
Fita yang sudah lama tidak bertemu dengan Siska, tiba-tiba saja mendapatkan undangan dari Siska dan Ferdi. Undangan tersebut adalah undangan pernikahan mereka.
Akhirnya pulang kerja Fita memutuskan untuk menemui Siska dicafenya Ferdi.
"Fitaaaaa, tumben elo kesini" Sapa Siska, dia sangat senang melihat kedatangan sahabatnya ini.
"Karena undangan elo tuch, buat kaget cepat lagi, kemarin-kemarin ditanya katanya masih lama, walau sudah tunangan" kata Fita sambil memeluk sahabatnya.
"Datang ya" Siska.
"Pasti" jawab Fita.
"Cuma binggung gimana perginya ya, lumayan jauh loh tempat lo ngadain acara" pikir Fita.
"Hm" Siska menghela nafasnya.
"Ajak Nico!" Kata Siska.
"Aduh, enggak deh!" Tolak Fita.
"Napa, lo takut mama elo marah, demi gue Fit, dan gue yakin mama lo enggak akan marah soal ini!" Yakin Siska.
"Lo, tau mama gue enggak suka sama Nico!"
"Iya gue tau, tapi ini kesempatan elo, sebenarnya waktu gue antar undangan kerumah elo kan bertemu mama elo, terus gue duluan minta izin biar elo bisa hadir tanpa hambatan, dan gue meminta izin agar elo boleh pergi sama Nico, gue bujuk mama lo, lama mama lo berpikir dan akhirnya lo tau apa jawaban mama elo setelah gue bujuk!" Siska sengaja membuat Fita penasaran.
Fita mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa Sis?"
"Mama elo bilang boleh?"
"Apa yang lo bilang ke mama?"
__ADS_1
"Ya gue bilang selama dikampus Nico selalu lindungin elo, seperti elo di labrak widi, ato di jambret itu?"
"Mama luluh?" Tanya Fita.
"Sedikit, makanya elo usaha lagi ya!" Kata Siska.
Fita merasa sangat bahagia, Siska memang sahabat baiknya membantunya dalam diam.
"Makasih Sis, gue sayang sama elo deh, sini *****" goda Fita sambil memajukan bibirnya.
"Ih, geli mending sama Ferdi, haha!" Jawab Siska sambil tertawa.
Mereka tertawa bersama.
"Eh, ngomong-ngomong Ferdi mana?" Tanya Fita.
"Lagi keluar sebentar!"
"Oh iya Sis, gue pulang dulu ya, udah malam juga" pamit Fita.
Sesampainya Fita dirumah, Fita pun segera menuju kamarnya, mama Fita hari ini tidak lagi memantau anaknya, entah kenapa.
"Ma" panggil Fita yang kini berada di depan pintu kamar mamanya.
"Masuk lah" sahut papanya.
"Pa, Ma" Fita memandang mama papanya takut, karena ada hal yang ingin dia sampaikan, dan takut tidak disetujui.
Papa Fita melihat anaknya dengan heran.
"Mengapa?" Tanya Papa Fita.
"Em, begini pa, ma, Fita boleh enggak nanti ke acara pernikahan Siska, Fita pergi bareng Nico, Nico mengajak pergi bareng, karena kami juga dari kampus yang sama!" Fita berkata sambil memainkan jari-jari tangannya.
__ADS_1
"Papa sih, enggak apa-apa, lagian biar ada yang jaga kamu, tempat acaranya juga jauh kan?" Jawab Papa Fita.
"Mama bagaimana?" Fita
Dari tadi mamanya hanya diam saja.
"Mama sih sebenarnya tidak mengizinkannya, tetapi karena melihat kondisi, ya sudah lah, ini juga karena Siska!" Jawab mamanya Fita.
"Jadi boleh ma!" Suara bahagia Fita yang keluar, ketakutan dalam berbicaranya pun sedikit menghilang.
"Kali ini saja!" Kata mama Fita.
"Sudah la ma, biarkan Nico dan Fita berteman saja!" Bujuk papanya.
"Makasi mama, papa!" Seru Fita.
Setelah itu Fita pun pamit pulang kekamarnya. Dia memasuki kamarnya dengan bahagianya.
Fita ingin memberitahu Nico jika dia sudah diizinkan, "tunggu dulu, biar agh enggak usah kasih tau Nico biar dia penasaran" batin Fita sambil tersenyum jahilnya.
Tetapi tetap saja dia memberikan kabar ke Nico jika dia tidak diizinkan oleh mamanya.
"Sayang, mama enggak kasih izin, bagaimana ini, aku pergi dengan siapa, mama bilang pergi dengan orang lain boleh!" Send.
Nico yang mendapat chat masuk segera melihat hpnya, ketika dia membaca pesan dari Fita, hatinya terasa hancur, padahal hanya kata-kata kecil begitu, rasanya sakit baginya dengan ada kata orang lain.
Nico berpikir, apa dia sudah tidak ada peluang.
"Kog lama balas, tapi diread?" Tanya Fita pada dirinya sendiri.
"Kamu enggak usah pergi saja, kalau sama orang lain" balas Nico cemburu.
"Siska sahabat ku" balas Fita dengan dikirim stiker menangis.
__ADS_1
"Kamu sama orang lain, aku cemburuuuuuu" balas Nico.
"Ya udah nanti aku tanya mama lagi ya!" Balas Fita, dengan bahagia karena dia senang jika Nico mengaku jika dia cemburu.