
Mama Fita tetap melarang Fita untuk sekedar berteman dengan Nico anaknya Chintia, mama Fita masih enggan memberitahu hal apa yang membuatnya begitu, padahal saat ini Fita mengetahuinya pura-pura tidak tahu hanya untuk menghormati privasi mamanya.
"Fit, ingat ya nanti ketemu Nico, kamu jangan ladenin dia!" Kata mamanya dengan suara Ketus.
"Kenapa ma, kakak enggak boleh berteman dengan kak Nico?" Tanya Fero, karena saat ini mereka sekarang berada meja makan untuk sarapan sebelum melakukan aktivitas hari-harinya.
"Fero, kamu jaga kakakmu, jika dia dekat dengan Nico, kamu laporan sama mama!" Kata mama mereka, dan mamanya enggak menjawab pertanyaan Fero.
Papa Fita hanya diam memperhatikan sampai dimana pembicaraan ini.
"Ngerti Fita?" Tanya mamanya ke Fita karena sejak mamanya berbicara dia tidak menjawabnya.
"Fita hanya berteman ma, apa enggak boleh, Fita masuk kampus disana juga ada berkat bantuan Nico dan teman-temannya ma!" Jawab Fita.
"Mama enggak mau tau, mama bilang gak boleh" kata mamanya yang tetap ngotot mempertahankan egonya.
"Sudahlah ma, lupakan saja masa lalu mu itu, itu masa lalu mu, masa lalu orang tua bagi Fita, sekarang masa depan mereka, mereka anak-anak tidak terlibat masa lalu mu dan Chintia" kata papa Fita.
Fero hanya diam mendengar, dia binggung apa hubungannya antara Nico dan yang namanya Chintia.
"Mama belum bisa pa, maaf!" Jawab mama Fita, lalu dia meninggalkan meja makan langsung saja kearah wastafel dan mencuci tangannya, tanpa berbicara lain lagi terhadap suami dan anak-anaknya.
"Sudah selesai makan, ayo kita berangkat saja" kata papa mereka.
"Iya pa" jawab Fita dan Fero serempak.
"Pa, siapa si Chintia? Apa masa lalu mama?" Tanya Fero sambil berbisik ditelingga papanya.
"Sudah ayo jalan suatu saat kamu tau!" Kata papanya.
__ADS_1
Mereka pun berangkat, di perjalanan sambil mengendarai motor dan membonceng Fita, Fero ingin mengetahui masa lalu mamanya dari Fita.
"Kak, apa kakak tau hubungan mama dengan yang namanya Chintia?" Tanya Fero.
"Kamu ini kepo" jawab Fita.
"Serius kak, cerita la biar tau harus bagaimana nanti menghadapinnya" jawab Fero.
"Hm" Fita menghela nafas panjang lalu dia mulai menceritakan seperti apa hubungan Chintia dengan mama mereka dan siapa Nico.
"Jadi Nico benar tidak diperbolehkan berteman dengan kakak?" Tanya Fero serius.
"Iya" jawab Fita murung.
"Kakak sepertinya sedih ya, terdengar dari suara kakak?" Tanya Fero.
"Lalu bagaimana ini?" Kata Fero, dia sedikit mengerti apa yang kakaknya rasa.
"Lihat nanti saja" jawab Fita.
Mereka berbicara sepanjang jalan hingga sampai ke kampus.
"Kak, duluan" kata Fero sambil berlari mengejar temannya.
"Iya" jawab Fita, dan ternyata dibelakang Fita ada Nico.
Nico pun langsung menyapa Fita, tetapi Fita dengan cepat pergi.
Nico merasa heran mengapa Fita menghindar darinya.
__ADS_1
Fita yang saat itu langsung berlari kekelasnya.
Di jam istirahat, Fita kini berada ditaman, tempat dia biasa bersenda gurau bersama Nico.
Siska yang saat ini tidak hadir karena ada kepentingan keluarga.
Nico datang menghampirin Fita, Fita pun ingin langsung pergi tetapi di tahan oleh Nico, dia memegang pergelangan tangan Fita dengan erat hingga tangga Fita memerah.
"Lepas sakit" bentak Fita.
Nico merasa kaget karena Fita belum pernah membentaknya, jika hanya kesal biasa ada.
"Maaf, gue hanya ingin elo enggak kabur lagi?" Kata Nico.
"Lo, jelasin ke gue, kenapa elo menghindarin gue, dari yang kita bertemu di market kemarin, apa karena Meilita?" Tanya Nico lagi.
"Enggak" jawab Fita tetapi tangannya masih di pegang sama Nico, hanya melepas sedikit cengkramannya di tangan Fita.
"Gue enggak percaya jika bukan karena Meilita lalu apa?" Tanya Nico.
"Sudahlah, gue gak mau berdebat hal gak penting" jawab Fita berusaha melepas tangannya dari Nico, tetapi masih belum terlepas.
Nico menarik Fita untuk duduk dan meminta Fita menceritakan apa yang dia rasakan, mengapa menghindar dari Nico begitu.
Nico memegang bahu Fita, dan meminta Fita melihat matanya.
Fita pun menyerah, dan mulai mengambil nafas pendek sejenak.
Fita menjelaskan dia harus menghindar dari Nico karena tidak mau mamanya sakit hati.
__ADS_1