
Akhirnya paspor Fita telah selesai dia siap untuk penerbangan ke korea.
Papa Fita melihat prihatin terhadap anaknya, sedangkan mamanya Fita biasa saja, karena mamanya senang Fita bisa sangat menjauh dari Nico.
Disisi lain, tempat dimana Nico berada, dia sedang merenung nasib percintaannya dengan Fita yang harus kandas begitu saja.
"Aghh Fita" batin Nico berteriak.
Saat ini saja Nico menjadi pemurung dan sifatnya menjadi lebih dingin.
Kerjaan dia pun banyak mengalami penurunan.
Hanya dia mengingat pesan Ferdi, membuat Nico bisa sedikit menerimanya walau berat.
*****
1 hari lalu dimana Nico dan Ferdi bertemu, dengan sengaja Ferdi menyempatkan waktu mendatangin sahabatnya ini, selama ini mereka sudah lama tidak bertemu semenjak Ferdi menikah.
"Sabar ya bro! Kamu harus ikhlas!" Ucap Ferdi memyemangati Nico.
"Tapi Fer, gue sangat mencintai Fita!" Nico.
__ADS_1
"Gue tau elo cinta sekali dengan Fita, tapi saat ini kalau dipaksakan, malahan masalah kalian bertambah, lihat saja kedepannya bagaimana, sama seperti waktu kuliahkan, Fita sama orang lain, elo sama cewek lain, tetapi saat kalian berjumpa kembali, kalian malah jadi pasangan, walau akhirnya begini sekarang"
"Jika Fita jodoh mu maka dia akan kembali kepada mu, jika dia bukan jodoh mu sekuat apapun lo bertahan, memperjuangkan Fita, dia tidak akan menjadi milik mu!" Ucap Ferdi lagi seperti sebuah nasehat.
"Akan ku pikirkan ucapan mu ini!" Jawab Nico.
*****
Fita sudah mempersiapkan pakaiannya dengan membawa 2 koper besar berisi pakaian dan beberapa kenangan untuk dia kenang jika dia rindu akan semua yang dia tinggalkan.
"Sudah siap semua Fit?!" Tanya mamanya.
"Sudah ma?!" Sambil melihat kearah koper-kopernya.
Selama ini Fero enggak pernah berpisah sejauh ini dengan kakaknya.
"Iya, kamu jaga mama dan papa ya!?"
"Jangan nakal, selesaikan kuliah mu yang sebentar lagi selesaikan" ucap Fita terharu.
"Iya kak, Fero janji!" Janji kelingking antara kakak adik yang mereka lakukan.
__ADS_1
Mamanya yang melihat hal tersebut sangat bahagia, karena sampai sebesar saat ini, anak-anaknya masih sangat akur, jarang sekali mereka berkelahi.
"Papa sedih nak, kamu harus pergi" suara papanya terdengar dari depan pintu kamar Fita saat mereka semua sedang berbicara.
"Tenang pa, Fita saja sudah sangat bersemangat!" Jawab Fita dengan senyum yang dipaksa.
"Mama harap nanti kamu pulang bawa calon mantu ya" senyum mamanya.
"Mama" seru Fero.
Papa Fita hanya menatap tajam istrinya.
Mama Fita terdiam sesaat, seperti terciduk melakukan hal yang salah.
Pagi harinya saat Fita sudah siap memboyong kopernya memasuki mobil online yang dia pesan, Fita meminta tidak ada 1 pun keluarga yang mengantarnya, karena Fita takut kesedihannya bertambah.
"Ma, pa, Fero, aku pamit ya, jaga diri kalian baik-baik" Fita berpamitan dengan keluarganya.
Fero sudah tampak menitikkan airmatanya, dia memeluk Fita dengan sangat erat, enggan mengizinkan kakaknya pergi.
Papa dan mama Fita bersama langsung memeluk anak gadisnya, mereka juga menangis, hanya harapan yang bisa mereka titip, agar Fita selalu sehat di negeri orang, sukses dan tercapai apa yang Fita inginkan.
__ADS_1
Mereka semua melambaikan tangan, tanda perpisahan mereka. Fita segera memasuki mobil, didalam mobil dia juga menangis karena sangat sedih harus berpisah jauh dari orang tua dan adiknya.