup bersamanya. Tak sia-sia aku sudah memantapkan hati memilihnya untuk membersamaiku dalam mengarungi mahligai rumah tangga.
"Kalau nanti ada anak perempuan yang kesemsem gimana? muridnya kan, udah mulai beranjak remaja dan lagi masa puber. Lihat bapak gurunya yang masih muda, tampan, rapi, wangi bisa aja, kan, ada yang tergoda." Aku masih mencecarnya.
__ADS_1
"Yang penting Kakak gak godain mereka, Nanti, kan, Kakak tinggal bilang saja kalau Kakak sudah ada yang punya. Beres, kan?"
"Yakin?" selidikku memastikan.
"Kenapa harus ragu?"
Kami berdua mulai menikmati sarapan masing-masing dengan lahap dan sangat berselera walaupun menunya sangat sederhana.
Mas Agung mengakhiri suapan terakhirnya lalu meminum teh manis hangat yang kusajikan sampai tandas.
Aku mengantar Mas Agung sampai pintu depan sambil membawakan helm dan jaket yang akan dikenakannya untuk berangkat ke tempat kerja.
"Kakak berangkat dulu, ya, Dek, kalau bosan di rumah nanti main aja, tuh, ke rumah tetangga biar gak jenuh sendirian," pamitnya seraya mencium keningku lembut.
Iya, Kak, hati-hati di jalan, ya!"
"Ashiap, istriku!"
Aku tersenyum tipis menanggapi sang suami yang kadang selalu pandai membuatku tertawa dengan sikapnya.
"Pulangnya nanti jam berapa, Kak, sampai rumah?"
"Kalau lancar gak ada halangan nanti jam satu siang juga udah balik."
Mas Agung menyalakan mesin kendaraan roda dua lalu memutar dan membawanya pelan.
Aku masih berdiri di ambang pintu melepas keberangkatan sang suami sampai punggungnya menghilang di belokan gang kecil.
Setelah itu kembali memasuki rumah dan langsung menuju kamar yang berada di bagian belakang. Usai membereskan piring kotor bekas sarapan tadi. Aku mulai mengumpulkan pakaian kotor lalu membawa ke kamar mandi. Menyimpannya dalam bak berukuran besar, diisi air setelah itu menaburkan bubuk detergen kemasan.
Sambil menunggu rendaman pakaian kotor aku kembali ke kamar. Mulai membuka dan meriksa benda berbentuk pipih berlayar datar untuk memastikan kalau ada kabar dari keluarga atau teman. Karena untuk sampai ini aku baru memakai cuti dan belum resign dari tempatku bekerja.
__ADS_1
Di aplikasi berwarna hijau bertulisan WhatsApp aku membaca pesan dari seseorang yang sukses membuat bibir ini tersenyum semringah.
Bersambung ....