Cinta Yang Ingin Kembali

Cinta Yang Ingin Kembali
22- Masalah Rendi


__ADS_3

Rendi masuk ke kelas dengan terlihat gelisah.


"Kenapa Ren, kog elo terlihat beda begitu?" Tanya Fita.


"Gak kenapa-napa Fit" jawab Rendi yang tidak ingin dulu Fita mengetahui kegelisahan Rendi.


"Benarkah?" Tanya Fita tidak yakin.


"Ehm" jawab Rendi singkat, jawaban begitu la yang buat Fita mengerti jika Rendi pasti ada sesuatu.


Sorenya di rumah Rendi, setelah selama di kampus dia uringan-uringan.


"Pa, Rendi mohon biarkan Rendi memilih sendiri" Rendi meminta kepada orang tuanya yang sedang duduk di sofa ruangan tamunya yang begitu luas.


"Kamu bawa kesini, kalau Papa dan Mama suka, maka kamu bebas" jawab Papanya.


"Ok, besok Rendi tunjukin ke Papa dan Mama" jawab Rendi menyetujuinya.


Dan kebetulannya besok adalah hari minggu.


"Fit, besok kita jalan ya, jam 8 pagi oke" chat yang Rendi kirim ke Fita.


"Mau kemana?" Fita dengan cepat membalas karena memang lagi memegang hpnya.


"Ada aja, lo dandan yang rapi cantik yach" balas Rendi.


"Iya de" balas Fita.


Matahari telah bersinar, Fita pun segera bangun, teringat akan janjinya dengan sang kekasih, dia merasa hari moodnya sedang sangat bagus, dan bahagia entah kemana Rendi akan membawanya jalan-jalan.


"Cerah benar wajah kakak, sudah pakaian rapi, biasanya jam segini masih molor, ini baru jam 7 pagi!" Tanya Fero yang melihat


Fita nampak sudah rapi.


"Mau jalan sama Rendi" jawab Fita.


"Memangnya kalian mau kemana Fit" tanya mamanya tiba-tiba.


"Enggak tau kemana ma" jawab Fita.


Fero yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepalanya saja.


Fita yang sudah siap pun menunggu kedatangan Rendi, tidak berapa lama pun, Rendi telah tiba dan Rendi menyapa mama Fita yang kebetulan juga lagi berdiri di depan pintu. Mereka berpamitan dan pergi.


"Mau kemana Ren?" Tanya Fita diperjalanan mereka, Rendi membawa motornya terlihat dengan santai, Fita yang memeluknya dari belakang dengan erat.


"Kita ketaman kota dulu, mau kasih penjelasan dulu ke elo yach!" Kata Rendi.

__ADS_1


Fita merasa binggung, merasa Rendi aneh semenjak orang tuanya meneleponnya kemarin waktu di kampus.


Fita pun hanya menunggu hingga sampai di tempat tujuan mereka.


Mereka memilih duduk d bangku taman yang berwarna biru memanjang.


Rendi mengedarkan pandangannya, pandangan yang sedikit sayu, sedangkan Fita, ia bahagia karena hari ini mereka bisa jalan-jalan. Tetapi Fita binggung dengan Rendi, melihat seperti Rendi memyimpan sesuatu.


"Fit, sebenarnya orang tua gue menjodohkan gue sama anak sahabatnya, mereka sudah berjanji dari kami waktu kecil karena sangat dekat" kata Rendi memulai ceritanya.


"Lalu sekarang gue udah punya elo, tetapi orang tua gue, kekeh tetap ingin gue sama anak sahabatnya, gue bilang elo orang yang baik, sangat berarti buat gue, semangat gue, orang tua gue pengen ketemu elo, mereka ingin lihat elo, kata mereka jika mereka setuju maka gue boleh bersama elo selamanya" cerita Rendi sedih.


"Tapi Ren, gue gak siap ketemu orang tua elo, gue takut, gue takut ditolak!" Kata Fita cemas, merasa sakit dihatinya yang tidak terluka.


"Apa lagi orang tua elo hanya mau menilai gue dari sikap pandangan orang tua lo, bagi mereka gak suka, gue gak akan direstui kan sama elo!" Kata Fita.


"Gue mau perjuangkan elo, gue benar-benar sangat menyayangin lo Fit!" Kata Rendi tegas.


"Ta-pi" kata Fita yang terpotong karena Eendi meletakkan telunjuknya di bibir Fita, agar Fita tidak melanjutkan omongannya.


"Kita berjuang sama-sama ya, lo mau kan" bujuk Rendi.


"Ia Ren!" Setelah Fita berpikir sedikit.


Rendi pun langsung memeluk Fita, keadaan taman sedikit orang berlalu lalang.


Pria yang sedang memperhatikan mereka berdua adalah Nico, yang tidak mengetahui jika keduanya sedang dalam masalah.


Fita merasa mengapa hubungan mereka sangat begitu rumit, padahal saat ini dia sudah menyayangin Rendi, Rendi tulus padanya.


Rendi pun segera mengajak Fita untuk kerumahnya, di perjalanan hati Fita tidak bisa tenang, dia merasa takut, jantungnya berdebar kuat, wajahnya sampai pucat, tangannya berkeringat dingin, ini kali pertama baginya.


Dia memeluk Rendi dengan erat ketika rasa takutnya kian kuat, Rendi menggenggam tangan Fita dan tau Fita sedang kondisi takut, karena tangannya Fita penuh keringat di telapak tangannya.


"Jangan khawatir, tenang ya" kata Rendi ingin menenangkan Fita, tetapi dia sendiri juga sangat takut akan tidak adanya restu dari orang tuanya, orang tuanya tidak menyukai Fita.


Fita hanya lebih erat lagi memeluk Rendi tanpa menjawab.


Mereka pun sampai di sebuah rumah bercat putih, rumah yang luas, taman yang sangat cantik, tertata rapi.


Rendi mengajak Fita untuk berjalan masuk kerumahnya.


"Ma, pa kenalkan ini Fita, pacar aku" kata Rendi memperkenalkan Fita ke orang tuanya.


"Om, Tante, saya Fita" Fita dengan suara bergetarnya.


"Duduk" kata papanya Rendi.

__ADS_1


Fita pun hanya duduk dan diam saja.


"Begini, Rendi mau saya jodohkan dengan anak teman saya, jadi saya mohon kamu tolong putuskan Rendi sekarang juga" kata papanya Rendi langsung tanpa basah basi.


"Pa!" Teriak Rendi.


"Rendi, diam kamu, biar papamu bicara dengan Fita!" Kata mama Rendi.


Fita hanya bisa diam dan sedikit menunduk.


Dia merasa sangat takut untuk mengeluarkan suaranya.


"Rendi, akan kami pindahkan keluar negeri kuliahnya bersama dengan calon tunangannya, kami sudah mengurus semuanya dan Rendi disini kami tidak menginginkan penolakan" kata papa Rendi.


"Rendi, kamu menerima keputusan papa dan mama!" Kata mamanya Rendi.


Rendi tidak mengetahui jika orang tuanya sudah mengurus segalanya dan memindahkan kuliahnya, juga soal pertunangannya semua sudah diatur oleh orang tuanya.


Fita yang berada disana sangat merasakan tidak berarti, keputusannya salah menerima ajakan Rendi untuk kerumahnya Rendi, disini pun Rendi tidak bisa mempertahankan Fita, Rendi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Fita, saya harap kamu mendukung Rendi, hubungan kalian juga baru tidak berjalan lamakan, berarti perasaan kalian juga tidak terlalu dalam, kalian berdua akan dengan mudah untuk saling melupakan" kata papa Rendi.


"Kami sebagai orang tua berharap yang terbaik buat anak kami, dan kamu tentunya akan mengikutin permintaan orang tua mu juga kan!" Kata mama Rendi.


"Iya Tante, Om, Fita mengerti, Fita juga akan mendukung keputusan Om dan Tante, Fita mendukung Rendi" jawab Fita dengan nada suara yang pelan sedikit bergetar ingin menahan air matanya yang sudah mau jatuh.


"Fit, kamu kog jadi begini, mendengarkan orang tua ku, aku akan pertahankan kamu" kata Rendi.


"Enggak Ren, kamu harus mendengarkan orang tua mu, walau sakit di hati ini, tetapi orang tua mu terbaik" jawab Fita.


Orang tua Rendi sangat senang mendengar jawaban Fita.


"Maaf, Om, Tante, Fita mau pulang dulu, Fita masih ada janji dengan mama Fita" kata Fita berbohong karena dia ingin segera menghindar dari situasi sekarang.


Fita berdiri dan menyalamin orang tua Rendi.


Fita pulang sendiri.


Rendi nampak frustasi pun hanya bisa terdiam, tidak menghiraukan Fita, dia sangat sedih mengapa dia tidak bisa mempertahankan Fita.


Fita yang sejak tadi menahan tangisnya pun menangis didalam gocar yang ia pesan, sang supir pun binggung melihat Fita yang tiba-tiba menangis.


"Tissunya mbak" kata supir tersebut menawarkan tissu tanpa bertanya lebih.


"Terima kasih pak" jawab Fita, sambil menyeka air matanya yang terus saja menetes dipipinya, hatinya kacau menerima keadaan ini, keadaan sekarang, mengapa di saat dia sudah tulus menyayangin, memberikan hatinya untuk Rendi, dia mendapat halangan terbesar.


Fita terus saja meremas jari jemarinya, merasakan sakit di hatinya, ia pun langsung pulang kerumahnya.

__ADS_1


__ADS_2