Cinta Yang Tersisa

Cinta Yang Tersisa
perdebatan pagi


__ADS_3

pekul 09.00 pagi,nana baru saja beres menyiapkan sarapan,malika membantu sedikit di dapur meski hanya potong2 sayur atau sekedar mencuci buah,setelah yakin semua sudah rapih dan sudah tidak ada lagi yg di kerjakan, nana pamit untuk pulang.


"apa nana tidak ikut makan dengan kami?". tukas malika,nana memegang punggung tangannya dan mengelus2nya.


"tidak nona,ketua sedang tidak enak badan,aku harus segera pulang."


"apa ketua baik2 saja? sudah lama beliau tidak menelfon saya."


"ketua baik,meski harus beberapa kali minum obat,nona...saya mohon jaga tuan muda dengan baik,saya tidak bisa berjanji untuk sering kesini karena harus mengurus ketua."


"tidak apa2 nana,semoga ketua tetap baik2 saja dan berumur panjang,beliau orang yg sudah menolong saya,mungkin seharusnya saya dan darwin datang menengok beliau."


sebenarnya ada binar di mata nana jika malika benar2 melakukan itu,tapi ia tau darwin tidak akan pernah mau menginjakan kakinya lagi di rumah itu,terakhir kali ia bahkan harus di seret oleh ben untuk menemui kakeknya.


"nona,apa mungkin tuan muda mau melakukan itu,jika saja itu terjadi mungkin bisa jadi pengobat atas sakitnya ketua."


malika menatap nana sama sedihnya,sebenarnya ia juga takut bertemu kakek,di tambah lagi keinginan kakek untuk mempunyai keturunan dari darwin masih di angan2,hubunganya dengan darwin sedang baik,pembahsan masalah anak tidak berani ia singgung lantaran ia tahu bagaimana ketakutan darwin tentang hal itu, masih jadi misteri dan hal yg sensitif untuk membahasnya,tapi...sampai kapan ini akan di simpan tak di bicarakan,malika juga bingung dibuatnya.


"nana,aku tidak bisa berjanji,tapi akan aku coba,semoga darwin mau mengerti."


malika mengeratkan genggaman tangannya,mencoba menguatkan hati nana dengan harapan yg ia sendiri masih tak berani berharap pada pengharapannya, mereka sama2 berharap semoga darwin dan kakek bisa bertemu tanpa saling memutus hubungan darah pada tubuh mereka.


akhirnya nana pulang dengan perasaan yg mungkin sangat penuh angan2nya tentang kakek dan cucuk itu,baginya,tak ada lagi yg dia miliki selain dua orang itu,selain mereka yg tidak dapat disatukan dengan jangka waktu yg sudah cukup lama,nana hanya berharap darwin mau berdamai dengan masa lalunya yg kelam.


sedangkan malika masuk kembali kedalam kamar,melihat darwin yg masih tertidur di balik selimutnya.


"sayang,ayo bangun."


malika mengusap punggung darwin,laki2 itu menggeliat beberapa kali menguap sebelum akhirnya ia membuka matanya,malika menyodorkan segelas air putih yg selalu tersedia di atas nakas,darwin meminumnya sampai habis,kini ia benar2 tersadar dari tidurnya,ia tatap istrinya dengan senyum di wajah bantalnya.


"jam berapa ini?."tukas darwin


"jam 9 lewat,ayo bangun,nana sudah membuat sarapan."


"apa nana masih disini?".


"tidak,nana bilang harus segera pulang karena...". malika menimbang2 apakah ia boleh menyebut kata kakek di hadapan suaminya.


"karena apa?".


"karena kakek sakit."ragu malika menatap suaminya,ia bisa melihat segaris senyum sinis dan acuh tertarik di bibir darwin.


"sini naik."darwin menarik tangan malika untuk naik kembali ke atas tempat tidur di sampingnya,malika hanya manut meski ia sedikit takut jika sudah membahas kakek.

__ADS_1


darwin memeluk istrinya erat,ia malah mengendus2 tengkuk malika yg tentu saja jadi sedikit geli,malika meninggikan pundaknya berharap darwin menghentikan perbuatannya.


apa perasaannya sedang baik? apa tidak apa2 kalau aku membahas kakek,tidak apa2 kan?toh aku hanya bertanya nanti.


"sayang,apa sebaiknya kita kerumah besar untuk berkunjung?sudah lama juga aku tidak kesana." benar malika mengingat2 terakhir ia di sana untuk di paksa menikah dengan darwin,tapi laki2 di balik punggungnya tak bereaksi apa2,masih tetap menciumi di bagian yg sama,akhirnya malika berbalik menghadap wajah darwin, seketikat bibir itu di kecup darwin lembut,entah kenapa wangi tubuh malika membuatnya candu,membuatnya tak ingin melepas pelukannya meski sedetik saja.


"sayang...".malika mendorong dada darwin pelan untuk menghentikan tingkah suaminya,tapi lagi2 darwin menghujani ciuman di wajah malika,ia mencium pipi,telinga,kening,dagu,mata kiri dan kanan,lalu mendarat di leher putih milik malika,ia melakukannya lama disana, menelusuri setiap sudut yg ada disana, hembusan nafasnya membuat malika meringkuk kegelian,ia meraih wajah darwin dengan sebelah tangannya,lalu mengusap2 pipi suaminya dengan lembut,senyum di bibirnya merekah yg di tatap darwin sebagai undangan untuk melakukan lebih pada tubuhnya.


"aku ingin memakanmu."darwin sudah menindih tubuh malika,tangannya sudah menarik setiap yg di gapai di tubuh istrinya,malika menggeliat,sebenarnya ia ingin menolak karena setiap malam darwin sudah sering mengerjainya,tapi lagi2 tubuhnya tidak merespon seperti fikirannya, atas perlakuan darwin pada tubuhnya ia seakan pasrah di perlakukan apa saja pada suaminya.


"tapi sayang...aku kan sedang bicara soal kunjungan kerumah besar."


"apa yg mau kau lakukan disana?". masih menggrayangi tubuh istrinya dan mencium disana sini.


"nana bilang kakek sakit,jadi apa sebaiknya kita menjenguknya."


"aku tidak mau".


"sayang,bukankah karena kakek juga kita bertemu,dan aku tidak menyesali masa lalu pertemuan kita,cobalah sedikit saja membuka hati untuk kakek."malika menyentuh dada darwin dan mengusap2nya pelan berharap hati itu bisa hangat dan sedikit menerima.


tapi bukan kehangatan hati darwin yg malika terima,ia malah melihat wajah darwin yg berubah dingin,seketika suaminya itu menghentikan segala aktifitas tangannya,ia membalikan badannya,hanya tertidur berbaring terlentang menatap langit2 kamarnya,nafasnya berhembus kesal,malika sedikit pias,kalau sudah di respon begitu pasti akan ada badai kecil yg akan menyerang dirinya,dengan takut malika melirik wajah suaminya yg terasa berubah,seperti ada kabut hitam disekitaran wajahnya yg dingin itu.


"apa aku kurang jelas mengatakan, kalau aku sama sekali tak ingin membahas masalah orang tua itu."suara darwin berat, seram sekali ia bicara tapi tidak menatap wajah istrinya.


darwin bergerak berdiri,suasana hatinya jadi kacau,seketika seleranya hilang seketika pada malika,ia menatap wajah istrinya sebentar,lalu hendak pergi meninggalkannya kekamar mandi sebelum langkahnya terhenti mendengar kata2 yg keluar dari mulut istrinya.


"apa kau tetpaksa menerimaku?atau kau terpaksa mencintaiku hanya karna aku di paksa menjadi istrimu?".tukas malika dari balik wajah yg tertunduk,ia meremas2 jarinya,mencoba memberi keberanian pada dirinya sendiri.


"apa yg kau katakan?."darwin menoleh menatap tajam pada istrinya yg terlihat semakin kecil saat tertunduk dan berrsimpuh disana.


"cukup jadi istriku saja, itu kan yg ada di fikaranmu,aku hanya menjadi teman tidurmu,bicara hanya yg ingin kau dengar,kau hanya ingin aku bersikap manis padamu tanpa membiarkan aku tau tentang dirimu lebih dalam."malika mendongak memberanikan diri menatap mata suaminya, darwin tersenyum smirk,senyuman jahat yg sudah lama tak terlihat di wajahnya.


"apa kau sedang menjawabku sekarang?."


"aku sedang bicara padamu,kau seperti memberi jarak padaku,kau tak membiarkan aku tahu tentang semua perasaanmu, kau akan selalu bilang kau baik2 saja padahal kau sedang tidak baik2 saja,aku hanya tau dirimu dari cerita nana atau temanmu,kau tidak menunjukan perasaanmu padaku di saat2 tertentu,kenapa? itu karna kau hanya menganggapku istri,bukan oarng yg akan menyelesaikan masalahmu atau tempat ternyaman untuk kau berbagi keresahanmu."bahkan kau bicara tidak ingin punya anak hanya pada nana,kau tidak berkompromi padaku,tidak bilang kesakitanmu padaku,jika aku tidak menguping waktu itu mungkin aku tidak akan pernah tau semenderita apa dirimu.


suara dalam hati malika membuat matanya menahan genangan air mata yg hampir jatuh,tapi ia sudah terlanjur protes di hadapan suaminya,tubuhnya bergetar saat darwin mendekat ketubuhnya,meraih sebelah bahunya dan mencengkramnya kuat2 disana.


"jangan mengajariku bagaimana aku bicara padamu,aku tidak akan bisa bicara apapun padamu jika kau terus mencari kelemahanku,kau fikir aku akan menunjukan apa padamu?apa yg kau harapkan?melihat aku menangisi kepahitan hidupku?heuh...bahkan di depan aldo dan ben aku tidak pernah menunjukannya."


"kenapa kau tak ingin menunjukannya? tunjukan padaku?aku ingin kau menunjukannya hanya padaku." malika menggenggam tangan yg tertempel di bahunya.


"karena aku tidak ingin kau mengasihaniku, aku tidak butuh itu,mendapatkan cinta darimu saja sudah cukup untukku,karna aku tidak bisa mendapatkan itu di keluargaku, jika kau bertanya apa aku mencintaimu? benar aku mencintaimu karna perjalanan kita menjadi suami istri yg berbeda dari orang normal biasanya,tapi...aku tidak akan bisa berbagi kesulitan padamu,tidak akan membagi sedihku padamu karna aku tau dan kau juga pasti tau rasanya,sangat menyakitkan mendapatkan itu."

__ADS_1


"tapi kita berdua sekarang,berbagi semunya tak masalah buatku,kau bisa bilang apa saja padaku,kita bisa saling menguatkan."


darwin menatap malika lekat,masih banyak yg ingin ia hindari dari gadis di depannya ini,benar ia tidak ingin melihat istrinya menangisi kemalangannya,benar juga ia tidak bisa mengungkapkan seluruh perasaanya,ia hanya ingin tertawa bersama malika selayaknya pasangan yg bahagia,separuh hatinya masih menyimpan cerita hitam tentang dirinya yg tak di inginkan,betapa menyakitkannya menjadi orang yg tak di harapkan,bahkan ia sendiri tidak tahu cinta yg bagaimana yg semestinya ada dalam dirinya,karna seingat dia,ia tak pernah mendapatkan itu dari keluarganya .


"beri aku waktu,biarkan aku berfikir,mungkin nanti aku bisa mengerti dan mau berbagi semua hal padamu,saat ini,aku hanya merasa sudah cukup puas dengan keberadaanmu di sisiku." darwin memeluk kepala malika dalam dadanya,dagunya menempel di puncak kepala istrinya ia menciuminya dengan sayang,kehangatannya kembali datang,mata berkabutnya berangsur pergi,ia mencoba bernafas perlahan dalam fikirannya yg kacau,hatinya masih sakit jika mengingat penolakan kakeknya,tapi,benar kata malika,karna kakeknyalah ia bisa menemukan malika yg kini sangat berharga untuk hidupnya.


**bersambung....


epilog**


nana mengetuk pintu kamar yg biasa dia datangi setiap saat,di tangannya sebuah baki berisi segelas air putih dan beberapa jenis obat yg di letakkan di piring kecil, setelah masuk di dalam kamar itu terdapat tuan besarnya yg tengah bersandar di bantalan besara dia tas kasurnya,tangannya mengecek ponsel,ia tersenyum saat nana mendekat kearahnya dan menyodorkan nampan yg di bawanya tadi.


"apa mereka baik2 saja?".


tukasnya,dan nana tau arah kalimat pertanyaan itu.


"hem,mereka baik2 saja."


"apa sudah ada tanda2 wanita itu hamil?".


"belum".


segaris smirk muncul di bibirnya,nana memukul lengan lelaki tua itu pelan.


"apa yg kau tertawakan dengan senyum jahatmu itu?biarkan saja mereka,sekarang focus saja dengan kesembuhanmu sendiri."


"undang mereka datang kesini untuk makan malam."perintahnya


"tuan muda tidak akan mau datang."


nana membenarkan selimut di kaki tuannya yg tua itu.


"kalau begitu biarkan istrinya saja yg datang, bocah keras kepala itu akan menyusul istrinya jika dia tahu kita memaksanya datang."


"jangan melakukan yg aneh2."


"siapa yg aneh2,aku hanya menyuruhnya makan di rmahnya."


"tapi kau akan memaksanya dan memlototinya, mengintimidasinya,lalu mengancamnya bukan?."


"kalau cara itu berhasil aku tidak masalah melakukannya."


nana memukul lagi kali ini agak keras dan sedikit membuat tuan darius meringis.

__ADS_1


"dasar kau kakek2 tua yg kejam".


__ADS_2