
Fita mengirimkan kabar kepada Nico.
Tut! Tut! Tut!
Suara hp Nico berbunyi dia segera mengangkatnya dan berharap itu dari Fita, ketika dia lihat layar hpnya, ternyata benar dari Fita, dia sangat bahagia.
"Halo sayang, kamu kemana 2 hari ini, aku hubungin kamu terus enggak bisa dan juga ada kerumahmu tetapi mamamu bilang kamu lagi sama teman pria, jadi aku disuruh pulang!" Langsung saja Nico bicara panjang lebar.
"Maaf Nic, membuatmu khawatir, tanpa kabar, nanti aku ceritakan, kita ketemu ya di cafe dekat rumahku saja!" Kata Fita.
"Baiklah, pulang kerja ya!" Kata Nico.
Mereka pun menutup telepon.
Nico berharap waktu cepat berputar hingga waktunya mereka pulang kerja.
Fita berpikir dia harus memberitahu Nico, agar tidak terjadi masalah dan bisa membuat mereka saling benci nantinya, atau masalah dengan masing-masing orang tua mereka.
"Ma, Fita mau keluar dulu!" Fita meminta izin mamanya, karena selama 2 hari ini benar-benar dia tidak keluar dari rumah.
"Iya, hati-hati" jawab mamanya.
Fita pun memesan ojek online untuk mengantarnya karena motor dia dipakai oleh Fero.
Sesampainya Fita disebuah cafe, dia memilih duduk didekat jendela untuk bisa memandang kearah luar sambil menunggu Nico datang. Tidak butuh waktu lama untuk Fita menunggu, dari arah jalan Fita telah melihat sebuah mobil putih yang dia sangat kenal itu mobil Nico.
Nico pun buru-buru untuk masuk kedalam cafe. Dia mencari dimana Fita duduk.
__ADS_1
Kini Fita merasa cemas, gugup, jantungnya berdebar tidak karuan, karena dia takut untuk berbicara dengan Nico akan hal yang membuat dia mengurung diri selama 2 hari ini.
"Sayang" sapa Nico dan segera memeluk Fita erat.
Fita membalas pelukkan Nico dengan erat juga, melepaskan rasa rindu diantara keduanya.
"Aku rindu!" Kata Nico setelah melepas pelukkan tersebut dan duduk.
"Aku juga" senyum Fita.
Fita saat ini bahagia bisa melihat Nico langsung, begitu pun Nico, dia juga sangat bahagia.
Nico tidak ingin mempermasalahkan hal yang telah lalu, mereka saling pandang dan melemparkan senyum.
"Apa yang mau kamu sampaikan sayang?" Tanya Nico penasaran dengan pembicaraan ditelepon tadi siang.
Nico pun menggenggam telapak tangan Fita agar dia lebih tenang.
"Katakan lah!"
Fita memandang mata Nico, menghembuskan nafasnya sedikit kasar, dengan tarikkan nafas lebih teratur.
"Mama dan papa jodohin aku sama anak teman papa!" Cerita Fita.
"Lalu kamu bagaimana!?" Tanya Nico.
"Kog wajahmu biasa saja tidak merasa kaget atau apa?" Tanya Fita.
__ADS_1
"Itu sudah ku duga Fita" memandang bola mata Fita dengan tenang, Nico memang sudah menduga hal tersebut, jadi baginya tidak membuat dia terkejut.
"Aku menolaknya, maka dari itu aku mengurung diri, aku merasa kecewa entah pada diriku atau pada orang tua ku!" Terang Fita.
"Tetapi melihat kembali ke mama, akhirnya aku hanya bilang ingin berkenalan, jika aku tidak menyukainya maka kami boleh tidak jadi dijodohkan!?"
"Apa kamu kecewa dengan keputusan ku" tanya Fita.
Nico kembali menatap Fita.
"Aku percaya sama kamu, aku mengerti!" Kata Nico dengan tegasnya walau sebenarnya hati dia takut kehilangan.
"Jika kamu memang jodohku, akan kembali kepada ku, jika bukan, ku harap kamu bahagia" kata Nico lembut.
"Nic!"
Nico hanya menganggukkan kepala dengan senyum kecilnya.
"Aku cinta sama kamu Nic" kata Fita matanya mulai memerah ingin meneteskan airmatanya.
"Jangan menangis, aku enggak suka melihatmu menangis!" Kata Nico.
"Hm, enggak!" Langsung saja Fita tersenyum.
"Aku sangat mencintaimu dan aku percaya sama kamu, semuanya lakukanlah yang terbaik!" Kata Nico.
Fita menganggukkan kepalanya, menandakan dia mengerti.
__ADS_1