
Nico duduk dikursi roda, dengan didorong oleh mamanya pergi menemui Fita. Dia masih belum bisa berjalan normal karena operasi tersebut.
"Fit, bangun" suara lirih Nico melihat Fita yang masih terbaring diranjang rumah sakit.
Orang tua Fita yang berada didalam ruangan tersebut pun melihat wajah Nico sangat kasihan, Nico seperti orang yang tidak bersemangay untuk hidup lagi.
"Fita, ayo bangun" air mata Nico menetes membasahi pipinya yang kusam karena masih dalam kondisi tidak baik.
"Fit, jangan pernah tinggalkan aku, kamu sudah tinggalkan aku 4 tahun Fit"
"Haruskah kita bertemu dalam kondisi begini" airmata Nico terus saja menetes.
Nico memegangin tangan Fita yang tidak terinfus, keluarga Nico dan Fita keluar dari ruangan, memberikan Nico waktu untuk bertemu Fita.
"Sudah 4 tahun Fit, aku menunggu kamu pulang, berharap kamu kembali ke aku!" Suara sendu dari Nico.
Fita yang terbaring tentunya tidak memberikan reaksi apa-apa dari yang Nico sampaikan.
__ADS_1
Nico membaringkan kepalanya disamping, dekat tangan Fita, disitu dia meratapi, mengapa Fita juga belum mau terbangun.
"Aku janji Fit, akan nemanin kamu terus" batin Nico, hingga akhirnya Nico pun tertidur.
Keluarga Fita dan Nico melihat Nico yang tertidur pun tidak tega membangunkan Nico, akhirnya mereka sengaja meninggalkan Nico disana, mereka pun memilih untuk makan siang bersama, walau hati mama Fita masih belum bisa menerima keberadaan Nico disana.
Mama Fita masih takut jika Nico dan Fita tidak bisa dipisahkan, kembali pikiran hati egoisnya.
"Sudahlah, ayo ma!" Bujuk papa Fita, agar istrinya mau ikut bersama untuk makan siang.
"Siapa tau dengan adanya Nico disamping Fita pun, akan membuat Fita lebih cepat sadar, kamu lupa ya seperti yang dikatakan dokternya Fita, kalau dihari pertama Fita kecelakaan, malamnya Nico yang menemanin Fita, hingga paginya langsung menjalankan operasi, betapa Nico sangat sayangnya dengan Fita!" Ucap Papa Fita.
Mereka makan siang pun seperti orang biasa, berbeda dengan mama Fita yang bertemu dengan keluarga Cristian.
Mereka mengobrol dengan santai dan biasa saja soal kehidupan anak mereka yang lain, tetapi tidak menyinggung Fita dan Nico, karena dimereka, disana tersimpan luka masa lalu mama Fita dan mama Nico.
Dikamar Fita.
__ADS_1
"Fita, jangan tinggalkan aku" suara ketakutan.
"Arghh, jangan pergi" teriak Nico dengan nafas seperti sedang berlari jauh.
Nico terbangun kaget, dia segera melihat kearah Fita dengan cemas, rasa takut. Dia bahagia karena Fita masih berbaring didepannya.
"Ternyata hanya mimpi" nafas lega Nico.
"Fita cepat bangun ya sayang" ucap Nico pelan.
Dimimpi Nico.
Nico melihat dokter dan suster sudah putus asa, mereka menyerah dan berkata Fita tidak dapat tertolong lagi, disana keluarga Nico dan Fita berkumpul semuanya menangis, saling menguatkan.
Nico yang berada disana pun sangat tidak menerima keadaan Fita dinyatakan telah pergi, dia merontah dari kursi rodanya berdiri memeluk Fita. Dia berteriak sekuat tenaganya memanggil Fita, mengoyang-goyangkan tubuh Fita yang telah terkulai lemas dan semakin lama akan menjadi kaku.
Suster yang akan menutup muka Fita dengan selimut rumah sakit pun dilarang Nico. Kondisi Nico yang belum stabil karena operasi tersebut pun masih sakit, tetapi Nico tidak perduli.
__ADS_1
Mama Fita pun terlihat pingsan karena tidak kuat menahan kepedihan hatinya.