
Malam ini, lagi-lagi Fita menangis didalam kamarnya, airmatanya terus mengalir dengan deras, membasahi pipinya, serta bantalnya. Fita sungguh meratapi nasibnya, ketika dia benar-benar mencintai seseorang tetapi penghalang terberatnya adalah mamanya sendiri.
Flashback on
Ketika Fita berada dicafe dan melihat seseorang yang dia kenal.
"Mama" Fita menutup mulutnya seperti terkejut.
Fita melihat mamanya sedang bersama Gladis, orang yang telah membuat hatinya hancur saat orang tersebut bersama Nico.
"Tante, saya sudah berhasil ya, anak tante sangat marah ketika melihat saya dan Nico!" Ucap Gladis.
"Bagus, saya senang mendengarnya, saya tidak sanggup menerima salah satu dari keluarga mereka" kata mama Fita dengan tegasnya.
"Iya tante"
"Ini bayaran mu!" Mama Fita menyerahkan sebuah amplop, dilihat dari jauh amplop tersebut seperti isinya lumayan tebal.
"Terima kasih tante" senyum Gladis.
"Senang bekerja sama dengan tante" Gladis meraih amplop tersebut.
__ADS_1
Mama Fita terlihat tersenyum senang.
Fita yang bersembunyi disampingnya pun meneteskan airmatanya, karena tau fakta sebenarnya dan Nico hanya korbannya, tetapi yang sebenarnya mereka berdua lah korbannya.
Flashback off.
Paginya Fita datang kekantor seperti biasa, kemudian dia memasuki ruangan Nico. Fita menyerahkan surat penggunduran dirinya.
Nico yang menerimanya sangat terkejut.
"Fita, kamu kenapa? Mengapa mengundurkan diri begini, hanya karena wanita sialan itu" Nico emosi jika mengingat kejadian itu.
"Ini lihat video ini sebentar" Fita pun kemudian melihatnya, tetapi Fita tidak perlu melihat video tersebut pun dia sudah tau apa yang terjadi. Semua itu benar suatu kesalah pahaman.
"Aku tau ini suatu kesalah pahaman, cuma aku berhenti itu real keputusan ku!"
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita?" Tanya Nico dengan wajah yang berubah sendu.
Fita menghela nafasnya berat, menguatkan hatinya, karena dari semalam dia sudah bertekad.
"Kita tetap putus, aku rasa kita tidak akan bersama sampai kapan pun!" Jawab Fita dengan mata yang sudah mulai memerah ingin menumpahkan airmatanya.
__ADS_1
"Aku sudah capek Nic, kita begini terus, aku kasian kamu, aku sendiri juga capek, lebih baik aku mengalah" jawab Fita meneteskan airmatanya yang tidak tertahan.
Nico terdiam, dimulut terasa tidak bisa dibuka.
"Mamaku, selalu melakukan cara apa pun untuk memisahkan kita"
"Gladis itu wanita suruhan mama hanya untuk mengodamu"
"Tetapi aku, sebagai anak mama, memohon maaf untuk mu!" Kata Fita dengan suara serak.
"Dan dengan aku resign kemungkinan untuk cepat melupakan mu lebih cepat dan terima kasih untuk semua yang kamu beri ke aku!" Fita berkata sambil tersenyum dengan airmata mengalir deras dipipi putihnya.
"Tapi Fit, aku mau bertahan bersama kamu, apa kamu sudah tidak mau berjuang bersama aku" bujuk Nico.
"Aku capek Nic, harus begitu, aku takut nanti akan banyak hal yang lebih berat lagi menimpak kita" jawab Fita dengan lebih tenang.
"Sudah ya, aku pulang dulu!" Fita pun melangkah pergi dari ruangan Nico, Nico didalam ruangan sepertinya dikepalanya kosong tanpa isi.
Nico seperti terkena shock, dia pun berusaha untuk tenang tidak menangis, walau sebenarnya airmatanya sudah menumpuk, sekali saja dia mengedipkan matanya, maka airmatanya akan tumpah. Tetapi yang namanya mata hati tidak bisa ditahan, Nico pun meneteskan airmatanya.
Fita berjalan keluar dari kantor dengan cepat, dia takut membuat teman-teman kantornya curiga.
__ADS_1