
Fita telah sampai di Korea Selatan, disana dia tinggal disebuah rumah susun.
Dia telah memberitahu keluarganya jika dia telah tiba disana dengan selamat, sehat sampai tujuan.
Dikamar baru Fita memandang keseluruh ruangannya, dia merasakan sepi, sangat berbeda dengan kamarnya sendiri.
"Apakah aku bisa lalui?" Tanya Fita didalam hati.
Dia membaringkan tubuhnya diatas kasur yang lebih kecil daripada kasur dia sebelumnya.
Fita merasa sangat lelah, akhirnya pun dia tertidur sebelum dia mandi.
*****
"Hais jam berapa ini!" Fita melihat ke jam dinding yang berada dikamarnya
"Yak ampun sudah malam ternyata!" Fita pun segera duduk di kasurnya untuk mengembalikan nyawa-nyawa dia yang pergi.
"Kruuuukk" bunyi perut Fita.
"Aduh, aku lapar!" Kata Fita dalam hati.
Setelah selesai mandi Fita pun pergi keluar untuk mengisi perutnya yang sudah meminta makanan.
Dia berjalan kaki saja disana seorang diri, hanya beruntung dia memilih tempat yang tidak terlalu ramai atau pun sepi, sekeliling juga ada beberapa gedung, seperti pusat pasar.
__ADS_1
Fita menuju sebuah kedai makanan, sungguh makanan yang dia makan tadi, sangat berbeda dari kotanya berasal, mungkin rasanya sangat aneh dilidahny, dia hanya memakannya sedikit setelah itu dia keluar dari kedai tersebut.
"Aduh!" Teriak Fita.
"Sorry-sorry" orang itu membantu Fita berdiri.
Mereka pun saling berpandangan.
"Seperti orang indonesia!" Batin Fita.
"Hai" orang itu melambaikan tangannya.
"Hai, sorry ya aku jalannya enggak lihat-lihat kamu!"
"Aku Toni" orang itu memperkenalkan diri.
"Eh, iya enggak apa-apa, aku juga tidak luka apa pun!"
"Kamu orang indonesia ya, kamu tinggal dimana?" Tanya Toni.
Fita menunjukkan dia tinggal dideretan gedung tersebut.
"Iya aku baru saja datang" jawab Fita sekenannya.
Ternyata Toni dan Fita searah, akhirnya mereka pulang jalan berdua, mereka banyak bercerita bagaimana mereka bisa sampai ke negeri ini.
__ADS_1
"Terima kasih ya!" Kata Fita.
"Tidak perlu terima kasih, kita satu arah, lagian aku ada digedung sebelahnya" jelas Toni.
Mereka pun masuk kerumah masing-masing.
*****
Nico masih terlihat uring-uringan, seperti orang bodoh. Bakhan hari dimana Fita pergi dia pun menginjakkan kakinya disebuah diskotik yang selama ini tidak pernah dia sentuh, bakhan juga ikut meminum alkohol.
Untung saja Nico masih bisa setengah sadar, karena besok ya harus bekerja, dia sangat menomor satukan kerjaan dia.
Mamanya yang melihat itu tidak dapat berbuat banyak, hanya nasehat-nasehat saja yang dapat dia berikan, hingga papa Nico pun menyesalkan dirinya sendiri selama ini tidak selalu berada dirumah untuk mengawasi anaknya, apalagi kondisi Nico terpuruk karena kepergiaan Fita keluar negeri.
Dikamar Nico, sedang berbaring memandang keatas langit-langit kamarnya.
"Apa aku pergi menyusul Fita ya?" Tanyanya dalam batin.
"Tapi" batin Nico lagi.
Nico berpikir ulang jika dia ikut Fita ke luar negeri maka karirnya dikantor tersebut hilang dan dia sudah menandatangain kontrak kerja selama 5 tahun disana, jika mengundurkan diri, maka finaltinya sangat besar.
*****
Dirumah keluarga Fita, mereka merasa sangat sepi karena tidak adanya Fita, sesuatu sepertinya ada yang hilang dalam hidup mereka, walau mereka barusan melakukan video call, tetap rasanya tidak puas seperti bertemu.
__ADS_1
Fita pun merasakan hal yang sama dengan keluarganya rasakan saat ini, hanya keluarga lah yang sangat dia rindukan.