
Selesai malam minggu mereka, kencan yang sangat membahagiakan bagi Fita dan Nico.
Nico pun mengantar Fita untuk pulang, sudah jam 9 malam, Nico tidak mengizinkan Fita pulang lagi dengan gojek.
Fita tentunya dengan senang hati menerima tawaran Nico, tetapi 1 hal aja dia takutkan, jika di lihat mamanya nanti.
Nico akhirnya mengantar Fita pulang, Fita meletakkan tangannya samping kanan kiri pinggang Nico, dan merebahkan kepalanya dipundak Nico, jantung Fita berdetak sangat kencang hingga dia takut Nico merasakan detakkan jantungnya melalui punggungnya yang sangat dekat dengan jantung Fita.
Sesampainya didepan rumah Fita segera turun dan masuk kedalam rumah karena takut jika mamanya belum tidur, akan melihat mereka, Nico pun segera memutar motor dan berlaju untuk pergi.
"Sama siapa kamu pulang? Sepertinya sama Nico ya!" Langsung saja mamanya Fita menghardiknya.
"Em, bu-kan ma, itu teman kantor Fita kog, sesuai kata mama kog, Fita enggak dekat sama Nico selain kerjaan kantor!" Jawab Fita bohong, berharap mamanya Tidak marah.
"Ampunin aku ya Tuhan, telah berbohong!" Batin Fita.
"Tetapi mama lihat dari jendela itu seperti Nico, jangan berbohong kamu!" Kata mama Fita.
"Iya ma bukan, Fita bobok ya ma, besok kerja"
__ADS_1
"Iya" jawab singkat mama Fita yang juga segera menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar mamanya.
"Kenapa lagi sih, nampaknya kesal begitu!" Tanya papa Fita yang baru selesai mengetik dilaptop untuk kerjaannya besok.
"Fita sepertinya pulang tadi di antar Nico, aku enggak suka sama anak Chintia" kata mama Fita benar-benar terlihat tidak suka.
Papa Fita menghela nafasnya pelan,
"Sudahlah itu tidak ada sangkut paut dengan anak-anak, itu masalah kalian, itu juga sudah lama sekali, ikhlasin saja!" Kata papa Fita membujuk istrinya untuk lebih bersabar dan ikhlas.
"Hm, nanti saja dipikirkan, untuk sekarang tetap TIDAK!" Mamanya menekan perkataannya.
Disisi lain, dikamar Fita, dia sedang mengirim pesan kepada Nico, menanyakan apakah Nico telah sampai, dan memberitahu Nico jika tadi mamanya Fita melihat mereka yang baru pulang. Nico hanya berharap Fita sabar, Nico ingin segera meminta izin langsung dengan mama Fita, tetapi Fita belum siap dan tidak memberi peluang Nico untuk bertemu mamanya.
Paginya dimeja makan, mereka satu keluarga sudah berkumpul untuk makan pagi.
"Fit, mama pesan kamu jangan dekat-dekat dengan Nico, mama sangat tidak suka"
__ADS_1
"Sudahlah ma!" Tegur papa Fita, yang merasa kasian terhadap anak gadisnya. Papa Fita mengerti perasaan anaknya.
"Kakak, masih berhubungan dengan Kak Nico?" Tanya Fero yang tiba-tiba menyambung saja perkataan antara orang tuanya dan kakaknya.
"Enggak" jawab Fita.
Fita bergegas untuk pergi kekantornya, dengan diantar oleh Fero.
"Fita, ingat pesan mama" kata mama Fita saat anaknya ingin berpamitan.
Fita hanya menganggu saja, dia tidak ingin dipagi hari diawalin dengan perdebatan.
"Ayok, Fer, cepat lah?" kata Fita, yang sedang melihat Fero mengikat tali sepatunya tetapi bagi Fita lama.
"Nanti aku terlambat bagaimana kena potong loh gaji ku, nanti enggak ku tambah uang jajan mu" kata Fita ke adiknya.
"Iya, iya kak, bawel deh!"
"maka nya cepat"
__ADS_1
"sudah siap berangkat!" seru Fero.
Fero segera menghidupkan motornya dan memgantar Fita untuk pergi kerja, setelah itu Fero akan langsung kekampusnya, kampus dimana Fita dan Nico berjumpa juga.