
"apa dia sudah tidur nana?." darwin melepas dasi di kerah bajunya,ia baru saja sampai di apartementnya saat melihat nana yg masih beres2 meja dapur,sepertinya mereka bereksperimen membuat sesuatu,fikir darwin,nana menghampirinya dengn membawa sebotol air dingin,memberikannnya pada darwin yg tengah terduduk di sofa.
"nona kelelahan,dia membuat kue kesukaanmu". nana menunjuk dengan dagunya ke arah toples yg tadinya sudah kosong telah terisi penuh lagi cookis yg berjejer rapih di sana,darwin tersenyum bahagia,lelahnya seperti menguap membayangkan wajah istrinya yg dengan cintanya membuat kue yg jadi faforitnya kini.
"apa nana akan pulang?." darwin bertanya setelah menenggak airnya hingga tandas setengah.
"hem,sekarangkan sudah ada nona,aku tidak mungkin berlama2 disini."
"nana masih boleh menginap sesekali."
"baiklah,tapi sepertinya tidak untuk waktu dekat karna kalian belum terlalu repot."
"maksud nana apa?."
"tentu saja bayi,kalau sudah ada bayi nana akan sering menginap,bagaimana?". nana tersenyum memancing obrolan yg ia tau akan selalu di hindari darwin.
dan benar,wajah darwin yg tersenyum tadi menghilang,tatapannya jadi sinis dan jutek, cih,dia persis sekali kakeknya. nana membatin.
"apa kakek yg menyuruh nana untuk memastikan hal itu?." darwin diam sebentar untuk melihat reaksi nana.
"bilang pada kakek,terima ksih sudah memberikan malika padaku,tapi seterusnya,tidak akan aku biarkan lagi kakek mencampuri kehidupanku,aku akan hidup dengan baik bersama malika mulai sekarang,ada atau tidaknya anak di pernikahan kami kini bukan lagi urusan kakek,nana...sepertinya aku siap memutus darah ayah yg mengalir di tubuhku." darwin tertunduk,ia menghindari tatapan nana yg kini menegang,ia tau itu artinya nana tidak suka dengan pembicaraannya saat ini.
"kau akan meninggalkan kakekmu?setidaknya lihat dia sebentar tuan muda,bicaralah padanya meskipun kalian berdebat,ketua sedang di ujung usianya,dia pasti sangat kesepian."nana berkaca2,mengingat lagi seraut wajah keriput yg terus memandangi ujung jalan lewat jendela kamarnya,nana tau,sahabatnya yg tua itu sedang menantikan seseorang.
"nana tau kan alasanku selama ini? knp aku sangat membenci kakek?."
"jangan begtu tuan muda,biar bagaimanapun dia itu kakekmu,ayahmu...".
kata2 nana terhenti saat darwin menarik nafas yg terasa berat di ujung hidungnya.
__ADS_1
"sampai aku 15 thn,ayah tak pernah bicara apa2 padaku,dia hanya menyerahkanku ke pengasuh dan kadang aku di titipkan ke panti penitipan anak,dari aku lahir aku tak tahu ibuku siapa dan dimana,yg aku tau kakek membencinya sampai dia juga bilang kalau aku lahir dari wanita ****** yg menipu ayahku,lalu kakek membenciku sama seperti dia membenci ibuku hanya karna aku memiliki mata yg sama seperti ibuku,nana juga tau kan aku samapi ingin mencongkel mataku jika itu yg di inginkan kakek agar aku di terima olehnya?apa yg dia harapkan padaku nana? anak?aku tidak akan memberikan anakku pada siapapun,bahkan aku berdoa pada tuhan jangan pernah memberiku anak."
"tuan muda".nana melangkah mcoba mendekat ke tubuh darwin,ia meraih tangan darwin sambil bersimpuh di hadapan laki2 yg kini bermata sedih,nana mengusap2 punggung tangan darwin.
"aku tidak ingin anakku lahir dari seorang ayah yg tidak punya keluarga,lalu dia akan tau jika ayahnya adalah orang yg tidak pernah di cintai oleh keluarganya sendiri, nana fikir ayah macam apa aku ini?aku bukan laki2 yg pantas untuk menjadi seorang ayah nana." putus asa,darwin hampir menangis mengatakannya,ada getir yg sangat perih saat memikirkan apa yg dulu di alaminya,itu melukai harga dirinya,melukai egonya,dan juga mencederai hidupnya yg baginya kini adalah cacat seumur hidupnya.
Nana yg menangis sedikit di sudut matanya, ia sudah tidak ingin membahas ini lagi,karna ia tau akan semakin melukai hati darwin yg masih blm bisa berdamai dengan masa lalunya.
tanpa di sadari,malika menutup pelan pintu kamar yg tadi hampir ia ingin buka karna ia terbangun dari tidur sebentarnya,ia mendengar semua percakapan nana dan darwin,tubuhnya gemetar menahan sakit pada hatinya mendengar pernyataan darwin yg tak ingin memiliki anak,di tambah lagi dengan alasan darwin yg sangat menyayat hatinya, "buat darwin memberikan keturunan darahku,aku sudah tidak berharap banyak pada bocah keras kepala itu,setidaknya dia harus memberikan aku sesuatu sebagai balasan dia hidup dengan darah prasetya." masih jelas malika mengingat ucapan tuan darius kala itu,ia hampir putus asa dan menyerah jika darwin benar2 tidak ingin menyentuhnya,tapi...lain ceritanya saat kini perasaannya bukan hanya miliknya seorang, ia harus bicarakan semua jika darwin tak ingin memiliki keturunan apa yg harus ia lakukan,bagaimana ini? malika berfikir keras,mau dibawa kemana masa depan pernikahannya tanpa anak?.
*****
"sayang...". panggilan malika yg tengah berbaring di atas tempat tidur membuat darwin menoleh kearah istrinya,ia bru saja selesai mandi dan berganti baju,darwin menghampiri istrinya dengan senyuman lembut di bibirnya.
"apa aku membangunkanmu?". tukas darwin sambil mengusap kepala istrinya,ia ikut berbaring di sebelahnya.
"tidak,aku mendengar bunyi air, jadi memang aku yg ingin bangun,maaf tidak menunggumu,apa nana sudah pulang?". malika menggeser tubuhnya menempel pada tubuh suaminya,ia ingin memeluk tubuh wangi darwin.
"benar,harusnya nana tinggal semalam saja,ini kan sudah lumayan malam untuk perempuan keluar sendirian,eh tapi kenapa kau tidak mengantarnya sayang." malika menepuk pelan dada suaminya,darwin malah meraih tangan itu dan menggenggamnya erat.
"nana selalu bawa mobil,dia wanita hebat,hanya gelap malam saja dia tidak akan takut."
padahal aku yakin alasan kau tak ingin mengantarnya karna dia pulang kerumah kakekmukan?. batin malika,ia menghela nafas panjang dan membenamkan wajahnya ke dada suaminya yg malam ini terasa menyegarkan,atau mungkin itu efek dari sabun mandi.
"apa nana bercerita tentangku padamu?".
tembak darwin,membuat malika sedikit terkejut,ia mendongak menatap wajah darwin yg tangannya masih mengelus2 rambutnya,airmukanya tak berubah,hanya nada suaranya saja yg sedikit acuh namun menginginkan jawaban dari malika.
"hemm,apa kau marah kalau aku tahu tentang masa lalumu?nana tak bercerita banyak,hanya saja dia menarik garis besar cerita masa lalumu yg membuat aku...". malika terdiam,ia sedang menimbang2 apa ia harus mengatakannya atau tidak kalimat kata2 selanjutnya pada darwin yg mungkin akan tersinggung.
__ADS_1
"apa?kau mau bilang kalau kau mengasihaniku?heuh..jangan sepercaya diri itu,hidupmu lebih menyedihkan daripada aku."tukas darwin dengan menarik sudut bibirnya ke atas,menatap malika yg berkernyit sok polos.
"kenapa aku lebih menyedihkan?."
"bagaimana tidak menyedihkan,kau bahkan dipukuli oleh kakak tirimu,aku bersumpah akan memukulnya jika dipertemukan olehnya."
"kalau begitu aku berdoa semoga kalian tidak saling bertemu sampai kapanpun,sudah ku bilangkan aku tidak ingin kau terluka oleh kakakku."
"heuh,kau masih saja takut dengannya,sekarang ada aku yg akan melindungimu sampai kapanpun,jadi jangan harap aku tak melukai dia jika dia berani mengganggumu."
"sudahlah,lagipula aku lebih beruntung darimu,setidaknya aku masih punya ibu yg mencintaiku."malika mengusap dada darwin,ia menyalurkan kesedihannya pada suaminya yg mungkin saat ini bisa merasakan maksud dari kata2nya.
"kau benar,setidaknya ada orang yg menggenggam tanganmu di masa2 sulitmu."mata darwin beralih menyusuri langit2 kamar,ia tak ingin berkaca2 didepan istrinya,
"sayang...berjanjilah,sesulit apapun kita nanti,jangan berfikir untuk melompat gedung lagi."malika menyindir dengan nada yg ringan,ia tak ingin obrolannya menjadi beban untuk suaminya itu.
"apa? nana menceritakan bagian itu juga?cih..padahal aku paling tidak ingin membahas yg satu itu."
"kau tau,aku juga pernah berfikiran hal yg sama,saat aku merasa bang arya selalu menekanku,dan ibu terlihat menderita karnanya,aku juga ingin melakukan yg seperti kau lakukan,aku merasa tidak sanggup di tinggal sendirian,tapi aku tidak cukup berani untuk sekedar mengiris tangan atau melompat gedung sepertimu, membayangkannya saja aku gemetaran." malika bergidik mengeratkan pelukannya di dada darwin,ia menguyel2 wajahnya di sana.
"baiklah...mari kita saling mengasihani satu sama lain,setelahnya jangn berfikir untuk melakukan itu lagi,lagi pula aku benci membahas masa lalu,seperti membuka aib saja." kini tangan itu saling memeluk erat,di bawah selimut mereka merapatkan tubuh masing2 untuk saling menghangatkan,malika dan darwin memejamkan mata,membiarkan mimpi menguasai mereka malam ini.
**bersambung.....
epilog*
sore yang hampir gelap itu memburamkan pandangan darwin yg masih duduk di atas kusen jendela kelasnya,ia menikmati semilir angin yg menampar2 kulit wajahnya,teman2nya sebagian telah pulang kerumah masing2,hanya dia yg tak ingin pulang,baginya rumah besar itu bukanlah rumah,melainkan tempat pemakaman untuknya,entahlah,ia hanya merasa asing berada di sana.
dari jauh ia melihat nana berjalan melewati lapangan besar di halaman sekolahnya,entah apa yg ada di fikirannya,saat itu ia hanya melihat tanah di bawah kakinya terlihat pendek dan dalam sekali lompat ia pasti bisa menghampiri nana tanpa memutar lewat tangga,lalu saat ia sudah siap,suara di bawah kakinya mengagetkannya.
__ADS_1
"kalo loe lompat tapi gak langsung mati biar gue yg lempar loe dari atas sana."
dan "brugh*". darwin hilang keseimbangan, ia jatuh tepat menimpa seseorang berbadan besar disana,meski kepalanya sedikit terbentur dan mengeluarkan darah, ia tersenyum saat nana berlari menghampirinya.