Cinta Yang Tersisa

Cinta Yang Tersisa
undangan kakek


__ADS_3

waktu beranjak cepat,darwin masih berkutat pada pekerjaannya sampai jam menunjukan pukul 18.00,fikirannya sedang kacau,belum lagi perdebatannya tadi pagi dengan malika membuat konsentrasinya sedikit buyar karna fikiran2 yg banyak mengganggunya.


aldo dan wulan tengah merevisi beberapa berkas,mereka masih berada di ruangan yg sama dengan darwin,beberapa panggilan telfon membuat wulan terlihat sibuk,dan aldo yg mondar mandir mengecek ponsel dan berkas secara bergantian,tapi darwin... ia seakan lupa sedang berada dimana,sejak tadi matanya menatap berkas tapi tidak dengan fikirannya,wajah sedih malika dan air mata yg menganak sungai di mata bulat itu terus menghantui darwin sejak ia duduk di kursi kebesarannya,entah perasaan apa ini,yg jelas ia merasa gelisah sejak berangkat kerja meninggalkan malika pagi tadi.


di apartement milik darwin,ben sedang berdiri menatap malika yg berwajah pias,ia tau wanita itu takut sejak tadi kedatangannya,tapi ia tidak bisa menjelaskan ditail alasannya menjemput malika saat ini,ia hanya menerima perintah dari tuan besarnya,pergi menjemput nona mudanya dan bawa kerumah besar.


mungkin ia akan di maki lagi oleh darwin sebagai pengkhianat,fikirnya.


"apa darwin juga akan datang?." malika memberanikan diri bertanya,walaupun ia ragu akan di jawab oleh ben atau tidak,karna ia tau,ben pasti sudah menyangka kalau ia sudah tau jawabannya.


"tuan muda juga di undang nona,tapi saya tidak yakin dia mau menerimanya." ben menjawab sewajarnya,ia tidak ingin memberi harapan pada malika.


"apa di sana nanti aku akan makan malam bersama keluarga yg lainnya?maksudku tidak hanya aku dan ketua? disana akan ada bibi,paman atau siapapun keluarga yg lainnya,iya kan?ini kan undangan keluarga besar kan?."


"tidak nona,hanya anda dan ketua."


"kenapa?."


"karna ini undangan makan malam biasa saja,hanya anda dan ketua."


"iya tapi kenapa hanya aku dan ketua,jelaskan yg lebih ditail,sekertaris ben anda kan tau kalau saya sangat takut berhadap2n dengan ketua,bagaimana kalau nanti saya tidak bisa berkata2 di depan ketua."


"kalau begitu anda cukup diam dan bilang baik saja setiap ketua mengatakan sesuatu nona." ben melihat jam di tangannya,ia merasa sudah saatnya ia membawa nona mudanya. "mari nona,silahkan ambil tas anda dan kita segera ke mobil untuk bergegas."


"tunggu,ap..apa..aku boleh menelfon darwin dulu,aku harus meminta izin suamiku dulukan jika mau keluar apartement." malika meraih hp di atas meja, tapi dengan cepat ben duluan mengambil benda itu,membuat malika terkejut dan panik.


"maaf nona,ketua bilang anda tidak di izinkan menghubungi siapapun termasuk suami anda,ponsel anda sementara saya yg akan menyimpannya,sebaiknya kita segera pergi nona,ketua sangat tidak suka menunggu."


apa aku sedang di culik?kenapa sepertinya aku sedang berada dalam ancaman. malika tak merespon,ia terpaku saking terkejutnya atas tindakan ben barusan yg meraih hpnya dengan cepat,dan saat ia tersadar kembali,ben sudah meraih tasnya yg ada di sofa.


"biar aku yg bawa,ini tasku."tangan malika merampas dengan kesal dan gemetar,ben hanya mengangguk,lalu menyuruh malika keluar duluan sebelum akhirnya mereka berjalan menuju parkiran mobil.


__________***


di kantor,tepat pukul 20.00


"pak darwin,ada telfon,dia bilang mengundang bapak untuk kerumah besar sekarang." wulan memberi informasi yg langsung membuat aldo dan darwin menghentikan aktifitasnya di meja masing2, aldo menatap raut wajah darwin yg sejak tadi terlihat lelah dengan berkas menumpuk kini bertambah gurat kesal yg membuatnya melempar pulpen di tangannya.

__ADS_1


"untuk apa aku kesana?."tukas darwin, wulan sampai gugup di tatap sinis begitu.


"eumm...saya tidak tau pak,yg menelfon hanya bilang undangan mkan malam biasa,sepertinya undangan makan malam keluarga."


"bilang padanya aku tak akan datang." darwin meraih pena yg tadi di lemparnya, wulan mengangguk akan melaksanakan perintah,namun sebelum wulan kembali menelfon,ponsel darwin berdering,membuat semua mata termasuk aldo menatap kearah meja darwin,nama ben muncul di layar ponsel itu."klik" darwin mengangkatnya.


"datanglah,istrimu disini sekarang." kata2 ben yg duluan terdengar sebelum sapaan darwin di seberang sana,seketika wajah darwin berubah,tangannya mengepal hungga memutih,laki2 itu menahan kesal.


"dasar pengkhianat."maki darwin,ia melempar ponselnya sampai terbentur di kaki aldo,wulan dan aldo terkejut dan berdiri berbarengan dari duduk mereka,seketika panik melihat boss mereka tiba2 menggila meraih jass yg tergantung di bahu kursinya dengan wajah marah dan tangan terkepal keras.


"ada apa win?loe mau kemana?." tanya aldo,ia refleks mengikuti langkah darwin yg berjalan cepat keluar pintu kantornya.


"sudahi pekerjaan hari ini,lanjutkan besok, suruh mereka semua pulang."perintah darwin,ia di depan lif sekarang.


"tapi...loe mau kemana?".


aldo masih terlihat bingung dan khawatir


"gua harus terima undangan kakek, dan gue harus menghajar ben karna udah berani menculik istri gua sampai kesana." tangan darwin memukul pintu lif yg belum juga terbuka,aldo mengerti sekarang,ia menepuk pundak darwin dam meremasnya pelan,mencoba menyadarkan sahabatnya yg mungkin menggila disana.


"tenangin fikiran loe dulu win,siapa tau kakak ipar memang cuma di undang makan malam saja."tukas aldo


yaelah,sensitif amat sih pake sadar gue manggil bininya kakak ipar,padahal lagi marah2 juga.aldo bersungut2 dalam hati


"iya2 makanya gua bilang elo berfikir yg jernih dulu jangan marah2 dulu,takutnya disana kak..maksud gue istri loe cuma beneran makan malam doank."


"kakek gue gak akan melakukan itu hanya untuk sekedar makan malam,dia pasti punya maksud,saat dia gak bisa meraih gue,dia akan pakai malika untuk senjatanya, ah brengsek...pantesan dari tadi perasaan gue udah gak enak ninggalin dia sendirian di apartement." darwin kembali kesal,lif terbuka,buru2 ia masuk dan meninggalkan aldo yg membuang nafasnya lelah,ia harus segera masuk lagi ke ruangan darwin membereskan semua yg tertinggal disana.


***


malika sedang berwajah pias,ia seperti kehabisan tenaga saat memegang pisau dan garpu di tangannya,di depannya piring berisikan potongan daging yg sangat menggoda tidak dapat membangkitkan selera malika yg terpaku duduk disana. walau nampak tenang,tak bisa di pungkiri kalau tubuh kecilnya yg mungil sedikit bergetar menahan takut,karna menyadari,orang tua yg di panggilnya kakek itu sedang berada di ujung kursi sana,mereka hanya di batasi oleh meja makan yg panjang,di tengah2 meja itu,lilin cantik menyala bersama dengan buah2n segar mendominasi warna pada meja tersebut.


"makanlah...setelah itu kau boleh pergi dengannya." sang kakek mengelap mulutnya dengan sapu tangan yg tersedia di meja dekatnya,ia lalu pergi menaiki anak tangga yg mengantarkannya ke lantai atas dimana kamarnya berada,wajahnya yg dingin dan langkahnya yg tegak meski telah berumur,sang kakek tak nampak lemahnya orang sakit,dia terlihat gagah meski keriput tak menyamarkan waktu yg banyak telah ia lewati,auranya tetap sama seperti dulu,saat ia masih muda dan banyak gairah untuk melawan apa saja yg menghalanginya.


nana menghampiri malika yg masih lemas di kursi makannya,ia memberikan malika juss melon yg dingin,lalu nana menarik kursi untuk duduk di dekat malika yg tersadar dan kini menangis di pelukannya,tangan nana terangkat dan mengelus rambut malika penuh sayang,ia tau gadis itu pasti ketakutan sekali setelah melewati makan malam yg tak pernah ia bayangkan sekalipun,entah apa yg mereka bicarakan,tapi nana tau,ketua pasti sangat mengintimidasi malika sampai2 tubuh kecil gadis ini trguncang di dekapannya.


"tidak apa2 nona,jangan menangis,semua akan baik2 saja pada waktunya." nana berusaha menguatkan,tapi malika semakin menangis menyembunyikan kepalanya di bahu nana,ada getir yg tersirat di wajah nana,ia merasa kesal sekali dengan ketua yg membuat malika ketakutan begini,untung saja darwin tidak bersamanya,jika darwin sampai melihat ini mungkin.....

__ADS_1


"kenapa kau menangis." suara itu menggema di sudut2 ruangan,nana dan malika tersentak kaget,darwin datang dari arah pintu masuk,buru2 malika mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya,nana berdiri ingin mendekat ke arah darwin datang.


"tuan muda..". langkah nana terhenti saat darwin menatapnya dengan sangat marah, seolah tatapan itu adalah busur panah yg menusuk ke dadanya mengisyaratkan ketidak sukaannya atas perlakuannya saat ini.


"apa nana tidak menjaganya selama dia di bawa kesini? apa nana tidak mencegahnya saat orang tua itu mungkin mengancamnya? aku sangat kecewa nana ,jangan datang lagi ke tempatku karna aku akan membawanya pergi." darwin melangkah lagi,menghampiri malika yg kini terperanjat berdiri dari duduknya ia melihat nana yg tertunduk sedih.


"sayang,nana menjagaku sejak tadi,dia malah menghiburkan di saat aku merasa ketakutan sendirian,jangan begitu pada nana,minta maaflah pada nana." ucap malika dengan cemas,tapi darwin malah mengusap sisa2 air mata yg tadi jatuh di pipinya,wajahnya terlihat sangat kesal,nafasnya memburu tak beraturan.


"kenapa kau menangis?apa yg kakek bicarakan padamu?apa dia mengancammu?katakan padaku jangan berbohong padaku." darwin setengah berteriak,membuat malika kembali bergetar takut,ia menggenggam jemari darwin,mengusap2nya mencoba membuat lelaki itu tenang menahan emosinya.


"tidak ada sayang,kakek hanya menyapaku, dia bercerita tentang sakitnya saja itu membuatku sedih dan menangis di pelukan nana,tidak ada yg serius,kami hanya makan malam." malika sudah kembali pias,darwin melirik piring makanannya yg masih utuh dan tak tersentuh sedikitpun,segaris senyum sinis dan jahat menamparnya karna ketahuan ia berbohong.


"kau fikir aku mudah di perdaya oleh kebohonganmu?sudah ku bilang jangan berbohong tapi kau tetap menyembunyikan kebenarannya hanya karna kau takut pada kakekku,kau sungguh tak takut padaku? padahal akulah suamimu?seharusnya aku yg kau takuti,bukan kakeku."


darwin berteriak seakan menggila,ia menatap malika yg tak bisa bicara karena gugup di hadapannya,lalu pandangannya mengarah ke atas tangga dimana letak kamar kakeknya,nana terlihat gusar,darwin tidak boleh menemui kakeknya jika sedang emosi begini.


"tuan muada,nona sudah sangat terguncang saat ini,lebih baik tuan membawanya pulang sekarang,pergilah saya mohon jangan ada keributan apapun disini." tukas nana khawatir


"kenapa nana? nana masih saja membela kakek padahal nana yg lebih tau posisiku disini."


"saya tidak membela siapa2 tuan saya sangat tau posisi tuan muda,untuk itu pulanglah,nanti kita bicarakan lagi jika tuan muda lebih tenang."


"biarkan aku bicara pada kakek,bukankah dia ingin bicara padaku? kenapa harus istriku yg dibuatnya menangis." darwin sudah ingin melangkah,nana menahannya tapi tak berhasil,langkah lebar darwin terhenti saat tubuh tegap tinggi menahannya di dekat anak tangga,wajah ben tepat di depan wajahnya.


"maaf tuan muda, ketua atau tuan besar sedang istirahat tak bisa di ganggu." tukasan ben kembali menyulut kemarahan darwin,tatapan darwin mnusuk tajam dengan sangat sinis.


"minggir". ucap darwin dengan sangat dingin.


"tidak bisa tuan,saya di tugaskan untuk mengawasi beliau dan menjaga istirahat beliau,saya harap anda mengerti,kembalilah lagi setelah ketua siap untuk bertemu." darwin meraih kerah baju ben,dengan sangat marah darwin sudah ingin memukul wajah ben,tapi seketika tangannya di genggam ben kuat2,di tepis dengan sangat mudah,membuat darwin mundur beberapa langakah dan akhirnya ia melepaskan cengkramannya pada ben,dan lihatlah..wajah ben hanya lurus2 saja tanpa merasa bersalah,dia benar2 menjadi sekertaris kakeknya yg patuh.


"dasar kau pengkhianat,berani2nya membawa istri orang tanpa seizin suaminya."darwin bicara dengan kesal


"maafkan saya tuan,itu perintah ketua."


ben meganggukan kepalanya pelan,lalu seketika "dugh" kakinya ditendang kuat2 oleh darwin,membuat ia sedikit kesakitan karna tulang keringnyalah yg jadi sasaran darwin,brengsek,beraninya menyerang di saat posisi gue lengah. ben memaki dalam hati,ia lirik darwin yg tersenyum sinis menangkap ia yg ketahuan meringis tadi.


"aku akan bikin perhitungan di luar jam kerjamu nanti,pengkhianat." darwin pergi, setelah mengeluarkan ancamannya,ia menarik lengan malika yg sedari tadi terheran2 memperhatikan prilaku suaminya di hadapan ben,malika hanya mengagguk pelan ke arah nana dan ben,pertanda pamitnya untuk segera pergi,lalu langkahnya terus mengikuti langkah darwin yg lebar,masih ada sisa aura kekesalan menyelimuti tubuh suaminya,dan malika hanya berani diam tak berani bersuara,bahkan bernafaspun ia berusaha tak terdengar oleh suaminya.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2