
Fita yang was-was menunggu panggilan dari Hrd tersebut pun, mendapatkan sebuah kabar baik.
Dreett!
Hp Fita bergetar, ternyata yang meneleponnya Pak Andi.
"Halo ini saya Pak Andi!" Sapa orang diseberang telepon sana.
"Iya pak" jawab Fita.
"Fita, kamu dinyatakan lolos dan sudah bisa langsung bekerja, tetapi tidak ditempatkan diperusahaan ini, kamu bakal di tempatkan dicabang perusahaan, masih dalam kota ini juga tidak begitu jauh dari induk perusahaan ini, dan kamu disana akan menjabat sebagai sekertaris Pak Nico kepala cabang sana!" Kata Pak Andi panjang lebar.
"Baik pak! Jawab Fita.
"Kamu besok bisa langsung menuju anak cabang perusahaan tersebut dan cari saja Pak Nico" kata Pak Andi.
"Iya Pak, terima kasih!" Jawab Fita.
Mereka pun mengakhiri pembicaraan lewat telepon, "Pak Nico??" Apa Nico?? Enggak mungkin lah!, Banyak yang namanya Nico kog, mungkin namanya saja sama!" Batin Fita yang sedang termenung karena mendengar nama Nico lagi.
"Ma" panggil Fita menuju ke dapur.
"Fita diterima ma, tetapi dianak cabang bukan diperusahaan itu, Fita ditempatkan sebagai sekertaris, padahal Fita lamarnya jadi akountingnya" kata Fita.
"Mungkin karena lagi butuh sekertaris kali" jawab mama.
"Iya ma, yang penting Fita sekarang sudah bisa kerja, besok sudah mulai masuk!" Cerita Fita ke mamanya.
"Mama selalu berdoa yang terbaik untukmu nak" kata mama Fita.
"Mama yang terbaik" jawab Fita, sambil memeluk mamanya dan mencium pipi mamanya.
Besok paginya Fita sudah bersiap untuk pergi kerja, dia diantar oleh Fero, sebelum Fero berangkat ke kampusnya.
"Dimana kak?" Tanya Fero.
__ADS_1
"Kamu jalan aja dulu kakak lupa nama jalannya, cuma ingat jalannya" jawab Fita dan Fero menurut saja.
Sesampai tempat yang dituju Fita segera menemui Pak Satpam yang dibagian depan pintu dan bertanya akan menemui kepala cabang sini, Pak Satpam menujukannya dan Fita pun kembali mengikut apa yang ditunjukan.
Buk!
Fita menabrak seseorang.
"Agh, maaf Pak, maaf, saya tidak sengaja!" Kata Fita sambil melihat keorang tersebut.
"Nico" batin Fita.
"Fita" batin Nico.
Baru saja Nico mau mengeluarkan suaranya untuk bertanya mengapa Fita disini, Fita yang melihat Nico, langsung saja melarikan diri, karena dia tidak mau bertemu dengan Nico.
"Mengapa Nico disini, apa dia karyawan juga, enggak mungkin lah atau Nico hanya bertemu klien disini, aghh enggak tau lah?" Batin Fita sambil berjalan cepat menuju ruangan kepala cabang. Segala pikiran Fita, tentang keberadaan Nico.
Tetapi Fita salah arah hingga membuatnya tersasar, hingga memerlukan waktu lagi untuk mencari ruangan tersebut.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk" kata orang tersebut.
"Selamat pagi Pak, saya Fita Angela, ditempatkan sebagai sekertaris oleh Pak Andi" kata Fita.
Pada saat itu sang pemilik kursi sedang membalikan kursinya entah apa yang dicarinya, sekali dia mendengar suara yang dia kenal, dan dia berbalik betapa terkejutnya kedua orang tersebut.
"Nico" panggil Fita pelan.
"Fita" panggil Nico, mereka masing-masing masih tidak percaya akan bertemu lagi.
Fita berpikir jadi yang tadi bertabrakan dengan dia benar Nico berada diperusahaan ini.
Nico pun berpikir kembali jadi ini orang yang Pak Andi katakan Sekertaris barunya.
__ADS_1
"Kenalkan saya Nico prahtama kepala cabang disini" kata Nico formal.
Sekarang Fita berpikir bagaimana dia bisa mundur lagi, sedangkan ini perusahaan besar yang mau menerima dia dan gajinya sesuai.
"Pak Nico, saya Fita, sebagai sekertaris bapak!" Kata Fita yang juga Formal.
"Baik, hari kamu temanin saya untuk bertemu klien" jawab Nico.
"Langsung Pak?" Tanya Fita, kikuk, gugup.
"Iya" jawab Nico.
Nico dan Fita berada dalam 1 mobil, Nico membawa mobil perusahaan sebagai fasilitasnya.
Fita merasa sangat gugup, mengapa harus lagi dia bertemu dengan Nico, dan sekarang Nico atasannya lagi. Fita berusaha untuk profesional dalam bekerja.
Setelah mereka selesai bertemu klien perusahaan, mereka pun menuju pulang keperusahaannya, tetapi dijalan Nico yang Fokus menyetir mendengar suara bunyi perut seseorang yang lapar, karena memang sudah waktunya makan siang juga.
"Kamu lapar, mau makan siang enggak disana?" Tanya Nico, memberhentikan mobilnya disebuah Warung makan.
"Enggak" jawab Fita.
Nico pun menjalankan lagi mobilnya dan dia kemudian berhenti lagi setelah melihat warung bakso sapi.
"Mau makan disini?" Tanya Nico lagi.
"Enggak, aku enggak lapar?" Kata Fita.
"Perut mu tidak bisa berbohong dari tadi bunyi" kata Nico sambil memarkirkan mobilnya di parkiran warung bakso tersebut.
Fita pun terdiam, dia merasa malu diperlakukan begitu oleh Nico.
Dia berkata tidak lapar, tetapi Nico sudah mendengar bunyi perutnya.
"Ini perut enggak bisa berkompromi ya!" Kata Fita dalam hati.
__ADS_1
"Kita makan" kata Nico, dia pun segera turun dan kemudian membukakan Fita pintu mobil untuk keluar.
Fita pun terpaksa keluar dan berjalan menuju warung tersebut untuk makan siang.