
terkadang kita harus menangis untuk menyegarkan fikiran dan diri kita, menghadapi kenyataan dan menerima kekalahan bukanlah suatu hal yg buruk, dalam hidup memang seperti itu, biarkan masa pahit hidupmu menyiksamu sampai ke sumsum tulangmu, lalu setelahnya kau harus bangkit,perjalanan singkat hidupmu terlalu berharga hanya untuk meratapi kekalahan,tidak apa-apa, menangislah,manusia hidup harus mengeluarkan air mata.
nana masih berada dalam kamar tamu,di atas tempat tidur itu terbaring malika yg meringkuk memeluk perutnya sendiri,ia tertidur seperti bayi setelah menangis habis2an,bahkan nana tak bisa membujuknya untuk menyuap makanan barang sedikit saja.
"sabarlah nona,semua akan baik2 saja." tukas nana pelan sambil menepuk2 punggung malika hangat,pandangan nana menatap jendela yg telah terang oleh matahari pagi menelusup kecelah2 jendela yg masih bertirai kain tipis,lihatlah,esok hari telah datang,kita telah melewati satu hari yg mungkin sulit bagi beberapa orang,nana bergumam dalam batin.
di ruangan lain, kakek dan darwi saling berhadapan layaknya musuh tanpa hijab, mereka saling mengeraskan kepala dan berdebat tanpa titik temu untuk sepakat,di tangan kakek tongkat hitam miliknya tergenggam erat,seperti siap jika sewaktu2 diperlukan untuk memukul atau menyabet kaki berandalan kecilnya.
"sudah pulang sana,aku tidak akan mempertemukan dia denganmu sebelum kau mau sepakat dengan syaratku."
kakek mengibas2kan tangannya mengusir darwin di hadapannya.
"dia istriku kek,aku lebih berhak atas tubuhnya dan segala kehidupannya sekarang, sudah kakek tinggal saja dengan nana,kalian kan sudah menghabiskan waktu cukup lama, kenapa kalian tidak menikah saja sih,kalau tidak ada pembantu2 disini mungkin kalian sudah di grebek sama pak RT karna ketahuan kumpul kebo."
darwin protes tanpa tedeng aling2,membuat kakeknya membelalak dan benar saja ia ingin melempar tongkat ditangannya agar wajah anak bermulut besar itu merasakan memar yg amat perih nantinya.
"jaga omonganmu ya,kau fikir hubungnku dengan nana apa? dia tidak bisa di bandingkan dengan wanita manapun."
"termasuk nenek?." darwin meledek
"mereka sama,derajat mereka lebih tinggi dari sekedar menjadi istri dan temanku."
"cih,perumpamaan sulit apa sih yg kakek buat,aku benar2 tidak bisa menalarnya, aahh sudahlah,ayo cepat kembalikan istriku kek."
"pergi sana, dia akan tetap disini sampai kau mau menerima syaratku."
"aku tidak bisa tinggal disini kek,aku sudah investasi akan membuat rumah untuk malika sebagai hadiah pernikahan kami,kalau aku tinggal disini kakek akan mengatur2ku dan anakku nanti."
__ADS_1
"ya sudah sana pergi,biarkan istrimu tinggal disini samapai dia melahirkan,nana dan para pembantu disini akan menjaganya dengan baik,setelah cicitku lahir kalian boleh pergi hidup bahagia di luaran sana asal jangan bawa cicitku,dia akan menjadi penerusku."
"enak saja,dia kan anakku."
"kaukan tidak mau punya anak,dari awal kau sudah tidak mau memilikinya,jadi biar dia bersamaku,aku akan membesarkan tubuh dan namanya."
"apa kakek juga akan menyuruh dia membenci ayahnya sepertiku?."
"itu tergantung kelakuanmu."
"ya ampun kakek,aku kan sudah minta maaf, aku sudah sepakat akan meneruskan bisnis kakek,aku akan memegang perusahaan kakek,tapi untuk tinggal disini aku tidak setuju karna aku ingin tidak ada yg mengganggu hubungan ku dengan malika,kalau disini terlalu ramai,aku tidak suka banyak orang keluar masuk disini,para puluhan pembantu,ada ben juga,nana,belum lagi tamu2 pembisnis kakek yg hampir setiap hari datang."
"tinggal saja sana di pemakaman."
"iya aku akan kesana untuk memesankan tempat buat kakek." hahaha darwin terkekeh.
"kakek aku mohon lepaskan istriku dia pasti sangat merindukanku saat ini."
"tidak,pergi sana."
"kakeekkk...".
bocah besar itu merajuk,darwin menghentak2kan kakinya karna kesal kakeknya keras kepala,memaksanya untuk tinggal di rumah utama bukan ide bagus untuknya,kakeknya akan menguasainya dan anaknya nanti,darwin masih belum ikhlas untuk itu,ia ingin damai bersama malika dan anaknya dirumah miliknya sendiri.
*****
malika menangis lagi,ia menitikkan air matanya di depan nampan berisi makanan yg nana antarkan untuknya,ia sedang hamil,ia harus banyak makan,tapi di hatinya yg sakit saat ini ia ingin menangisi kerinduannya pada darwin, tubuhnya lemah tapi entah kenapa air matanya masih terus mengalir jika fikirannya mengingat darwin,nana duduk di sebelahnya,tepat di sisi tempat tidur nana menggenggam tangan yg lemah itu.
__ADS_1
"berhenti menangis nona,ayo makan,tuan darwin akan sedih jika melihat nona seperti ini."
tukas nana,entah sudah yg keberapa kali ia menasehati gadis malang ini.
"hiks..hiks..nana,aku merindukannya."
"iya,saya tau nona."
"aku ingin bertemu dengannya."
"ketua belum mengizinkan,nona kita harus membuat tuan darwin dan ketua mencapai kesepakatan,kalau tidak kalian akan hidup dengan tidak nyaman lagi,ini demi si calon bayik di perut nona."
"apa kakek tidak merasa kasihan,inikan calon cicitnya."
nana menarik nafas dalam,ia mencoba memberikan pengertian pada gadis yg mungkin sangat diharapkan kehadirannya oleh tuan mudanya.
"nona,anda hanya merasa kasihan pada tuan muda tapi tidak memikirkan dari sudut pandang ketua,tidakkah kalian merasa kalau ketua sangat kesepian,dia hanya ingin rumahnya ramai dengan tawa keluarganya,tapi selama ini ia menahannya karna ia tak ingin memaksa tuan muda agar menerimanya,nona bayangkan,ketua banyak di tinggalkan,oleh istri tercintanya,oleh anak2nya,lalu kenyataan pahitnya oleh cucuknya,selama ini ia tinggal sendiri,kesepian dan memendam rindu pada tuan muda satu2nya harapan dari penerus darahnya,ia rela menjadi orang yg disalahkan atas apa yg menimpa tuan muda, sekarang ia telah renta,tidak bisakah kalian memikirkan sisa2 hidupnya,mengabulkan segala keinginannya yg mungkin saja menjadi keinginan terakhirnya."
ada butiran bening yg hanyut di sudut mata nana,tangannya bergetar saat menggenggam tangan malika erat, wajah malika berubah semakin pias,apa yg ia lakukan?ke egoisannya benar2 membuat kakek dan nana terluka,dengan cepat,malika menggenggam tangan nana dengan jemari tangan yg satunya,ia memeluk nana erat.
"maafkan aku nana,aku yg tidak tahu apa2 ini malah ikut membuat suasana menjadi tambah genting,maafkan aku,aku bersalah."
"tidak nona,kita semua bersalah,kita semua juga benar,jadi ayo kita tunggu dan bertahanlah sedikit lagi." nana mengusap air matanya,ia mengusap2 punggung malika dengan lembuat,meski tangisan haru belum mereda dalam hati,duan wanita beda generasi itu saling menguatkan satu sama lain.
bersambung.....
happy reading🥰
__ADS_1