
Beberapa hari kemudian kondisi Fita dikatakan oleh dokter tidak mengalami peningkatan.
Nico selalu berada di samping Fita, menemanin Fita siang malam. Berharap Fita segera membuka matanya.
"Fit, mau tidur sampai kapan sih? Bangun yuk!" Ucap Nico pelan.
Saat ini diruangan hanya ada Nico, orang tua Fita sedang berada dirumah, Fero sedang sibuk dengan pekerjaannya. Siska dan Ferdi baru saja mengunjungin Nico dan Fita.
Mereka saling menguatkan dan berdoa semua mendapat yang terbaik.
"Aku sangat merindukan mu" ucap Nico.
Lagi-lagi Nico mendapatkan respon dari Fita berupa pergerakkan dari jari tangan Fita.
Nico terus berdoa agar Fita membuka matanya, terlihat oleh Nico mata Fita bergerak, seperti akan membuka matanya, tenyata benar Fita perlahan membuka kedua kelopak matanya.
Fita perlahan mengedip-ngedipkan matanya, menyeimbangkan dengan sinar cahaya, setelah 1 minggu lebih dia tidur dan baru saja terbangun.
Nico terlihat sangat bahagia. Dia langsung saja meraba-raba wajah Fita, memegang tangan Fita erak, meriksa tubuh Fita apakah merasa sakit atau tidak.
"Fit" panggil Nico melihat Fita yang masih terdiam.
"Di-mana a-ku" suara terbata-bata Fita, karena dari sekian lama dia baru saja mengeluarkan suaranya.
Fita langsung saja ingin memegang kepalanya, karena merasa sakit dan seperti terganjal oleh perban dikepalanya, dia angkat tangan sebelah kirinya, dia melihat selang infus.
__ADS_1
"Kamu dirumah sakit, kamu baru terbangun setelah koma lebih dari 1 minggu lamanya" ucap Nico.
"Tunggu jangan gerak apa pun lagi atau pun berbicara, aku akan memanggil dokter dan menelepon orang tua mu" ucap Nico.
Segera saja Nico ingin keluar, tetapi sebelum dia keluar Fita menahan tangannya Nico.
"Sayang, jangan telepon mama ku, nanti dia marah tau kamu disini" ucap Fita.
Deg! Jantung Nico seakan berhenti sejenak mendengar Fita memanggilnya sayang, padahal selama ini mereka sudah lama tidak berhubungan.
"Ada apa dengan Fita" batin Nico.
"Dan kamu kenapa memakai pakaian rumah sakit juga sama seperti aku?" Tanya Fita heran karena dia baru menyadari hal itu.
"Ceritanya panjang, nanti saja" ucap Nico.
Akhirnya Nico segera memanggil dokternya dan sementara tidak jadi menelepon mama Fita.
"Ini siapa kamu" dokter menunjuk ke arah Nico.
"Dia bos diperusahaan tempat aku bekerja dok, dia juga kekasih ku, hanya mama melarang aku berhubungan dengannya, kami pacaran diam-diam" cerita Fita.
"Bagaimana kejadian kecelakaan mu?" Tanya dokternya lagi.
"Hm" nampak Fita berpikir keras mengingat kejadian itu.
__ADS_1
"Dok, yang diceritakan Fita itu waktu 5 tahun lalu" bisik Nico.
"Enggak ingat dok" Fita mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh, ya sudah" ucap sang dokter.
"Saudara Nico, bisa ikut saya sebentar" ucap dokter.
"Iya dok" jawab Nico dengan cepat.
"Tunggu ya Fit"
Fita tersenyum manis, dia menurutin apa yang dikatakan Nico.
Dari percakapannya dengan dokter kini Nico tau jika Fita mengalami amnesia tetapi hanya untuk sementara dan dia hanya mengingat kejadian di 5 tahun lalu.
Diam-diam Nico menghubungin orang tua Fita, kemudian dia memberitahu kepada orang tua Fita mengenai kondisi medis Fita.
"Kog, mama disini, maa! Maaf selama ini Fita dan Nico" ucapan Fita terputus langsung saja di potong oleh mamanya.
"Enggak apa-apa, mama mengerti" senyum mama Fita.
Fita yang binggung pun, enggak tau ingin berbuat apa, tetapi yang Fita rasa saat ini, dia senang mamanya tidak melarang dia bersama Nico.
Orang tua Fita mengerti dan setuju dengan saran Nico, bahwa Nico lah yang akan pelan-pelan menjelaskan, hal yang sudah terjadi dengan Fita.
__ADS_1