
Fita yang menuju bandaran pun pergi dengan derai airmatanya, sang supir yang sedang mengendarai pun simpati melihat Fita yang begitu berat berpisah.
"Tisunya mbak" tawar sang supir.
"Iya pak terima kasih" jawab Fita sambil tersenyum.
Penerbangan Fita jam 9 pagi, dia melihat kearah jam tangannya masih menunjukkan pukul 7 pagi.
Sepanjang jalan Fita mengingat kenangnya bersama Nico, tetapi karena hal itu la yang membuat dia nekat meninggalkan negeri sendiri.
Siska yang ingin ikut mengantar Fita kebandara pun tidak dibolehkan oleh Fita, karena dia takut menganggu kehamilan Siska. Siska mengerti dan tidak memaksakan kehendaknya.
Ditempat lain, di rumah Nico, dia yang mendapat kabar dari orang suruhannya pun segera bergegas menuju bandara, dimana Fita berada.
Ternyata selama ini, Nico meminta seseorang untuk selalu memantau aktivitas dari Fita.
Sekarang Nico sedang mencari kunci mobilnya, dia semakin ingin cepat, semakin panik, hingga lupa kunci mobilnya diletakkan dimana.
Akhirnya dengan terburu-buru Nico memilih meminjam motor satpamnya.
"Tunggu aku, Fit!" Batin Nico, dia hanya ingin ada perpisahan.
Nico mengebut dengan kencangnya, seperti akan melayang, tiba dipersimpangan dia melambatkan laju motornya.
Tiba-tiba.
__ADS_1
"Kog makin berat ini motor, rodanya seperti tidak stabil" Batin Nico
"Astaga, ya Tuhan, tolong aku, sekali ini saja!" Batin Nico lagi. Karena dia melihat ban motor bagian belakang kempes, padahal sedikit lagi dia sampai bandara.
Nico melihat jam tangannya sudah menunjukkan jam 8. Dia pun akhirnya memilih berlari meninggalkan motor tersebut ke seorang tukang jualan buku dipinggir jalan.
Dia berlari hingga ngos-gosan, kelelahan. Hanya demi ingin bertemu Fita untuk terakhir kalinya.
Dengan perjuangan akhirnya Nico sampai dibandara.
"Para penumpang diharap segera menuju kepesawat tujuan masing-masing" begitu lah suara microfonnnya yang Nico dengan dibandara.
Nico sudah sangat lelah berlari, akhirnya ketika dia melihat ada orang seperti Fita, dia pun segera berteriak.
"Tunggu" suara keras dari Nico. Langsung saja Fita menoleh dan semua yang disana menoleh kearah mereka.
"Wah so sweet"
"Itu pasangan muda mudi"
"Apa mereka akan berpisah"
"Kasian cowoknya kelelahan seperti habis berlari" beberapa suara para pengunjung bandara berkata, berbisik melihat Nico yang sedang berjalan mendekati Fita.
"Maaf pak, anda tidak boleh menuju kesini, silakan menjauh area ini" salah 1 penjaga bandara.
__ADS_1
"Pak, izin kan saya sekali saja, saya mohon pak" Nico benar-benar memohon kepada petugas tersebut, dengan berat hati akhirnya petusan tersebut membiarkan Nico berjumpa dengan Fita.
Fita dan Nico saling memandang, mereka seperti ingin melepas kerinduan yang sudah beberapa minggu tidak bertemu dan komunikasi, hanya saja getaran cinta mereka masih tersisa, walau sudah tidak ada status apa-apa diantaranya.
"Nic" airmata Fita sudah memenuhin kelopak matanya, sudah memerah menahan tangis yang bentar lagi akan tumpah.
"Fit, izinkan aku, terakhir kalinya melihat mu disini" nada memohon dari Nico.
Fita menitikkan airmatanya ketika Nico langsung memeluknya erat mengecup kening Fita.
"Jangan menangis, berbahagia lah disana, walau tidak ada aku atau yang lainnya!" Kata Nico, sambil mengelus pucuk kepala Fita.
Mereka tidak memperdulikan sekelilingnya, mereka hanya memanfaatkan waktu saja.
"Fit" langsung saja Nico mencium bibir Fita, itu pertama kali mereka lakukan dari sekian lama mereka bersama.
Fita yang terkejut pun tidak menolaknya, hanya sebentar saja.
Fita bahagia, tetapi tetap ada rasa kecewanya mengingat hubungan mereka.
"Aku pergi Nic, jangan cari aku lagi, kamu juga berbahagia lah!" Ucap Fita sebagai salam perpisahannya.
"Aku harus tegar" batin Fita sambil berjalan menuju pesawatnya.
Nico hanya mampu tersenyum dengan airmata yang juga menetes ketika melihat pundak Fita sudah hilang dari pandangannya.
__ADS_1