
Papa dan mama Fita kini mereka kembali kerumah untuk beristirahat, mereka diminta oleh dokter yang merawat Fita untuk pulang karena melihat kondisi mereka terpuruk dan faktor usia takut akan membuat mereka menjadi sakit.
Orang tua Fita, akhirnya meminta pihak dokter jika ada apa-apa terjadi sama Fita dijam berapa pun segera menghubungin mereka.
Orang tua Fita tidak dapat berbuat banyak hal, mereka hanya mampu berdoa meminta pertolongan yang kuasa, melalui tangan Dokter anaknya akan disembuhkan.
*****
Dirumah sakit waktu malam.
"Fit, bangun" lirih suara Nico disamping Fita, wanita yang saat ini masih sangat dia cintai.
Iya, malam ini Nico yang berada disamping Fita, Nico yang menjaga Fita tanpa sepegetahuan orang tua Fita, Nico hanya meminta izin orang tuanya saja.
Nico sangat sedih melihat kondisi Fita, airmata Nico juga tidak sungkan untuk mengalir turun membasahi pipi Nico.
Nico pun sempat bertemu dengan dokter yang merawat Fita. Dia menunggui Fita berharap Fita segera bangun. Nico berada disamping Fita hingga dia ketiduran.
*****
Paginya orang tua Fita diberitahu oleh pihak rumah sakit jika, sudah ada pendonor yang dengan suka rela mendonorkan ginjalnya, dan hasilnya pun cocok. Pihak rumah sakit juga berkata bahwa operasi Fita harus segera dilaksanakan.
Orang tua Fita sangat bahagia mendengar kabar tersebut, mereka pun segera pergi kerumah sakit, sesampainya dirumah sakit mereka mencari keluarga pendonor untuk berterima kasih, tetapi keluar pendonor tidak berada disana.
__ADS_1
Akhirnya mereka menunggui Fita diruang operasi.
"Nanti saja ma, selesai Fita operasi kita ketemu langsung dengan pendonornya" ucap papa Fita.
Mama Fita hanya menganggukkan kepalanya menandai dia setuju dengan usulan suaminya.
Tombol didepan pintu ruang operasi masih berwarna merah, menandakan operasi masih berjalan, mereka sangat berharap cemas dengan kondisi Fita.
Fero datang dengan berlari kearah kamar operasi.
"Ma, pa! Bagaimana keadaan kakak?" Tanya Fero cemas.
"Masih didalam nak" kata papanya.
"Kita berdoa buat kesembuhan kakakmu ya!" Seru papanya lagi.
"Siapa pa pendonor ya?"
"Papa juga enggak tau, dokternya tidak mau memberitau, katanya privasi pasien!"
"Ya sudah tunggu nanti saja kita!"
Fero kemudian mengenggam tangan mamanya, membantu menenangkannya, mamanya melihat kearah Fero dengan senyuman yang dipaksa.
__ADS_1
"Kakak pasti kuat ma!" Ucap Fero.
Melihat mata mamanya yang telah bengkak karena menangis terus.
Beberapa waktu berlalu.
Ting! Lampu yang tadi berwarna merah kini berwarna hijau menandakan operasi telah selesai, mereka yang berada diluar pun langsung berdiri, mendekati pintu utama.
Disana Siska dan Ferdi pun telah datang, mereka terlihat cemas dengan hasil yang akan dibawakan oleh dokter.
"Bagaimana dok keadaan anak saya!" Seru papa Fita langsung ketika melihat pintunya terbuka dan dokternya berjalan keluar.
"Operasi berhasil, hanya menunggu Fita sadar saja, hanyaaaa!" Kata dokternya terputus.
"Hanya kenapa dokter" sarkas Fero langsung karena dia penasaran apa lagi yang akan dokternya katakan.
"Hanya saja, sang pendonor mengalami kondisi lemah" dokternya terlihat sedih.
"Bisa kami bertemu pendonornya dok?" Tanya papa Fita.
"Belum bisa, mereka semua butuh istirahat dan kalian silakan menunggu diruang rawat inap pasien, kami akan mengurusnya terdahulu" kata sang dokter.
Mereka semua pun mendengar perkataan dokter.
__ADS_1
Hanya saja mereka masih sangat cemas karena Fita belum juga sadar dari operasinya.
Sudah 2 hari Fita tidak sadar. Dia terlihat seperti putri tidur, hanya saja dengan kepala yang diperban.