
Fita sudah 4 hari tidak sadarkan diri, sedangkan Nico sudah 2 hari tidak sadarkan diri.
Orang tua Nico hari ini berkunjung keruangan Fita, melihat Fita dalam kondisi begitu mereka sangat miris.
Orang tua Fita menyambut niat baik dari orang tua Nico, sementara ini mama Fita benar-benar melupakan masalahnya bersama Chintia sahabatnya.
Mereka lebih mementingkan kesembuhan dari masing-masing anak mereka, mereka saling dukung.
Papa Fita sangat senang melihat hal ini, istrinya benar-benar menunjukkan sikap dewasanya. Tetapi sebenarnya ketika Mama Fita melihat Chintia, dia selalu teringat masa lalunya, bagi dia sangat menyakitkan, walau begitu dia selalu memberikan senyum terbaiknya.
Pagi ini mereka sedang berada diruangan Fita.
"Fita, cepat sadar ya sayang, cukup sudah kamu tidur begini, cukup sudah main disana bersama Nico, ayo lah kalian kembali bersama-sama" suara parau mama Nico, dia ingin menangis melihat kondisi Fita, dia berbisik disamping telingga kanan Fita.
"Iya nak, ayo sadar" timpal mama Fita.
Para suami hanya membantu, menguatkan hati para istri dengan memegang atau mengelus bahu sang istri.
Fero tidak menjaga jika di pagi hingga sore karena harus bekerja ketika malam Fero akan mengantikan orang tuanya menjaga Fita.
Sudah waktunya sore, orang tua Fita akan pulang kerumah, tetapi sebelum pulang mereka singgah keruangan Nico, melihat perkembangan kondisi Nico.
"Bagaimana Nico hari ini?" Tanya papa Fita kepada papa Nico.
"Hmm"
__ADS_1
"Ya, masih sama seperti kemarin" melihat kearah Nico.
Papa Fita mendekat, kemudian berbisik lagi ketelingga Nico.
"Hei nak, cepat bangun gadis mu akan om, jodohin dengan laki-laki lain jika kamu terus begini"
Mama Fita hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah papa Fita, tetapi yang lainnya hanya tersenyum kecil.
"Maaaaa, lihat tangan kak Nico bergerak lagi lebih kuat" seru Zelfi girang.
Mereka semua langsung melihat kearah Nico, seketika Nico perlahan membuka matanya.
"Nico, anak mama" panggil mamanya pelan.
"Nak, kamu sadar!" Seru papa Nico.
Segera Zelfi memanggil dokter, semuanya yang disana sangat merasa bahagia, melihat Nico sadar. Dokter juga menyatakan Nico stabil dan itu membuat perasaan mereka lega.
Nico ingin bersuara, tetapi rasanya suara dia tidak bisa keluar, segera Zelfi memberikan Nico air putih untuk diminumnya dengan sedotan kecil.
"Ma, pa, Zelfi" panggil Nico pelan, bahkan sangat pelan.
Nico kembali mengedarkan pandangannya, dia melihat ada orang tua Fita.
"Tenang lah!" Kata mama Fita, sambil tersenyum melihat kearah Nico.
__ADS_1
"Kamu takut ya gadis mu dijodohkan dengan laki-laki lain, kamu langsung membuka mata" ucap papa Fita mendekati Nico.
Nico hanya tersenyum, semua yang melihatnya tertawa.
"Fita" tanya Nico.
"Fita bagaimana?"
"Apa dia sudah sadar, apa dia selamat?" Tanya Nico penasaran.
Kini kesadaran Nico lebih meningkat.
"Fit-a" ucap mama Nico, sedikit menjeda.
"Fita kenapa ma" seru Nico langsung.
"Nanti ya kamu sudah lebih sehat kita melihat Fita!" Ucap papanya menenangkan Nico.
"Tapi Fita tidak kenapa-napakan?" Tanyanya lagi.
"Tidak, diam baik-baik saja" senyum mama Fita.
Nico didalam hatinya selalu berdoa semoga Fita baik-baik saja, meski sudah diberitahu jika Fita baik-baik saja, tetap saja wajah Nico dipenuhin kekhawatiran.
"Aaak" seru Nico, ketika dia mencoba mengerakkan badannya.
__ADS_1
"Kamu belum boleh bergerak, istirahat dulu" tegur papa Nico.
Akhirnya Nico mengikuti perintah papanya, dia mencoba mendiamkan dirinya.